• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Ulama Fiqih

Migrasi Klan Ba’Alwi Dan Pengakuan Sebagai Keturunan Nabi

by Admin
6 September 2024
in Fiqih, KH Imaduddin al Bantani, Kisah, Kitab, Peristiwa, Pesantren, Pustaka, Sejarah, Tokoh, Ulama
18 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantanie

Diskusi Publik yang dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabian Kepada Masyarakat (LP2M) UIN Walisongo ini bertema: โ€œMigrasi, Agama, dan Peran Sosial Keagamaanย  Klan Baโ€™alwi di Indonesiaโ€. Sepertinya, penulis diundang lebih untuk membahas kaitan antara migrasi mereka dengan klaim mereka sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW. disengaja ataupun tidak, klaim sebagai keturunan Nabi itu, tentu sedikit banyak menjadi salah satu instrumen kemudahanย  mereka ketika melakukan migrasi ke kawasan-kawasan berpenduduk muslim.ย  Tesis penulis yang mengatakan bahwa Klan Baโ€™alwi terbukti bukan keturunan Nabi Muhammad SAW,ย  rupanya membuat LP2M melihatย  masalah ini laik untuk didiskusikan guna melihat adanya korelasi antara migrasi mereka ke berbagai kawasan dan penerimaan masyarakat lokal kepada mereka, dengan klaim mereka sebagai keturunan Nabi.

Dalam diskusi publik ini, rupanya Professor Sumanto al-Kurtubi lahย  yang akan membawakan materi dinamika migrasi Baโ€™alwi dan peran sosial-keagamaannya, sedangkan penulis lebih khusus akan membahas tentang postulat penulis yang telah diketahui public bahwa Klan Baโ€™alwi bukanlah keturunan Nabi Muhamad SAW.

Klan Baโ€™alwi Mengklaim Keturunan Nabi Muhammad SAW Sejak di Hadramaut

Identitas individu yang memiliki ketersambungan genealogi dengan Nabi Muhammad SAW, menjadi daya tarik tersendiri dalam kehidupan keagamaan umat Islam. Ia terkait dengan sebagian tafsir keagamaan  yang muncul khususnya dari sekte Syiโ€™ah tentang โ€œorang-orang suciโ€ (para imam) dari keturunan Nabi yang disebut  sebagai pewaris kekhalifahan yang sah sepeninggal Nabi. Proposisi yang mirip dengan tafsir keagamaan di atas namun dilatarbelakangi reason teologis yang berbeda terdapat dalam faham keagamaan  mayoritas  madzhab sufi dalam tradisi Ahlusunnah Wal jamaโ€™ah yaitu:  kewajiban mencintai Ahlu bait al Nabiy (Ali, Fatimah, Hasan dan Husain) dan anjuran menghormati keturunannya.

Sebagai imigran, Baโ€™alwi menghadapi kompetisi ketat untuk merebut otoritas keagamaan di Hadramaut yang sejak ratusan tahun silam memiliki prestasi melahirkan ulama-ulama besar dengan otoritas persuasif yang kuat.  Untuk interest itu, Baโ€™alwi memerlukan substitusi dari identitas lama, yaitu mereka  bukan hanya ulama tetapi juga sebagai klan yang memiliki konektifitas  genealogi dengan Nabi Muhammad SAW. Klaim itu tidak berjalan mulus, ulama-ulama yang mengetahui latar belakang mereka menolak klaim itu. Dalam kitabnya Al Burqat al Musyiqah, Ali al Sakran menggambarkan: adanya orang-orang hasud kepada keluarga mereka yang tidak mempercayai mereka sebagai keturunan Nabi.[1]

Baca Juga

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

ูƒุชุงุจ ุฃุจู†ุงุก ุงู„ุฅู…ุงู… ููŠ ู…ุตุฑ ูˆุงู„ุดุงู… ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ูƒุชุงุจ ู…ุฒูˆุฑ ู…ู†ุญูˆู„

Kitab “Abnaโ€™ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

Buku โ€œY-DNA Nabi Muhammad SAWโ€ Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern

Nampaknya, penolakan dari ulama-ulama di abad ke-9 H itu tidak diprasastikan dalam bentuk tulisan.  Sementara usaha-usaha pemasaran dan peyakinan dari klan Baโ€™alwi bahwa mereka keturunan Nabi ditulis dalam berbagai kitab mulai abad ke-9 H sampai hari ini. Yang demikian itu, kemudian  membuat kesan sekilas bahwa pada abad ke-9 H itu mereka sudah โ€œSyuhrah Wa al-Istifadlohโ€ sebagai keturunan Nabi.  Kendati demikian, tersisanya ulama di Yaman hari ini yang tidak mempercayai Baโ€™alwi sebagai keturunan Nabi, adalah sebuah ciri bahwa tradisi ketidakpercayaan itu tetap dirawat oleh komunitas keulamaan tertentu di sana.

Pemasaran dan publikasi terhadap penduduk di sana tentang produk bahwa mereka adalah keturunan Nabi, dilakukan klan Baโ€™alwi bukan hanya dengan relasi konvensional antara murid dan guru, tetapi juga dengan doktrinasi transcendental- metafisik yang sulit ditagih  scientific evidence (bukti ilmyah)-nya. Kita ambil sebuah contoh, Ali bin Abu Bakar al-Sakran dalam Al-Burqat  menyatakan bahwa ia mendengar sebuah cerita bahwa ada sebagian orang pilihan telah bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW di atas sebuah bukit di Tarim, lalu Nabi berkata: โ€œWahai penduduk negeri ini, aku mempunyai titipan untukmu (Baโ€™alwi)  barang siapa membenci mereka maka mereka membenci aku, barang siapa membuat rida mereka maka ia membuat aku ridaโ€.[2] 

Klan Baโ€™alwi Seharusnya Diabaikan Ketika Mengaku Keturunan Nabi Muhammad SAW

            Bersamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan DNA, hari ini kita dapat mengetahui hubungan biologis antara seorang individu dengan individu lainnya. Apabila pola kromosom Y tidak sama (tidak cocok) maka akan memberikan akurasi 100% kedua laki-laki tersebut bukanlah saudara dari garis ayah.[3] Jika hari ini ada dua laki-laki yang sama-sama mengaku keturunan  garis ayah dari Nabi Muhammad SAW, maka ia harus bertemu di kakek bersama sekitar 1500 tahun yang lalu. Jika dua laki-laki hari ini mengaku sebagai keturunan garis ayah dari Nabi Ibrahim AS, maka ia harus bertemu di kakek bersama sekitar 5000 tahun yang lalu. Laki-laki yang hari ini berhaplogroup  G dengan laki-laki berhaplogroup J1 baru bertemu di kakek bersama di sekitar 45.000 tahun yang lalu. Jika dua laki-laki tersebut sama-sama mengaku keturunan Nabi Muhammad SAW, maka keduanya pasti ada yang palsu karena Nabi Muhammad SAW terverifikasi sebagai sosok historis pada 1500 tahun yang lalu. Lalu menurut para pakar DNA, Nabi Muhammad SAW itu tergolong berhaplogroup apa?

            Professor Ubaidillah, seorang pakar DNA dari Timur Tengah, sebagaimana termuat dalam buku Muqaddimat โ€˜Ilm al-Ansab, mengatakan:

โ€œSetelah meneliti dan melakukan banyak tes dan analisis laboratorium terhadap DNA untuk mengetahui keragaman ras manusia, para peneliti menemukan bahwa warisan genetik Arab termasuk dalam ras tersebut (J1). Peneliti Profesor Ali bin Muhammad Al- Shehhi mengatakan: Kita dapat memberi nama pada jenis  J1 dengan DNA suku Arabโ€ฆPara peneliti juga menemukan bahwa gen Ismail bin Ibrahim, dengan dua cabangnya: Adnani dan Qahtani, terkelompokan ke dalam J1c3d.โ€ [4]

Berikut ini daftar haplogroup Y DNA yang dimuat kitab Muqaddimat Fi โ€˜Ilm Al-Ansab[5]:

  1. Haplogroup A: adalah haplogroup untuk keturunan bangsa Etiopia, Sudan,
  2. Haplogroup B: Afrika
  3. Haplogroup C: India, Srilangka, Asia ย Tenggara,
  4. Haplogroup D: Asia tengah, Mongoloia, Selatan Asia.
  5. Haplogroup E: Afrika.
  6. Haplogroup G: Utara Asia Tengah, Pakistan, Afganistan. Haplogroup G Disebut Haplogruop Kaukasus kerena ke luar dari haplo ini 2 % dari penduduk barat laut Eropa, 8-10 % dari pendudukย  Asbania, Italia, Yunan, Turki, 30% dari penduduk Georgia dan Azerbaijan, 50% dari penduduk Ositia Utara, 18% dari orang Druze, 10% dari Yahudi Askenazi, dan 20% dari Yahudi Maroko.
  7. Haplogroup R: Utara laut hitam dari Orasia, Eropa Timur, India, Irlandia.
  8. Haplogroup I: Eropa, Viking.
  9. Haplogroup H: India Dravida, Pastun, Iran.
  10. Haplogroup L: India
  11. Haplogroup M: Guinea
  12. Haplogroup N: Utara Asia, Cina, Mongolia,
  13. Haplogroup O: Asia Timur, Cina, Malaysia, Vietnam, Indonesia, Korea, Jepang.
  14. Haplogroup K: Iran, Mesir, Papuanugini.
  15. Haplogruop Q: Amerika
  16. Haplogroup S: Papuanugini, Indonesia, Melanesia
  17. Haplogroup T: Iran, Mesir, Afrika.
  18. Haplogroupย  J: Timur Tengah, Arab Syamiyah.
  19. Haplogroup J2: Asia Tengah, Iran, India, Kurdi.

Prof Ubaidillah juga mengatakan[6]:

โ€œDNA adalah stempel yang dijadikan pegangan di masa depan. Ia adalah hukum pasti bagi pengakuan nasab perorangan atau kelompok.  Dan akan membawa keengganan untuk meneliti surat-surat dan manuskrip-manuskrip sejarah masa lalu yang berkaitan dengan nasab. DNA pula akan menggantikan stempel para syekh dan ahli nasab karena ilmu nasab adalah ilmu  riwayat yang bersifat dzanniโ€ฆilmu DNA akan merubah ilmu nasab dari ilmu dzanni yang bersifat tarjih yang terkadang terjadi pemalsuan menjadi ilmu yang rasional yang terhormat yang berdasar hasil-hasil tes yang presisi yang tidak akan salah dengan kekuasaan, hikmah, dan pengaturan  Allah Azza wajallaโ€.

            Dari sini penulis mengatakan bahwa  pengakuan Klan Baโ€™alwi sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW  seharusnya diabaikan. Karena berdasarkan tes DNA para individu dari Klan Baโ€™alwi diperoleh hasil bahwa mereka terkelompokkan dalam Haplogroup G, bukan J1. Berdebat tentang keabsahan surat dari sebuah kalung emas tidak ada gunanya,  jika setelah diperiksa bahwa kalung itu ternyata bukan terbuat dari emas tetapi hanya tembaga biasa. Individu atau komunitas tertentu yang mengaku memiliki konektivitas genealogi kepada Nabi,  ketika terjadi khilafiyah secara ilmu nasab dan sejarah, baru dianggap laik untuk ditelusuri setelah lulus uji DNA. Jika DNA-nya saja sudah melenceng, maka penulusuran ilmu nasab dan sejarah itu menjadi kontraproduktif, tidak signifikan dan absurd.  

Tetapi tidak salah juga jika setelah kita mengetahui bahwa kalung emas itu adalah palsu, kita tetap  menelusuri sebenarnya siapa yang telah mengeluarkan surat kalung itu, agar diketahui siapa yang memalsukan.

KLaim-Klaim Sejarah dan Nasab Baโ€™alwi di Abad Sembilan Hijriah

            Klan Baโ€™alwi, di abad sembilan mengklaim dirinya sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW melalui jalur Ahmad bin Isa yang hidup di abad 3-4 Hijriah. Untuk menyambungkan historiografi dan genealogi mereka dengan Ahmad bin Isa, mereka mengklaim bahwa Ahmad bin Isa Hijrah dari Bashrah ke Hadramaut; mereka menyambungkan silsilah mereka dari abad sembilan Hijriah sampai abad ke-4 Hijriah sebagai berikut: Ali (w. 895 H.) bin Abubakar al Sakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alwi al-Gayyur bin Muhammad (Faqih Muqoddam) bin Ali bin Muhammad (Sahib Mirbat) bin Ali Khaliqosam bin  โ€˜Alwi (w.400 H>.) bin Ubaid/โ€˜Ubaidillah/Abdullah  (w.383 H.) โ€œbinโ€ Ahmad (w.345 H.) bin โ€˜Isa al-Naqib (w.300 H.) bin Muhammad al-Naqib (w.250 H.) bin โ€˜Ali al-โ€˜Uraidi (w.210 H.) bin Jaโ€™far al-Sadiq (w.148 H.) bin Muhammad al-Baqir (w.114 H.)  bin โ€˜Ali Zaenal Abidin (w.97 H.) bin Sayidina Husain (w.64 H.) bin Siti Fatimah al-Zahra (w.11 H.) binti Nabi Muhammad Saw.  (w.11 H.).[7]

            Klaim nasab tersebut batal berdasar kesaksian kitab-kitab nasab abad ke-5 sampai ke-9 Hijriyah bahwa Ahmad tidak punya anak bernama Ubaid/Ubaidillah/Abdullah. Diantara kitab-kitab nasab yang ditulis di abad ke-5-9 Hijriah adalah: Tahdzib al-Ansab karya Imam Al Ubaidili (w.437 H.), Al-Majdi karya Al-Umari (w. 490 H.), Muntaqilat al-Tahalibiyah karya Ibnu Thabathaba (w. 400-an H.), Al-Syajarah al-Mubarakah  karya Imam Al-Fakhrurazi (w.606 H.), Al-Fakhri  fi Ansab al-Thalibin  karya Azizuddin Abu Tolib Ismail bin Husain al-Marwazi (w.614 H.), Al-Ashili fi Ansab al-Thalibiyyin  karya Shofiyuddin Muhammad ibnu al-Thaqthaqi al-Hasani (w.709 H.),  Al-Tsabat al-Mushan  karya Ibn al- Aโ€™raj al-Husaini (w.787 H.), Umdat al-Talib  karya Ibnu Inabah (w.828 H.) .

Nama Ubaid sebagai anak Ahmad bin Isa secara formal baru muncul dalam kitab keluarga Baโ€™alwi, Al-Burqat al-Musyiqat  karya Ali bin Abubakar al-Sakran (w.895 H.),  setelah 550 tahun  wafatnya Ahmad bin Isa. Kitab nasab dan sejarah setelah abad ke-9 yang menulis Ubed sebagai anak Ahmad bin Isa kesemuanya akan bermuara merujuk kepada kitab Al-Burqat  tersebut.

            Urutan silsilah seperti itu diokulasi Ali bin Abubakar al-Sakran dari kitab Al-Suluk karya Al-Janadi (w.732 H.) ketika menyebut seorang ulama bernama Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid bin  Ali bin Muhammad bin jadid bin Abdullah bin Ahmad bin Isa.[8] Menurut Ali al-Sakran, Jadid bin Abdullah yang terdapat dalam silsilah itu adalah saudara laki-laki dari Alwi bin Ubaid. Lalu  Ubaid itu adalah nama lain dari Abdullah.  Klaim Ali al-Sakran ini tanpa dalil. Tidak ada kitab-kitab nasab atau sejarah yang mengkonfirmasi  bahwa Jadid adalah saudara dari Alwi. Terlepas dari bahwa informasi Al-Suluk tentang nasab Abdullah sebagai anak Ahmad bin Isa itu tertolak kitab-kitab nasab, bahwa klaim adanya ikatan persaudaraan antara Jadid dan Alwi itupun tertolak juga karena diambil dari ruang hampa tanpa ada bukti dan dalil. Jadi, usaha Baโ€™alwi untuk melakukan okulasi  silsilah kepada Nabi ternyata mengambil batang yang salah.

Ahmad bin Isa Bergelar โ€œAl-Muhajirโ€?

            Ahmad bin Isa, dalam historiografi internal Baโ€™alwi bergelar โ€œAl-Muhajirโ€. Gelar ini sebagai alibi bahwa narasi  Ahmad bin Isa mempunyai keturunan di Hadramaut itu reliabel,  karena ia berpindah dari Bashrah ke Hadramaut dan kemudian menetap di sana, buktinya ia bergelar โ€œAl-Muhajirโ€. Padahal, tidak ada kitab sezaman atau yang mendekati Ahmad bin Isa yang menyatakan ia berhijrah ke Hadramaut, seperti tidak juga ada dalil bahwa ia bergelar โ€œAl-Muhajirโ€. Kitab-kitab nasab dari mulai abad ke-5 sampai abad ke-9 tidak ada yang menginformasikan bahwa Ahmad bin Isa berhijrah dari Bashrah ke Hadramaut; tidak ada pula dari kitab-kitab tersebut yang menyatakan bahwa Ahmad bin Isa bergelar โ€œAl-Muhajirโ€.  

Ahmad bin Isa Di Makamkan Di Hadramaut      

Baโ€™alwi ber-hujjah (alasan)  hijrahnya Ahmad bin โ€˜Isa ke Hadramaut itu valid dan relaibel dengan dalil adanya bukti arkeologis  berupa makam Ahmad bin โ€˜Isa di Husaysah, Hadramaut. Pertanyaannya, apakah benar makam yang diklaim sebagai makam Ahmad bin โ€˜Isa itu asli? Apakah makam itu sudah dikenal sejak wafatnya Ahmad bin โ€˜Isa tahun 345 H.? Sumber sezaman atau yang mendekati apa yang bisa memberi kesaksian bahwa benar Ahmad bin โ€˜Isa dimakamkan di Husaysah?

             Al-Janadi (w.732 H.), sebagai sejarawan yang gemar merekam adanya makam tokoh yang diziarahi orang, tidak mencatat di Husaysah ada makam Ahmad bin โ€˜Isa. Ia merekam  keberadaan makam dua orang anak yang popular di Shanโ€™a di sebuah masjid yang dikenal dengan Masjid Al-Syahidain;[9] ia juga merekam makam seorang dokter Irak yang dianggap pahlawan di Qinan dan ia berziarah di sana.[10] Tetapi ia tidak merekam adanya makam Ahmad bin โ€˜Isa. Artinya pada tahun 732 H>. itu, makam Ahmad bin โ€˜Isa belum dikenal (dibaca โ€˜tidak adaโ€™) seperti saat ini. Telah berjarak 387 tahun sejak wafatnya, makam Ahmad bin โ€˜Isa belum dikenal orang.

             Lalu kapan mulai adanya cerita bahwa Ahmad bin โ€˜Isa dimakamkan di Husaysah? Berita awal yang didapatkan adalah berita dari  Bamakhramah (w.947 H.) dalam kitabnya Qala>dat al-Nahr  Fi Wafiyya>t Aโ€™yan al-Dahr. Dalam kitab tersebut disebutkan, ada  dua pendapat mengenai makam Ahmad bin โ€˜Isa: Pendapat pertama mengatakan  ia wafat dan dimakamkan di Husaysah; pendapat kedua mengatakan ia wafat di Qarah Jasyib.[11]  Lalu berdasar apa makam Ahmad bin โ€˜Isa ini dipastikan ada di Husaisah seperti  yang sekarang masyhur sebagai makamnya?   Bamakhromah menyebutkan bahwa makam itu diyakini sebagai makam Ahmad bin โ€˜Isa karena ada Syekh Abdurrahman menziarahinya, dan ada  cahaya  yang dapat dilihat dari tempat yang diyakini sebagai makam Ahmad bin โ€˜Isa itu.[12]

            Seperti itulah makam Ahmad bin โ€˜Isa ditemukan, yaitu bukan berdasarkan naskah yang menyatakan bahwa ia memang dimakmkan di Husaysah, dan bukan karena memang makam itu telah ada sejak hari wafatnya yaitu tahun 345 H., tetapi diitsbat berdasarkan ijtihad. Berarti makam Ahmad bin โ€˜Isa baru ditemukan, bahkan dibangun, di abad sembilan atau sepuluh Hijriah, yaitu sekitar  602 tahun setelah hari wafatnya. Dari sana, keberadaan makam Ahmad bin โ€˜Isa di Husaysah ini, berdasar kesimpulan tidak adanya peristiwa hijrah-nya ke Hadramaut, sangat meyakinkan untuk dikatakan bahwa makam itu adalah makam palsu. 

Historiografi Tokoh Baโ€™alwi Yang Tidak Terkonfirmasi Kitab Sezaman Atau Yang Mendekati

            Cerita tentang Ahmad bin โ€˜Isa, bahwa ia seorang โ€œimamโ€ dan ulama tidak terkonfirmasi sumber-sumber sezaman atau yang mendekatinya, demikian pula ketokohan Ubaid atau Ubaidillah.  Dalam literatur ulama Baโ€™alwi, Ubaid ditulis wafat tahun 383 Hijriah. Ia seorang Imam yang dermawan; seorang ulama yang โ€œrasikhโ€  (mendalam ilmunya); guru para โ€Syaikul Islamโ€;  pembuka kunci-kunci ilmu yang dirahasiakan;  Tiada ditemukan yang menyamainya (dizamannya). Demikian  sebagian yang ditulis ulama Baโ€™alwi tentang Ubaidillah hari ini.[13] Anehnya, seorang โ€œImam Besarโ€, yang hidup di abad empat Hijriah, sejarahnya gelap gulita pada masanya. Tidak ada satu kitab-pun membicarakannya. Jika ia imam, tidak ada seorang pengikutnya-pun mencatatnya. Jika ia guru para โ€œSyaikhul Islamโ€, tidak ada  seorang โ€Syaikhul Islamโ€-pun menyebut namanya, mengutip pendapat gurunya, bahkan walau hanya menulis namanya dalam silsilah sanad keguruannya. Ia benar-benar โ€œorang besarโ€ yang mastur dan misterius.

            โ€œImam Besarโ€ ini hidup di Abad empat hijriah, katanya, ia lahir dan tumbuh besar di Basrah, lalu umur duapuluh tahun hijrah bersama ayahnya ke Hadramaut, Yaman. Di Abad itu, di Basrah dan di Yaman, puluhan kitab ditulis, ratusan ulama hidup bergaul satu dengan lainnya, namun, diantara mereka, seorangpun tidak mencatat interaksinya dengan Ubaidillah. Kemanakah Ubaidillah sang โ€œImam Besarโ€ ini bersembunyi? Nama Ubaidillah dan biografi  hidupnya, baru muncul 512 tahun setelah wafatnya. Sosoknya, pertama kali  di munculkan oleh โ€˜Ali al-Sakran (w. 895 H). Bukan hanya menyebut nama dalam rangkaian silsilah, Al-Sakran, bahkan, telah berhasil mengungkap ketokohan Ubaidillah. Sesuatu yang tidak diketahui oleh ulama yang hidup sezaman atau berdekatan dengan Ubaidillah, dapat diketahui oleh Al-Sakran tanpa sumber-sumber pendukung apapun. Al-Sakran adalah pioneer dalam meruntut โ€œsejarahโ€ Ubaidillah, dan sukses menjadikannya sebagai  sosok โ€œmenyejarahโ€. Demikian pula tokoh lain dalam silsilah Baโ€™alwi seperti Alwi pertama, Muhammad dan Alwi kedua, sosoknya yang begitu punya peran penting dalam redaksi kitab-kitab Baโ€™alwi, tidak terkonfirmasi sumber-sumber sezaman atau yang mendekatinya, semuanya kembali kepada kitab Al-Burqat al-Musyiqat  di abad ke-9 Hijriah.

            Muhammad bin โ€˜Ali  (w.556 H.) yang diberi gelar โ€œSohib Mirbatโ€ oleh penulis Baโ€™alwi. Sosoknya ditulis oleh Muhammad bin โ€˜Ali Khirid Baโ€™alwi sebagai โ€œima>man mutqinanโ€ (imam yang menguasai ilmu dengan dalam); โ€œwahidu asrihi fi al-ilmi wa al-โ€˜amalโ€ (paling berilmu dan beramal di masanya).[14] Tetapi sosoknya sama sekali tidak tereportase oleh ulama-ulama, baik ulama nasab maupun ulama sejarah dan tabaqat (biografi ulama). Alwi bin Tahir dalam kitab Uqud al-Almas  mengatakan bahwa Muhammad โ€œSahib Mirbatโ€ adalah penyebar Madzhab Syafiโ€™I di Hadramaut, Difar dan Yaman dan para ulama-ulama di Mirbat adalah murid-murid Muhammad โ€œSahib Mirbat.[15] Berita semacam itu pun tidak bisa dikonfirmasi oleh sumber-sumber sezaman atau yang mendekatinya. Berbeda dengan ulama di Mirbat lainnya yang terkonfirmasi kitab-kitab sezaman atau yang mendekatinya, seperti Muhammad bin โ€˜Ali al-Qolโ€™iy (w.577 H.), dari tahun wafatnya kita melihat bahwa ia hidup sezaman dengan Muhammad โ€œSahib Mirbatโ€. 

            Al-Janadi dalam Al-Suluk  menyebut ulama-ulama di Mirbat itu adalah murid-murid Imam al-Qolโ€™iy.[16]  Al-Janadi banyak menyebut nama-nama ulama di Mirbat, tetapi ia tidak menyebut ada seorang ulama di Mirbat bernama Muhammad โ€œSahib Mirbatโ€. Begitu pula Ibnu Samrah  al-Jaโ€™diy  (w.587 H.) dalam kitabnya Tabaqat Fuqaha al-Yaman  ia menyebut nama Imam al-Qolโ€™iy sebagai ulama di Mirbat, tetapi ia tidak menyebut nama Muhammad โ€œSahib Mirbatโ€.[17] Bahkan, gelar Sohib Mirbat, terkonfirmasi bukan gelar untuk Muhammad bin โ€˜Ali, tetapi ia adalah gelar yang diberikan kepada Penguasa di Kota Mirbat yang bernama Muhammad bin Ahmad al-Akโ€™hal al-Manjawi. Ia yang disebut terakhir, adalah sosok historis yang hidup satu masa dan satu kota dengan Muhammad bin โ€˜Ali โ€œSahib Mirbatโ€  Baโ€™alwi. Al-Akโ€™hal adalah penguasa terakhir Kota Mirbat dari Dinasti al-Manjawi. Muhammad al-Akโ€™hal Sohib Mirbat disebut al-Akโ€™hal karena memakai celak dimatanya atau karena matanya ada tanda hitam sejak lahir. Ibnul Atsir, pakar sejarah abad ke-7 dalam kitabnya Al-Kamil fi al-Tarikh  menyebutkan bahwa di tahun 601 Hijriah, Muhammad al-Akโ€™hal Sohib Mirbat, digantikan oleh mantan menterinya yang bernama Mahmud bin Muhammad al-Himyari.[18]  Sementara Muhamad bin โ€˜Ali Baโ€™alwi,  namanya tidak tercatat sebagai apapun, dengan gelar ataupun tanpa gelar; dengan disebut ulama ataupun bukan. Jika ia benar-benar sosok historis, kemana ia bersembunyi di Kota Mirbat, sampai ulama pengarang kitab sejarah tak mencatatnya, padahal ulama lainnya tercatat dalam sejarah Mirbat?

            Keberadaan makam Muhammad bin โ€˜Ali โ€œSohib Mirbatโ€ hari ini pun patut kita telusuri keasliannya. Benarkah makam itu ada di Mirbat sejak abad ke-6 Hijriah? Makam Muhammad โ€œSohib Mirbatโ€ hari ini mempunyai batu nisan dengan ukiran yang bagus. Inskripsi batu nisan itu berangka tahun 556 Hijriyah. Apakah benar batu nisan itu dibuat tahun 556 H? Di Yaman abad ke enam belum dikenal seni pahat batu.  Hal tersebut difahami dari bahwa para raja yang berkuasa di Yaman pada abad enam dan sebelumnya, dari Dinasti Al-Manjawih dan dinasti Al-Habudi, makamnya tidak ada yang berbatu nisan dengan pahatan kaligrafi. Bagaimana โ€œorang biasaโ€  nisannya berpahat indah dengan harga yang mahal, jika rajanya saja tidak? 

            Sejarah Muhammad bin โ€˜Ali (w.652 H.) yang kemudian diberi gelar โ€œAl-Faqih al-Muqoddamโ€ oleh penulis-penulis Baโ€™alwi, kesejarahannya juga tidak tereportase para ulama sezaman. Muhammad Diyaโ€™ Sahab dalam Hamisy Syams al-Dahirat menyebutkan tentang Faqih Muqoddam:  Ia adalah salah seorang yang paling popular; ia  seorang ulama besar yang berhasil mengumpulkan ilmu dan amal;  ia adalah ulama yang telah laik berijtihad karena telah mencapai derajat ilmu riwayat dan ilmu logika. Karena itulah ia bergelar โ€œAl-Faqih al-Muqoddamโ€  (Rajanya ahli fikih)  dan โ€œAl-Ustad al-Aโ€™dzamโ€  (guru besar). Tidak ada ulama sebelumnya  yang bergelar seperti dia; Ia adalah seorang โ€œAl-Muhadditsโ€ (ahli hadits), โ€œAl-Mudarrisโ€ (dosen), mursyid tarekat, dan juga seorang โ€œmuftiโ€ (ahli fatwa). Ia adalah tempat berlindung bagi orang lain.[19] Lalu, apakah  ulama-ulama pada zamannya mereportase sosoknya sebagai sosok kesejarahan yang luar biasa seperti disebutkan itu?  Sayang, sosok Faqih Muqoddam ini sama sekali tidak tereportase oleh ulama-ulama sezaman sebagaimana fenomena kesejarahanya hari ini yang kita kenal yang penuh dengan keluarbiasaan. Sosoknya sunyi di tengah masifnya kitab-kitab ulama yang ditulis di masa itu. Jangankan di dunia Islam secara luas, di sekitar Yaman saja, namanya di masa itu  tidak terkonfirmasi. Kitab Al-Suluk  (732 H.) dan kitab Tabaqat Fuqaha al-Yaman (586 H.) pun tidak menulis namanya. Namanya muncul, berbarengan dengan kemunculan nasab Baโ€™alwi dalam kitab Al-Burqat al-Musyiqat.

Interpolasi dan Moral Ilmiyah Baโ€™alwi

Kajian literasi nasab Baโ€™alwi yang penulis lakukan mengarah kepada kesimpulan adanya pola dan algoritma dari sebuah kontruksi sejarah yang sengaja diciptakan bukan berdasar fakta sejarah sesungguhnya. Historiografi dari sebuah hipotesa dari sebuah komunitas tertentu yang memiliki irisan dengan kepentingan tertentu, patut dicurigai validitasnya. Yusuf jamalulail men-tahqiq kitab  Abnaโ€™ al-Imam fi Mishra wa Syam al-Hasan wa al-Husain.  Kitab tersebut karya Ibnu Tabataba.  Mengenai hari wafatnya pengarang ini, pen-tahqiq atau penerbit memuat dua angka tahun wafat pengarang. Dalam halaman ketujuh  disebut wafat tahun 199 H. dalam halaman lain disebut 478 H. Dan dalam cover ditulis tahun 478 Hijriah. Kitab ini bisa disebut palsu karena kitab ini tertulis dengan judul  Abnaโ€™ al-Imam,  namun isinya bukan semata kitab tersebut, namun telah diinterpolasi (tambah) kalimat para penyalin dan pen-tahqiq. Kitab ini isinya telah diinterpolasi oleh 4 orang yaitu: Ibnu Shodaqoh al-Halabi (w. 1180 H.), Abul Aun As-Sifarini (1188 H.), Muhammad bin Nashar al-Maqdisi (w. 1350 H.) dan Yusuf jamalullail (1938 M). Tambahan itu tidak diberikan pembeda, jadi seakan seluruh isi kitab itu karya pengarang yang asli yaitu Ibnu Thabathaba. Dalam kitab itu,  nama Ubaidillah/Abdullah disebut anak Ahmad. Namun kalimat itu jelas bukan dari kalimat pengarang kitab.

Kitab Tarikh Hadramaut, atau disebut juga kitab Tarikh Sanbal, karena, katanya, ia karya Syekh Syanbal Baโ€™alwi (w. 920 H), didalamnya, diantaranya, menerangkan tentang bahwa Al-Fakih al-Muqoddam adalah seorang โ€œAl-โ€™Alim al-Robbaniโ€ (ulama yang menguasai seluruh ilmu), โ€œโ€˜umdat al-muhaqiqinโ€ (tumpuan para ahli tahqiq),  dan salah seorang โ€œWali Kutubโ€. Kitab ini dicetak oleh Maktabah Sanโ€™a al-Atsariyah tahun 1994 M/1414 H, di-tahqiq oleh Abdullah Muhammad al-Habsyi. kitab ini dicurigai  menjiplak dari kitab Tarikh Ibnu Hisan, terlebih Syekh Sanbal adalah orang yang tidak dikenal para ulama, sepertinya naskah tersebut baru saja disalin dan penulisnya tidak hidup pada abad kesepuluh Hijriah, sebagaimana disebutkan oleh pen-tahqiq, Abdullah Al -Habsyi.

Kitab Al-Baha fi Tarikh Hadramaut,  karya Abdurahman bin โ€˜Ali bin Hisan (w. 818 H), di-tahqiq  oleh Abdullah Muhammad al-Habsyi, diterbitkan oleh Darul Fatah tahun 2019. Kitab ini merupakan kronik sejarah Hadramut dari tahun 424 -926 Hijrah, menurut pengakuan pen-tahqiq-nya, dicetak dari manuskrip yang tidak lengkap. Ada beberapa tahun yang hilang, lalu pen-tahqiq melengkapinya dari kitab Tarikh Sanbal  yang terindikasi palsu di atas.. Kendati ada pengakuan bahwa kitab yang di-tahqiq-nya itu ada tambahan, tetapi Al-Habsyi tidak memberi pembeda mana redaksi asli dari manuskrip kitab Al-Baha, dan mana redaksi yang merupakan tambahan dari pentahqiq. Dalam kitab ini disebutkan bahwa Fakih Muqoddam wafat tahun 652 H.,[20] seakan benar sosok Faqih Muqoddam itu telah dicatat penulis sejarah, tetapi ketika dilihat dalam footnote-nya, Abdullah Al-Habsyi menyatakan bahwa informasi tentang wafatnya Faqih Muqoddam itu tidak disebut dalam manuskrip โ€œhamzahโ€ (ุฃ) karena kertasnya rusak,  seakan ia ingin mengatakan bahwa yang berada dalam versi cetak itu berasal dari manuskrip โ€œbaโ€ (ุจ),  padahal manuskrip kitab Ibnu Hisan itu hanya ada satu dan itupun tidak lengkap.  Apabila ia pen-tahqiq  yang jujur, maka seharusnya ia biarkan tempat itu tanpa keterangan, tidak kemudian ia isi sendiri sesuai dengan kemauan dan kepentingannya.  Oleh karena itu, kitab ini tidak bisa menjadi rujukan sebagaimana kitab Abnaโ€™ al-Imam.

Kitab Al-Imam al-Muhajir, ditulis oleh Muhamad Dhiya Syihab dan Abdullah bin Nuh. Kitab ini terdiri dari sekitar 244 halaman, diterbitkan oleh Penerbit Dar al-Syarq tahun 1400 H/1980 M. kitab ini merupakan biografi dari Ahmad bin โ€˜Isa yang oleh kalangan Baโ€™alwi kemudian di berikan gelar โ€œAl-Muhajirโ€. Kitab ini di awali dengan mengutarakan keadaan Kota Basrah abad ke-4 Hijriyah yang gemilang dengan ilmu pengetahuan dan peradaban. Latar belakang sejarah ini dipetik dari referensi sejarah yang kredibel seperti kitab-kitab karya Ibnu Khalikan, Ibnul Atsir, Al-Masโ€™udi, Ibnu Jarir, Al-Sayuti dan sebagainya. Tetapi, ketika menjelaskan tentang biografi dari Ahmad bin โ€˜Isa sendiri, penulisnya tidak mencantumkan refernsi dari mana ia mendapatkan berita itu. Seperti ketika ia menyebutkan bahwa Ahmad bin โ€˜Isa mulai belajar dari kedua orangtuanya. Tentu semua anak akan belajar dari kedua orangtuanya. Ini masih bisa difahami walau tanpa referensi. Kemudian dilanjutkan, bahwa Ahmad bin โ€˜Isa gemar menuntut ilmu dari para ulama, baik di Basrah maupun di kota-kota lainnya di Irak. Penjelasan ini seharusnya sudah menyebutkan siapa ulama-ulama yang didatangi oleh Ahmad bin โ€˜Isa, dan dari mana penulis kitab ini mengetahui berita itu, namun paragraph ini tanpa referensi, agaknya ia keluar dari imajinasi penulis tentang banyaknya ulama di Irak waktu itu, dan asumsi bahwa kemungkinan besar itulah yang dilakukan remaja seusia Ahmad bin โ€˜Isa ketika berada di lingkungan para ulama. Referensi kemudian disebutkan pada paragraph yang lain, diambil dari kitab Saurah al-Zanji, yaitu ketika menerangkan bahwa Basrah ketika itu merupakan pusat pemikiran yang besar. Kota tempat bersinggungannya berbagai macam โ€˜Aliran filsafat, keyakinan dan pemikiran.

Rupanya, penulis kitab ini sangat bersusah payah mencari sosok Ahmad bin โ€˜Isa dalam kitab-kitab sejarah atau kitab lainnya. Ketika menemukan nama Ahmad bin โ€˜Isa, lalu tanpa diteliti lebih lanjut, langsung saja diambil. kesalahan fatal-pun terjadi, ketika mengutip sosok Ahmad bin โ€˜Isa yang terdapat dalam kitab Tarikh Bagdad, disebutkan dalam kitab itu: Ibnu Jarir al-Tabari menerima surat dari Ahmad bin โ€˜Isa al-Alwi dari Kota Bashrah, lalu Ibnu Jarir membalasnya dengan kalimat โ€œwahai amirkuโ€. Penulis kitab ini kemudian menyatakan: cukuplah untuk mengetahui betapa agung kedudukan Ahmad bin โ€˜Isa, dari penyebutan Ibnu jarir terhadapnya โ€œwahai amirkuโ€. Penulis tidak teliti, atau pura-pura tidak mengerti, bahwa Ahmad bin โ€˜Isa al-Alwi yang dimaksud dalam kitab Tarikh Bagdad itu, bukanlah Ahmad bin โ€˜Isa al-Naqib, tetapi sosok lain, yaitu Ahmad bin โ€˜Isa bin Zaid. Lalu tentang hijrahnya Ahmad bin โ€˜Isa ke Hadramaut, penulis kitab ini sama sekali tidak menyebutkan sumber, kecuali dari Majalah Al-Rabitah  tulisan โ€˜Ali bin Ahmad al-Athas. Kejadian tahun 317 Hijriah diceritakan oleh orang yang hidup seribu tahun lebih setelah wafatnya, dengan tanpa sumber dari mana ia mengetahui berita itu. Pola penulisan seperti itu, kita jumpai dalam kitab tersebut pada halaman-halaman selanjutnya sampai akhir kitab.

Kitab Gurar al-Baha al-Dhauโ€™I wa Durar al-Jamal al-Bahiy, yang lebih dikenal dengan nama kitab Al-Gurar,  karya Muhammad bin โ€˜Ali Khirid Baโ€™alwi (w. 960 H), diterbitkan oleh Maktabah al-Azhariyah, tahun 2022, tanpa pen-tahqiq. Dalam kitab ini disebutkan bahwa Ahmad bin โ€˜Isa hijrah dari Irak ke Hadramaut tahun 317 H. penyebutan itu tidak bersumber referensi apapun. Cerita tentang orang di masa lalu tanpa adanya sumber disebut dengan โ€œdongengโ€. Disebutkan pula, bahwa Ahmad bin โ€˜Isa mengungguli teman-temanya dalam kebaikan, untuk kisah ini dan sebab hijrahnya Ahmad bin โ€˜Isa, Al-Gurar  mengutip dari kitab Al-Jauhar al-Syafaf,  kitab karya al-Khatib yang telah penulis sebut dalam berbagai tulisan sebagai kitab yang tidak laik dijadikan rujukan karena penulisnya tidak jelas. Dilihat dari segi isi pun, kitab itu penuh dengan cerita-cerita dusta. Dapat dikatakan, kitab Al-Gurar ini, mengenai nasab dan sejarah Baโ€™alwi, bersumber pokok kepada satu kitab abad Sembilan, yaitu: Al-Burqat al-Musyiqat  karya al-Sakran (895 H), ditambah kitab Al-Jauhar al-Syafaf (855 H) yang problematis itu. 

Kitab Uqud al-Almas, karya Alwi bin Tahir bin Abdullah al-Haddad, diterbitkan oleh Matbaโ€™ah al-Madani tahun 1388 H/1968 M. kitab ini merupakan biografi dari Ahmad bin Hasan al-Athas. Ketika menjelaskan tentang nasab Baโ€™alwi, kitab inipun mentok kepada kitab Al-Jauhar al-Syafaf . Tidak bisa mencari yang lebih tua agar ketersambungan itu masuk akal. Dalam kitab inipula, disebutkan bahwa nasab Baโ€™alwi telah di itsbat oleh Raja Yaman pada tahun 1351 H, sekitar 90 tahun yang lalu. Peng-itsbat-an itu, menurut kitab ini, setelah timbulnya celaan dari orang-orang khawarij akan nasab mereka. Dari sini diketahui, setidaknya telah beberapa kejadian keraguan dan gugatan kaum muslimin terhadap nasab Baโ€™alwi yang dapat dibaca dari kitab-kitab Baโ€™alwi sendiri. Bersamaan dengan itu, Baโ€™alwi selalu dapat melewatinya dengan meminta secarik kertas itsbat dari orang atau lembaga yang mau membantunya. Zaman dahulu itu, untuk keraguan nasab akan berakhir dengan itsbat demikian, karena ilmu genetika belum mapan. Hari ini, setiap persengketaan nasab akan dapat dikonfirmasi dengan melakukan tes DNA yang akan dapat menelusuri sambungan darah seseorang sampai ribuan tahun ke atas. Maka ketika hari ini Baโ€™alwi telah terbukti putus nasabnya kepada Nabi Muhammad SAW secara kajian Ilmu Nasab, sejarah dan DNA berdesar sampel anggota Baโ€™alwi yang telah melakukan tes DNA,  jika  mereka bergeming bahwa nasab mereka tersambung, untuk membuktikannya tidak ada jalan lain kecuali tes DNA satu persatu. Siapa tahu ada di antara mereka yang terkonfirmasi secara DNA.

Kesimpulan

Nasab Baโ€™alwi tidak laik lagi untuk diperdebatkan secara Studi Sejarah dan Ilmu Nasab karena hasil tes DNA mereka terbukti behaplogroup G, tidak tersambung kepada Nabi Muhammad SAW secara garis ayah. Sedangkan para ahli DNA telah memitigasi haplogroup Nabi Muhammad SAW adalah Haplogroup J1. Secara Ilmu Nasab,  nasab mereka batal dan mardud (tertolak) karena tidak terkonfirmasi oleh kitab-kitab nasab yang banyak ditulis dari abad ke-4-9 Hijriyah; Ubaid tidak terkonfirmasi sebagai anak Ahmad bin Isa. Kitab-kitab sejarah yang ada di masa Ubaid sampai Faqih Muqoddam tidak mencatat ketokohan mereka sama sekali, bahkan, dari Faqih Muqoddam sampai Ubaid terindikasi sebagai sosok-sosok yang fiktif dan ahistoris. Tulisan ini sebagain besar disarikan dari buku penulis โ€œMembongkar Skandal Ilmiyah Genealogi dan Sejarah Baโ€™alwiโ€


[1] Lihat Ali bin Abu Bakar al Sakran, Al Burqat al Musyiqah (Nafaqah Sayyid Ali bin Abdurrahman bin Sahal Jamalullail, Mesir, 1347 H.)ย  h. 122-123
[2] Ali al Sakranโ€ฆh. 131
[3] https://genoslaboratory.com/kekerabatan-garis-ayah/
[4] Khalil bin Ibrahim , Muqaddimat fi โ€˜Ilmi al Ansab, , ย hal. 189-191 (diringkas)
[5] Muqaddimatโ€ฆhal. 181-185 (diringkas)
[6] Muqaddimatโ€ฆh.179
[7] Ali al Sakranโ€ฆ hal.148-149, Tahun wafat yang penulis sebutkan tersebut penulis ambil dari sebuah artikel yang berjudul โ€œInilah Silsilah Habib Rizieq Shihab. Keturunan Ke-38 Nabi Muhammad?โ€ (https://artikel.rumah123.com/inilah-silsilah-habib-rizieq-shihab-keturunan-ke-38-nabi-muhammad-124800). Angka tahun versi Baโ€™lawi penting ditampilkan untuk mengukur konsistensi dan keakuratan data mereka untuk dikomparasi data dari sumber lainnya.
[9] Al-Janadiโ€ฆJuz 2 h. 135.
[10]Al-janadi, juz 1 hal. 212
[11] Abu Muhammad al-Tayyib Abdullah binย  Ahmad Ba Makhramah, ย Qaladat al-Nahrย  Fi Wafayyat Aโ€™yan al-Dahr (Dar al-Minhaj, Jeddah, 1428 H.)ย  juz 2 h. 618.
[12] Abu Muhammadโ€ฆ Ba Makhramahโ€ฆ juz 2 h.618.
[13]lihat โ€˜Ali al-Sakranโ€ฆh.136 dan Al-Masyraโ€™ al-Rawiย  juz 1 h.75
[14] Muhammad bin โ€˜Ali Khiridโ€ฆ h. 131
[15] Alwi bin tahir, Uqud al-Almas (Matbaโ€™ah al-Madani, Syariโ€™ al-โ€˜Abasiyah, 1388 H.) juz 2 h.104
[16] Al-janadiโ€ฆjuz 2 h. 170
[17] Umar bin โ€˜Ali bin Samrah al-Jaโ€™diy, Tabaqat Fuqaha al-Yaman (Dar al-Qalam, Beirut, T.t.) h. 220
[18] Ibnul Asir, Al-Kamil fi al-Tarikh (]Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1407 H.) juz 10 h. 203
[19]ย  lihat Muhammad Diyaโ€™ Sahab dalam Abdurrahman Al-Mashur,ย  Shmsu al-Dahirat, (โ€˜Alam al-Maโ€™rifat, Jeddah, 1404 H.)ย  h.ย  77.
[20] Ibnu Hโ€™Isan, Al-Bahaโ€™ fi Tarikh Hadramaut (Dar al-Fatah, Oman, 1441 H.) h. 125

ShareTweetShare
Previous Post

Syarat-syarat Terjadinya Revolusi Sosial

Next Post

Etika Kebangsaan Dalam Perspektif Nikomakea

Related Posts

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

5 Juni 2026
20

ูƒุชุงุจ ุฃุจู†ุงุก ุงู„ุฅู…ุงู… ููŠ ู…ุตุฑ ูˆุงู„ุดุงู… ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ูƒุชุงุจ ู…ุฒูˆุฑ ู…ู†ุญูˆู„

4 Juni 2026
24

Kitab “Abnaโ€™ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

4 Juni 2026
35

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

3 Juni 2026
19

Buku โ€œY-DNA Nabi Muhammad SAWโ€ Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern

31 Mei 2026
154

Warga NU Wajib menyayangi 86 Marga Keturunan Nabi Muhammad SAW Ini: Laporan Untuk K.H. Miftahul Akhyar

28 Mei 2026
221

Cara Sederhana Memahami Pohon Genetik Y-DNA Bani Hasyim

21 Mei 2026
195

Kisah Usman bin Yahya Meminta Jabatan Mufti Kepada Pemerintah Penjajah Belanda

15 Mei 2026
149

Riziq Syihab Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW Secara Absolut

25 April 2026
205

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
631
Next Post

Etika Kebangsaan Dalam Perspektif Nikomakea

Paling Banyak Dilihat

Berita

ูƒุชุงุจ ุงู„ุฑูˆุถ ุงู„ุฌู„ูŠ ููŠ ู†ุณุจ ุจู†ูŠ ุนู„ูˆูŠ ุงู„ู…ู†ุณูˆุจ ู„ู„ุฅู…ุงู… ู…ุฑุชุถู‰ ุงู„ุฒุจูŠุฏูŠ ูƒุชุงุจ ู…ู†ุญูˆู„ ู…ุฒูŠู

by Admin
5 Juni 2026
16

ุจู‚ู„ู… ุนู…ุงุฏ ุงู„ุฏูŠู† ุนุซู…ุงู† ุงู„ุจู†ุชู†ูŠ ุงู„ุฌุงูˆูŠ ุงู„ุดุงูุนูŠ (ุฑุฆูŠุณ ู„ุฌู†ุฉ ุงู„ูุชูˆู‰ ููŠ ู…ุฌู„ุณ ุนู„ู…ุงุก ุงู†ุฏูˆู†ูŠุณูŠุง ููŠ ู…ุญุงูุธุฉ ุจู†ุชู†)ฺฉุชุงุจ ุงู„ุฑูˆุถ ุงู„ุฌู„ูŠ ููŠ...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

ูƒุชุงุจ ุงู„ุฑูˆุถ ุงู„ุฌู„ูŠ ููŠ ู†ุณุจ ุจู†ูŠ ุนู„ูˆูŠ ุงู„ู…ู†ุณูˆุจ ู„ู„ุฅู…ุงู… ู…ุฑุชุถู‰ ุงู„ุฒุจูŠุฏูŠ ูƒุชุงุจ ู…ู†ุญูˆู„ ู…ุฒูŠู

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

ูƒุชุงุจ ุฃุจู†ุงุก ุงู„ุฅู…ุงู… ููŠ ู…ุตุฑ ูˆุงู„ุดุงู… ุงู„ุญุณู† ูˆุงู„ุญุณูŠู† ูƒุชุงุจ ู…ุฒูˆุฑ ู…ู†ุญูˆู„

Kitab “Abnaโ€™ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.1k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

ยฉ2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

ยฉ2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25