Oleh: Hamdan Suhaemi
Riwayat Kelahiran
Muhammmad Amin lahir pada 14 November 1940 di Kampung Ceger, Desa Jurangmangu Timur kecamatan Pondok Aren, kota Tangerang Selatan. Ayahnya KH. Syarbini adalah seorang tokoh sekaligus ulama yang berpengaruh, khususnya di wilayah Pondok Aren dan umumnya di Tangerang Selatan.
Masa kecil Muhammmad Amin banyak dihabiskan di kampung halamannya di Ceger, seperti halnya anak-anak kampung lainnya. Jauh sebelum Ceger dan Pondok Aren kini menjadi salah satu kecamatan yang paling dinamis di Kota Tangerang Selatan, seiring perkembangan kota tersebut sebagai daerah penyangga Ibu Kota Jakarta.
Keluarga dan Keturunannya
Muhammad Amin Syarbini menikah dengan Musiyah, dan telah dianugerahi 9 putera puteri yaitu.
- Syamsul Maarif
- Syumusul Ma’rifah
- Miftahu Sa’adah
- Ida Farida
- Husnul Aqib Amin
- Nurul Ghaus
- Muhammad Arif
- Husnul Khotimah
- Anisul Fuad
Putra putrinya terlahir di Kampung Ceger Kelurahan Jurangmangu Timur Pondok Aren.
Pendidikan
Sejak masih didikan orang tuanya, Muhammad Amin sudah diarahkan oleh ayahnya untuk mengenal ilmu agama IsIam. Untuk pertama kalinya Muhammad Amin oleh ayahnya KH. Syarbini diarahkan mesantren ke pondok pesantren Nurul Falah dibawah asuhan KH. Abdul Kabier, Ulama besar NU Banten murid Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng. Saat dalam didikannya Kiai Kabier inilah, Muhammmad Amin mulai mengenali NU langsung dari murid muassisnya.
Beberapa tahun setelah selesai dari pendidikan Mu’allimin di Nurul Falah, hingga mampu menyerap penjelasan dan pemahaman ilmu agama yang luas dari gurunya tersebut, yang dikenal ahli balaghah. Maka Muhammmad Amin melanjutkan rihlah ilmiahnya ke daerah Pantura yakni di Kerawang dan tentunya di beberapa pesantren di daerah Pasundan, yang sejak dulu jadi kiblat ilmu agama, terutama ilmu alat dan fiqih seperti Sempur, Kaduraja, Gasol, Banjar dan Gentur.
Mendirikan Pesantren
Sepulang dari ngaji di beberapa pesantren yang telah disebutkan di atas, Muhammmad Amin tampil sebagai kiai muda yang telah cakap dan luas dalam pemahaman ilmu-ilmu agama.
Maka pada tahun 1975, Kiai Muhammmad Amin Syarbini mendirikan lembaga pendidikan pesantren yang beliau namai Pondok Pesantren Jam’iyyah Islamiyah, di Kampung Ceger Jurangmangu Timur dan kini pesantren tersebut semakin maju pesat dibawah kepemimpinan puteranya yaitu KH. Husnul Aqib Amin.
Sanad Tarekat
Setelah kepulangan dari ibadah haji, KH. Muhammmad Amin Syarbini, selaku pengasuh pesantren Jam’iyyah Islamiyah pada tahun 1980 berbai’at tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah kepada Pangersa Ajengan KH. Shohibul Wafa Tajul Arifin atau Abah Anom di Singaparna Tasikmalaya.
Adapun sanad TQN tersebut diperoleh dari Abah Anom, dan kita mengenal sanad tarekat itu dari jalur Cirebon dari Syaikh Tolhah Trusmi Cirebon dan Syaikh Tolhah dari Syaikh Khatib Sambas, khalifah TQN yang masyhur di Haramain pada abad 19 M.
- KH. Muhammmad Amin Syarbini, dari
- KH. Sohibul Wafa Tajul Arifin, dari
- Syaikh Abdulloh Mubarok, dari
- Syaikh Tolhah Cirebon, dari
- Syaikh Khatib Sambas, dari
- Syaikh Syamsudin, dari
- Syaikh Muhammmad Murod, dari
- Syaikh Abdul Fattah, dari
- Syaikh Utsman, dari
- Syaikh Abdurahim, dari
- Syaikh Abu Bakrin, dari
- Syaikh Yahya, dari
- Syaikh Hisyamuddin, dari
- Syaikh Waliyuddin, dari
- Syaikh Nuruddin, dari
- Syaikh Syarofuddin, dari
- Syaikh Syamsudin, dari
- Syaikh Muhammmad al-Hattak, dari
- Syaikh Abdul Aziz, dari
- Sultonul Auliya Sayyid Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, sang Quthub Agung dari negeri Jilan. Negeri tersebut berada di wilayah Iran Selatan, dekat Laut Kaspia, yang merupakan tempat kelahirannya.
Kiprah di NU
Saat masih di pesantren Nurul Falah Kubang Petir, gurunya KH. Muhammmad Amin Syarbini yakni KH. Abdul Kabier telah menanamkan sejak dini kecintaan atas NU. Dalam jiwanya terdapat energi untuk mencintai NU dan berkiprah untuknya, demi maslahat dan kebahagian warga Tangerang terutama warga nahdliyin.
Pada tahu 1994, kiprahnya atas NU benar benar diwujudkan ketika KH. Muhammmad Amin Syarbini ikut aktif menggerakkan NU di wilayah Tangerang, khusus di daerah selatannya Tangerang. Di tahun itu pula KH. Muhammmad Amin Syarbini adalah delegasi Tangerang dalam Muktamar NU di Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat, yang dikenal sebagai muktamar NU ke – 29 yang paling dramatis dan keras, efek dari campur tangan rezim Orde Baru dalam perhelatan tersebut.
Setelah usai Muktamar NU yang ke 29 itu, KH. Muhammmad Amin Syarbini didaulat oleh tokoh tokoh NU Tangerang untuk menempati posisi Rois Syuriah PCNU Kab. Tangerang ( waktu itu belum ada Tangerang Selatan).
Kemudian setelah Muktamar NU yang ke – 30 yang digelar di Lirboyo Kediri Jawa Timur untuk masa hidmat berikutnya di NU Tangerang, KH. Muhammmad Amin Syarbini pun kembali dipercaya untuk menduduki posisi Rois Syuriah PCNU Kab. Tangerang untuk masa hidmat berikutnya.
Aktivitas dan harokahnya atas NU diperankan oleh KH. Muhammmad Amin Syarbini, baik pada kegiatan rapat antar pengurus, silaturahmi, halaqoh ulama, bahtsul masail, tablig akbar, istighotsah dan lain sebagainya.
Tahun Wafat
KH. Muhammmad Amin Syarbini, ulama hebat, Rois Syuriah PCNU Kab. Tangerang, kiai sufi, pengamal tarekat TQN, pengasuh pesantren Jam’iyyah Islamiyah Ceger Jurangmangu Timur Pondok Aren, telah wafat pada hari Ahad tanggal 8 Februari 2004 dengan meninggakan 9 putera puterinya. Semoga almarhum KH. Amin Syarbini termasuk min ahlil jannah.
Kita mengenalnya sebagai kiai NU yang masyhur di daerah Tangerang Selatan, dan kini jejak harokah tersebut diteruskan oleh putranya yaitu KH. Husnul Aqib Amin, sosok ulama muda pengasuh pesantren Jam’iyyah IsIamiyah yang kini menduduki posisi Katib Syuriah PWNU Provinsi Banten.
Serang 25 Juli 2025