JAKARTA – Akademisi sekaligus kandidat doktor dari Inggris, Rocky Al-Ma’arif Syam atau Gus Rocky, secara terbuka mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto mengangkat Kiai Imaduddin Utsman Albantani sebagai Staf Khusus Presiden atau Utusan Khusus Presiden. Usulan ini muncul sebagai respons atas surat resmi yang dikirimkan Kiai Imad kepada Presiden terkait temuan riset nasab dan sejarah Islam Nusantara.
Dalam diskusi “LIVE Padasuka TV” (13/05/2026), Gus Rocky menilai bahwa kapasitas intelektual dan keberanian Kiai Imad dalam meluruskan sejarah bangsa sangat relevan dengan semangat “Anti-Nekolim” (Neokolonialisme-Imperialisme) yang sering didengungkan oleh Presiden Prabowo.
Menurut Gus Rocky, Kiai Imaduddin memiliki kualifikasi yang mumpuni karena tidak hanya berbicara berdasarkan retorika, melainkan melalui metodologi ilmiah yang kuat, mulai dari kajian manuskrip hingga pendekatan sains melalui tes DNA.
“Saya mendorong pemerintah untuk menanggapi surat Kiai Imad secara strategis. Menurut saya, beliau sangat cocok untuk menjadi Staf Khusus Presiden atau Utusan Khusus di bidang penulisan sejarah agama Islam di Indonesia,” ujar Gus Rocky.
Ia menambahkan bahwa peran ini penting untuk mengawal narasi sejarah bangsa agar tidak lagi terdistorsi oleh klaim-klaim asing yang tidak terverifikasi, yang selama ini dianggap sebagai sisa-sisa hegemoni kolonial.
Dalam keterangannya, Gus Rocky sempat membandingkan posisi tersebut dengan beberapa tokoh pendakwah yang sebelumnya pernah menduduki posisi serupa. Ia menilai Kiai Imad memiliki nilai tambah karena fokus pada pembangunan epistemologi dan kedaulatan berpikir bangsa.
“Kiai Imad tidak cuma beretorika, tetapi betul-betul menyusun karya ilmiahnya. Ini sejalan dengan visi Pak Prabowo untuk mengembalikan martabat Indonesia dan melawan hegemoni yang membelenggu memori kolektif kita,” tegasnya.
Usulan pengangkatan ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi proyek besar pemerintah yang ia sebut sebagai The Prabowo’s Project on Renarrating Indonesian Islamic History. Proyek ini bertujuan untuk menarasikan kembali sejarah Islam di Indonesia secara jujur, objektif, dan terbebas dari pengaruh manipulasi sejarah masa lalu.
Gus Rocky meyakini, jika Kiai Imad diberikan posisi resmi di lingkungan istana, proses pelurusan sejarah dan penjagaan terhadap aset intelektual bangsa akan berjalan lebih terstruktur dan memiliki legitimasi kuat di mata negara. (KD)