• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Santri Hikmah

Etika Kebangsaan Dalam Perspektif Nikomakea

by Admin
12 September 2024
in Hikmah, Opini, Peristiwa
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Secara sederhana bicara etika, tentu bukan hanya di ruang-ruang kaum akademisi, dan di pesta-pesta borjuis, tetapi di ruang publik dimana kondisi tanpa sekat, tanpa tekanan jauh lebih efektif untuk terjalinnya saling menghormati dan saling menjaga bersama sesama anak negeri ini. Etika itu sikap kita bertahan dalam kebenaran.

Etika Nikomakea dipersembahkan kepada anak laki-laki, sekaligus murid Aristoteles bernama Nikomakus. Kelak anak Aristoteles ini menjadi pemimpin pengganti di sekolah yang didirikan Aristoteles yaitu Lyceum, dan karena itu para sejarahwan menganggapnya sebagai orang yang telah mempengaruhi pengumpulan catatan-catatan kuliah Aristoteles.

Substansi pemikiran Aristoteles dalam bingkai etika adalah bagaimana memusatkan perhatian pada pentingnya membiasakan berperilaku bajik dan mengembangkan watak yang bajik pula. Aristoteles menekankan pentingnya konteks dalam perilaku etis, dan kemampuan dari orang yang bajik bagi mengenali langkah terbaik yang perlu diambil.

Aristoteles berpendapat bahwa eudaimonia adalah tujuan hidup, dan bahwa ucaha mencapai eudaimonia, bila dipahami
” terminus technicus ” adalah etika yang dipelajari sebagai ilmu pengetahuan tentang perbuatan manusia. Sementara ” manner and cutom ” artinya etika yang berkaitan dengan tata cara dan adat kebiasaan yang melekat pada diri manusia.

Baca Juga

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

Sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan norma perilaku yang disepakati, dan menjadikan hubungan antara individu dengan individu lainnya memiliki kedudukan yang penting. Yakni, hubungan yang dimaksud akrab kita kenal sebagai istilah pertemanan. Aristoteles tegas mengatakan jika manusia merupakan makhluk yang tidak bisa hidup sendirian.

Aristoteles merupakan salah satu filsuf tersohor yang berasal dari Yunani, dan dari bergudang-gudang pemikiran yang telah disajikan, etika nikomakea merupakan khazanah ilmu yang tidak boleh dilewatkan dengan mengangkat judul bukunya “Aristotetis de moribus ad nicomachum ” yang ditulis dalam bahasa Yunani. Buku Aristoteles tersebut berhasil di terjemahkan oleh Roger Crisp dari bahasa Yunani menjadi bahasa Inggris dengan judul bukunya “Aristotle : Nicomachean Ethics”. Selanjutnya berhasil diterjemahkan kembali .

Dalam bukunya Roger Crisp ” Aristotle : Nicomachean Ethics ” ( hlm. 144), menjelaskan bahwa ” Friendship seems also to hold cities together, and lawgivers to care more about it than about justice; for concord seems to be something like friendship, and this is what they aim at most of all, while taking special pains to eliminate civil con¯ict as something hostile. And when people are friends, they have no
need of justice, while when they are just, they need friendship as well; and the highest form of justice seems to be a matter of friendship.”

Berkait kebangsaan relasinya dengan sistem ketatanegaraan, menurut perspektif Aristoteles ada tiga jenis sistem pemerintahan dalam hubungan antara penguasa dengan rakyat, yakni kerajaan, aristoraksi dan timokratis, menurut Aristoteles dari ketiga sistem ini yang paling baik adalah kerajaan dan yang paling buruk adalah timokratis. Kerajaan memiliki tujuan bagi keuntungan rakyatnya. Seorang raja tidak akan mementingkan dirinya sendiri
dibandingkan kepentingan rakyatnya.

Namun, dalam kerajaan terdapat penyimpangan yakni berupa tindakan tiranik atau kita sebut sebagai istilah tirani. Seorang tiran muncul akibat seorang raja yang tidak baik, yang mementingkan dirinya dibanding kepentingan rakyatnya. Seorang tiran hanya mencari keuntungan dan kebaikan bagi dirinya sendiri. Yang kedua yaitu aristoraksi yakni kekuasaan yang dipegang oleh kelompok kecil, yang diistimewakan atau golongan orang-orang yang berkuasa.

Sistem pemerintahan seperti ini dapat
melahirkan istilah yang diberi nama Oligarki, yakni sikap serakah yang dimana hak-hak bagi rakyatnya diberikan pada diri mereka sendiri,
dari segala sesuatu yang baik bahkan jabatan selalu berada pada orang-orang yang sama. Yang ketiga, timokrasi, kekuasaan dipegang
secara periodik.

Menghindari sistem oligarki dalam kehidupan kebangsaan kita relasinya kekuasaan, tentu akan terjadi ambivalensi ideologis, satu sisi menginginkan, sementara sisi lain mencemoohnya. Hidup hari ini adalah kepastian mewujudkan kebenaran demi keselamatan umat manusia seluruhnya.

Payung dari semua itu adalah etika agama, bukan berarti agama adalah alat kekuasaan, tapi agama ditempatkan menjadi magma spiritual untuk tetap terwujudnya harmoni manusia dan semesta raya. Agar pula kita mengenali bahwa eksistensi manusia akan ternilai bagaimana ketika etika diterapkan.

Wa Allahu A’lam Bishowab

Oleh : Hamdan Suhaemi

ShareTweetShare
Previous Post

Migrasi Klan Ba’Alwi Dan Pengakuan Sebagai Keturunan Nabi

Next Post

Di Rabitah Rumail Menampilkan Manuskrip-Manuskrip Palsu: Hanif Mengutip Wafi Tidak Mengerti

Related Posts

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
90

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
37

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
215

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
221

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
73

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
544

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

21 April 2026
105

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

18 April 2026
96

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

16 April 2026
71

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
116
Next Post

Di Rabitah Rumail Menampilkan Manuskrip-Manuskrip Palsu: Hanif Mengutip Wafi Tidak Mengerti

Paling Banyak Dilihat

Sains

Hasil Tes Y-Dna Klan Ba’alwi Hadramaut: Konklusif Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

by Admin
24 Mei 2026
84

Klan Ba’alwi, sebuah komunitas yang berasal dari wilayah Hadramaut, Yaman, secara historis mengklaim garis keturunan paternal (patrilineal) mereka bermuara pada...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Hasil Tes Y-Dna Klan Ba’alwi Hadramaut: Konklusif Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

Cara Sederhana Memahami Pohon Genetik Y-DNA Bani Hasyim

Haji Habib bin Buja’, Pewaqaf di Makkah, Asli Keturunan Negeri Aceh Bukan Ba’Alwi

Isi Pernyataan Sikap Aliansi Umat Peduli Situs Mbah Bonang

Ditemukan Bukti Baru: Kasus Dugaan Perusakan Cagar Budaya Makam Sunan Bonang Dibuka Lagi

Studi Genomik mengenai Asal-usul Etnis Bangsa Arab dan Populasi Dunia Berdasarkan Asam Deoksiribonukleat (DNA)

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25