Tangerang – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten resmi memiliki ketua baru untuk periode 2025-2030. KH Hafis Gunawan terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah melalui musyawarah mufakat dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) V NU Banten yang berlangsung di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2, Kota Tangerang, pada Rabu (29/1/2025) malam.
Dalam sambutannya, Kiai Hafis menegaskan komitmennya untuk mengabdi sepenuhnya kepada NU. “Jangan bawa NU ke rumah dan pesantren, tapi bawalah yang di rumah dan pesantren ke NU,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Khaer tersebut.
Sebelum terpilih memimpin PWNU Banten, Kiai Hafis telah lebih dulu menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tangerang periode 2024-2029. Ia terpilih dalam Konferensi Cabang (Konfercab) VII NU Kabupaten Tangerang yang digelar di Pondok Pesantren Miftahul Khaer, Curug, pada 7 Juli 2024.
KH Hafis Gunawan adalah sosok kiai yang berangkat dari perjuangan panjang dalam dunia pesantren. Pesantren Miftahul Khaer yang diasuhnya berdiri sejak tahun 2008 di Babakan, Sukabakti, Curug, Kabupaten Tangerang. Pesantren ini berawal dari kajian sorogan dengan hanya lima santri, sebelum akhirnya berkembang menjadi institusi pendidikan yang menaungi madrasah tsanawiyah, aliyah, hingga sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan berbagai jurusan.
Saat ini, Pesantren Miftahul Khaer memiliki sekitar 1.900 santri yang menjalani pendidikan dengan sistem asrama. Pesantren ini juga terus berkembang dengan membuka cabang di Ranca Iyuh, Panongan, Kabupaten Tangerang, dengan luas masing-masing 6.000 dan 8.000 meter persegi.
Sebagai alumni MAN 2 Serang, Kiai Hafis melanjutkan pendidikan S1 di bidang matematika di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Kusuma Negara Jakarta, lulus pada 2006. Ia menimba ilmu agama di Pesantren Al Hikmah Curug selama sembilan tahun dan melanjutkan ke Pesantren Nurul Huda Kabupaten Serang selama tiga tahun.
Dalam perjalanannya, Kiai Hafis tetap mempertahankan tradisi keilmuan pesantren dengan pembelajaran kitab kuning seperti I’lal, ’Awamil, dan Jurumiyah. Ia juga membuka program tahfiz Al-Qur’an untuk para santri.
Mengidolakan sosok KH Muhtadi dari Pandeglang, Kiai Hafis memiliki cita-cita besar ke depan, yakni mendirikan perguruan tinggi umum serta pesantren khusus bagi lansia. Ia berpegang teguh pada pesan gurunya, “Punya santri banyak jangan bangga, santri sedikit jangan sedih.”
Kini, dengan amanah baru sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Banten, Kiai Hafis bertekad membawa NU lebih maju dan berkontribusi lebih besar bagi masyarakat. (DS)