• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

by Admin
3 Juni 2026
in Opini
9 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara

Prolog [Pembaca Dapat Melewati Bagian Ini]

Tulisan ini hadir setelah penulis rampung membaca buku “Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer” karya KH. Imaduddin Utsman Al Bantani yang rilis di penghujung Mei 2026[1] dan menemukan manfaatnya dalam menjawab pertanyaan yang penulis terima tentang Habib Sholeh Tanggul dengan lebih lengkap. Dalam buku tersebut Kyai Imad menelanjangi Usman bin Yahya dan Ali Al Habsyi Kwitang sebagai contoh yang lain yang juga menerima penghargaan penjajah Belanda. Buku Kyai Imad tersebut menunjukkan aplikasi konkrit bagaimana ilmu, ‘kebaikan’ dan jubah keulamaan (figur otoritas) difungsikan sebagai instrumen penjajahan yang samar oleh Klan Habib Baalwi. Dengannya kita terbantu membaca algoritma Habib Sholeh Tanggul dan habib-habib lainnya bahwa motif dan modus operandi mereka tak jauh berbeda dengan Usman bin Yahya dan Ali Al Habsyi Kwitang.

Pada tanggal 18-22 Mei 2026 penulis ke Madura. Di salah satu harinya, penulis diajak keluarga ke satu pondok pesantren tua yang menjadi starting point berdirinya NU. Pondok tersebut, kata kakak saya, memiliki banyak sekali manuskrip. Berdialoglah saya dengan seorang keluarga ndalem dan beberapa orang sahabatnya di situ.[2] Di samping kami memiliki kesamaan latar belakang sejarah perjumpaan di beberapa dekade sebelumnya, kabar buku ‘Mengapa Penting Mengetahui Habib Baalwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad Saw’ karya Kyai Imad dan penulis sudah sampai pada mereka, juga menjadi penghantar dialog yang baik pada forum terbatas itu. Pada dialog itu kami membahas banyak hal secara makro di antaranya sejarah berdirinya NU, nasab Walisongo (pribumi secara khusus Kyai Madura) dan Habib Baalwi, sejarah Habib Baalwi, penjabaran posisinya di era kolonialisasi Belanda vis a vis dengan Trah Walisongo, pemalsuan kuburan dan sejarah; sebagaimana yang telah pembaca ketahui. Pada pertemuan itulah pertanyaan mengenai Habib Sholeh Tanggul diajukan kepada penulis.

Pada tulisan ini penulis hendak menjabarkan beberapa hal dari pertanyaan yang diajukan kepada penulis dalam pertemuan tersebut.Dengan pelengkapan-pelengkapan. Sekaligus sebagai respon penulis terhadap beberapa isu partikular pada Polemik Nasab Habib dan Baalwisasi-Yamanisasi yang mudah-mudahan berguna bagi pembaca.

Habib Sholeh Tanggul

Penulis mengatakan bahwa ijazah shalawat yang penulis terima dari almarhum guru kami (mereka dan saya) yang ijazahnya didapat dari Habib Sholeh Tanggul, “Saya buang,” kata saya, “Shalawat khurafat itu.” Saya katakan begitu karena riwayat yang saya peroleh langsung dari guru kami, katanya, shalawat itu diperoleh Habib Sholeh Tanggul di Gua Hira. Dilihat dari pattern ceritanya sama dengan pattern khurafat Habib Baalwi lainnya oleh karenanya saya nyatakan shalawat itu khurafat.

“Tapi apakah tidak mungkin Habib Sholeh Tanggul itu memang benar alim?” tanyanya. “Bisa jadi alim, mungkin, tapi kan tidak ada bukti tentang kealimannya itu (semua hanya cerita-cerita kabar burung). Asumsikan saja alim, kealimannya itu keuntungannya untuk (kepentingan) siapa? Karena begini, kan ilmu dan kebaikan itu juga memiliki efek memperbudak manusia. Itu kan ada maqolahnya.” “Al insan abdul ihsan,” sahut seorang hadirin. “Nah, pada situasi pribumi dijajah Belanda dan posisi Habib Baalwi ke Nusantara dibawa oleh Belanda, itu fakta sejarah, dan Baalwi difungsikan sebagai instrumen sosial-politik pengendali dan peredam perlawanan pribumi, dalam keadaan makro yang demikian, (dampak dari mengajarkan) ilmu dan kealimannya itu keuntungannya (benefit) untuk Belanda bukan untuk kemerdekaan pribumi, karena pengaruh aktivitas kealiman dan kebaikannya ke masyarakat pribumi berdampak meredam (mengendalikan, menjinakkan) spirit perlawanan pribumi yang bersentuhan kebaikan dengannya.”

Tipologi Habib Sholeh Tanggul ini sejenis dengan Habib Ali Al Habsyi Kwitang yang berbeda karakternya dengan Habib Utsman bin Yahya. Tentang Ali Al Habsyi Kwitang, KH. Imaduddin Utsman Al Bantani memberi penjelasan: Berbeda dengan Usman, Ali Kwitang dikenal dengan pembawaan yang jauh lebih moderat, santun, dan fokus pada dakwah kultural. Ia tidak banyak terlibat dalam konflik teologis yang tajam dengan ulama lain. Pengaruhnya di akar rumput dinilai kuat. Belanda melihat Ali sebagai sosok yang “aman untuk dipamerkan”. Ia tidak memiliki banyak musuh dan sangat dicintai murid-muridnya, memberikan penghargaan secara publik justru akan memberikan citra positif bagi Belanda. Usman menghadapi lawan- lawan Belanda lewat pena dan fatwa, sehingga ia harus “dijaga” agar tetap bisa berfungsi di tengah kebencian musuh-musuhnya. Sementara Ali Kwitang digunakan untuk membangun harmoni. Karena ia tidak vokal menyerang pihak lain, ia menjadi instrumen yang sempurna untuk menunjukkan bahwa “bekerja sama dengan Belanda itu membawa kemuliaan”.[3]

Metriks dan Constraint Melihat Imigran Yaman

Ada 5 (lima) metriks dalam menilai Klan Habib Baalwi yang menimbulkan constraint:

Pertama, saat Yaman (Hadramaut) dijajah Inggris, Klan Habib Baalwi malah kabur ke Nusantara alih-alih memperjuangkan kemerdekaan negerinya. Ini menunjukkan ketiadaan nasionalisme pada negerinya sendiri.

Kedua, lebih buruknya lagi, saat Yaman (Hadramaut) dijajah Inggris Klan Habib Baalwi menjadi ‘hewan peliharaan lokal’ Inggris. Hal itu diterangkan oleh ulama Yaman sendiri yaitu Abdullah bin Shalih bin Ali Abu Thal’ah al Syarafi dalam artikel ilmiyah berjudul “Jinayat al Isti’mar al Britaniyy ‘ala Tarikh Hadramaut” (Kejahatan Kolonialisme Inggris terhadap Sejarah Hadramaut). Artikel ilmiah itu dirilis pada 06 Juli 2024.[4]

Ketiga, mereka kabur ke Nusantara diangkut Belanda dengan motif guna memperbaiki nasib karena kemiskinan dan penderitaan.[5] Kenapa mereka mau diangkut Belanda? Tentu karena Belanda menawarkan kehidupan yang lebih baik apabila mereka ikut Belanda ke Nusantara. Jika tidak seperti, sudah pasti tidak mau ikut.

Keempat, reportase dari Van den Berg: “Masalah politik di Nusantara dilihat oleh orang Arab Hadramaut dengan ketakpeduliận, selama kepentingan materiel dan spiritual mereka tidak menjadi taruhan.”[6]

Kelima, masih reportase dari Van den Berg: “Di dalam pertikaian antara pemerintah Belanda dan para priagung pribumi, orang Arab Hadramaut hampir selalu memihak orang Eropa, atau paling tidak bersikap netral.”[7]

Dari lima constraint itu, Klan Habib Baalwi kalau bukan memihak kepada Belanda baik terang-terangan atau terselubung maka setiap keputusan dan gerakannya adalah untuk keuntungan dirinya sendiri. Klan Habib Baalwi tidak mungkin keluar dari kotak constraint itu.

Klan Habib Baalwi tidak mungkin berpihak pada kepentingan pribumi karena nasib materiil mereka di tangan Belanda dan sama sekali tidak memiliki alasan untuk  membela pribumi dengan cara melawan Belanda. Bagaimana mungkin mereka membela pribumi yang tidak memiliki ikatan emosional dengan mereka sementara mereka sendiri kabur dari negerinya yang sedang dijajah Inggris dan lebih buruknya lagi jadi hewan peliharaan lokal Inggris untuk menjajah Hadramaut Yaman? Kemudian di Nusantara tiba-tiba berlagak heroik? Jelas tidak mungkin. Kalau itu dikatakan mungkin maka pasti sudah mereka lakukan di Hadramaut Yaman dengan melawan Inggris alih-alih jadi hewan peliharaan lokal Inggris. Lanjutan dari itu, bayangkan posisi mereka dan pengaruhnya pada psikologisnya di Nusantara: alasan apa yang membuat mereka membela pribumi dan melawan Belanda meski dengan sembunyi-sembunyi padahal kehidupan mereka enak di bawah asuhan Belanda? Jawabannya: jelas tidak ada. Tidak mungkin mereka sudi mempertaruhkan nasibnya yang sudah ‘enak’ di bawah asuhan Belanda yang karena untuk hidup enak itulah mereka kabur dari Hadramaut.

Maka Klan Habib Baalwi tidak mungkin keluar dari kotak constraint: kalau tidak untuk kepentingan Belanda ya untuk dirinya sendiri sama sekali bukan untuk kebaikan (kepentingan) pribumi. Kealiman dan kebaikannya dalam pengajaran ilmu hanyalah proxy untuk melestarikan penjajahan Belanda atau semata-mata untuk keuntungan dirinya sendiri. Begitu pula Habib Sholeh Tanggul dan Klan Habib Baalwi lainnya, lebih lengkapnya lagi: termasuk Al Irsyad (nonbaalwi). Semua Imigran Yaman tanpa terkecuali mestilah dan hanya bisa dilihat dan dinilai dengan framework itu. Latar belakang sosio-historis Imigran Yaman dan reportase dari Van den Berg merupakan ketok palu historis yang bersifat final bahwa mereka antek penjajah Belanda dan seluruh keputusan perilakunya bukan demi kebaikan pribumi melainkan semata-mata demi dirinya sendiri atau Belanda.

Amalan Habib: Diamalkan atau Jangan?

“Tapi kan shalawat dari Habib Sholeh tanggul itu bagus?” “Ya, secara redaksi an sich bagus tapi masalahnya bukan di situ,” jawab penulis, “Masalahnya ada pada gelar Habib dan propaganda tentang gelar Habib yang diedarkan di masyarakat. Propaganda itu dan pengaruhnya masuk ke alam bawah sadar (mental) masyarakat melalui amalan-amalan seperti ratib-ratib Habib yang macam-macam itu dan kitab-kitab yang bermerek Habib. Seperti propaganda atau doktrin bahwa Habib adalah satu-satunya cucu Nabi atau ahlul bait; melawan habib kualat, tidak mendapat syafaat Nabi, mati suul khotimah, melawan habib sama dengan melawan Nabi Saw, dan doktrin-doktrin penundukan lainnya. Ini mekanismenya sama dengan franchise, Mas. Bisa dipahami ya?” “Ya, ya, ya, paham,” angguknya. “Tapi apakah masalah kalau diamalkan?”, tanyanya lagi. “Bergantung psikologis jenengan atau pengamalnya. Kalau amalan dari habib itu di psikologis jenengan lepas terputus (disconnected) dari propaganda dan doktrin yang beredar di masyarakat (termasuk di kitab-kitab Baalwi), saya kira tidak masalah. Tapi kalau sebaliknya, menurut saya, bermasalah.” Beliau mengangguk lagi. “Lagian redaksi shalawat kan banyak banget, kan ndak harus itu. Wirid atau ratib lain kan juga banyak, Mas,” pungkas saya. “Ya, ya, ya.”

Amalan wirid, ratib, kitab, (sanad) ilmu—dimobilisir sebagai instrumen oleh Baalwi guna mempengaruhi, menundukkan dan meletakkan pribumi di bawah kaki mereka. Lihat saja bagaimana Klan Habib Baalwi menyebarkan propaganda yang menekan mental pribumi supaya tunduk patuh kepada mereka—bahwa jika membatalkan nasab Baalwi maka runtuhlah ilmu di Nusantara karena sanad Islam di Nusantara berasal dari Baalwi, pribumi masih menyembah pohon jika bukan karena Baalwi, oleh karenanya pribumi harus berterimakasih kepada Baalwi; ratib-ratib yang diamalkan dan kitab Baalwi yang dipelajari umat Islam Nusantara dijadikan alat tekanan mental kepada pribumi supaya menghormati, mencintai, dan tunduk patuh pada mereka. Presumsi saya; memang begitu rencana Belanda dan Klan Habib Baalwi sejak masa penjajahan dan wajah aslinya baru terbuka jelas di zaman sekarang ini.

Operasi Belanda di Nusantara adalah menghapus (erase) kelompok agama elite masyarakat pribumi yang selama ini menjadi produsen perlawanan, lalu memasukkan Baalwi sebagai penggantinya (replace) yang dengan itu masyarakat pribumi terkendalikan oleh Belanda melalui Baalwi. Struktur keilmuan dan kultur spiritualitas existing dihapus dan diganti dengan struktur keilmuan dan kultur spiritualitas yang berinduk pada Baalwi. Pengindukan keilmuan dan kultur spiritualitas pribumi pada Baalwi merupakan upaya penjinakan, penaklukkan, dan pengendalian pikiran dan mental pribumi karena mereka memahami sistem tradisi masyarakat adalah taat sami’na wa ato’na pada guru dan orang tua. Makanya, nasab pribumi ke Walisongo dihapus dan diganti ke Baalwi, sanad ilmu dibelokkan ke Baalwi, tarekat dibelokkan dan dikerucutkan seluruhnya ke Baalwi, amaliah Baalwi disebarkan meminggirkan amaliah warisan Walisongo. Dengan begitu pribumi dikondisikan sami’na wa ato’na kepada Baalwi  sebagai figur otoritas agama sementara Baalwi sendiri taat pada Belanda. Maka pribumi secara tidak langsung taat kepada penjajah Belanda. Jadi, dengan mengamalkan ratib, amaliah, dan kitab Baalwi sama artinya melanggengkan skema penjajahan Belanda dan Klan Habib Baalwi terhadap pribumi.

Skema di atas yang dilakukan di Nusantara sudah dilakukan Klan Habib Baalwi sebagai hewan peliharaan lokal penjajah Inggris di Hadramaut Yaman.[8]

Operasi Intelijen? Bukan

“Apakah ini operasi intelijen supaya umat Islam sibuk dengan urusannya sendiri sehingga abai dengan urusan politik?” Saya agak terkejut memperoleh pertanyaan itu lantas menjawab spontan, “Lho, tunggu dulu, umat Islam jangan dikerucutkan hanya Klan Habib Baalwi saja atau NU saja. Muhammadiyah itu umat Islam juga lho.“ Pada skala ormas, keributan ini skupnya NU, ormas lain seperti misalnya Muhammadiyah dan PERSIS tidak sibuk dengan ulah Klan Habib Baalwi. Jadi asumsi yang terkandung dalam pertanyaan itu salah. “Ndak, ini bukan operasi intelijen, Aventador bilang operasi intelijen hitam, ndak ada itu” saya melanjutkan, “Kalau kami yang bergerak dari awal semuanya murni karena keresahan. Bahwa setelah satu tahun, dua tahun, ada yang ikut-ikut atau menunggangi atau entah istilah lainnya bagaimana, saya tidak tahu. Dan saya kira tidak terelakkan itu terjadi karena pasti bersinggungan dengan berbagai aspek kepentingan berbagai pihak dan negara (pemerintah). Wong isunya besar dan ramai begitu, pasti pemerintah dengar. Tapi, sekali lagi, kalau kami yang dari awal, semuanya murni karena keresahan. Masak, Mas, jenengan gak resah sejarah NU dipalsukan, sejarah bangsa dipalsukan, kuburan-kuburan dipalsukan—saya ada datanya, masyarakat didoktrin sesat, masak jenengan gak resah? Itu kan nyata terjadi lho itu.” “Iya, iya, iya,” ujarnya menyetujui.

Tidak mungkin isu ini bertahan sampai 3 tahun lebih kalau bukan karena digerakkan oleh kemurnian. Salah satu Raja Media Indonesia, Dahlah Iskan, mengatakan bahwa sehebat-hebat redaktur, belum pernah ada yang mampu menjaga kehebohan sebuah peristiwa melebihi 40 hari.[9] Isu kejahatan Habib Baalwi ini sudah lebih dari 3 tahun menuju 4 tahun, sudah 1080 hari lebih menuju 1440 hari. Durasinya sudah berpuluh-puluh kali lipat, di atas 3000% dari batasan maksimum ‘sehebat-hebat redaktur’ yang disebutkan Dahlan Iskan. What enormous energy! Kalau redakturnya manusia, menurut standar ukur Dahlan Iskan, belum pernah ada yang mampu; atau lugasnya: tidak bisa.

Durasi waktu menuju 1440 hari merupakan bukti nyata bahwa ini bukan operasi intelijen melainkan kemurnian spirit dan redakturnya bukan manusia melainkan redakturnya adalah Allah Swt sendiri (dan melalui kabinet-kabinetnya). Yang memungkinkan stamina mental para aktivis tak habis-habis dalam durasi panjang demikian karena sumber motivasinya internal transenden bukan eksternal. Umpamanya bersumber dari motivasi eksternal, semisal dibayar uang; ketika uang habis, habis pula gerakannya, orang berhenti karena aliran uang yang diterima berhenti. Berbeda dengan sumber motivasi eksternal: sumber motivasi internal apalagi sifatnya transenden di mana Allah dan Rasulullah abadi keberadaannya maka abadi pulalah motivasinya, energi geraknya tidak akan ada habisnya.

Bayangkan. Kita dipersekusi, diintimidasi, diancam dibunuh, dicacimaki, dihina, difitnah, ada yang sampai diturunkan jabatannya dan mengalami kesulitan finansial, dituntut ke ranah hukum—ada yang masuk penjara, masyarakat rela berlelah-lelah ke sana kemari; mengorbankan harta, benda, waktu, dan energinya; semua halangan berat itu dijalani dan tak menghentikan manusia-manusia itu untuk terus berjuang. Tulisan terus kita produksi, buku terus kita rilis, edukasi di medsos terus berjalan, gerak di lapangan terus berderap. Bayangkan itu semua berjalan lebih dari 1080 hari menuju 1440 hari. Tekad macam apa itu, bersumber dari mana tekad semacam itu, kekuatan macam apa yang bisa menggerakkan seperti itu kalau bukan karena kemurnian dan karena Allah dan Rasulullah.

Kelompok Kyai Imad Outlier

Seorang dosen turut berkomentar, “Saya lihat kelompok Kyai Imad itu outlier.” “Outlier seperti apa by definisinya?” “Itu Kyai Ikhya bilang Nabi Adam punya orang tua.” “Oh itu, hahaha. Ya, itu pendapat beliau, tidak mewakili seluruhnya. Kyai-kyai yang berinteraksi dengan saya banyak yang tidak setuju. Tapi Kyai Ikhya sudah memberikan dasar argumentasinya seperti kitab Futuhat Makkiyah Ibnu Araby, kitab tafsir, dan lain-lain. Coba dicek saja. Bagi saya itu ndak penting, bagi saya pribadi lho ya, karena toh kita sama-sama tidak bisa membuktikan realitasnya bagaimana. Kan kita sama-sama tidak bisa menyaksikan peristiwa di masa lampau semacam itu untuk mengetahui kepastian realitasnya bagaimana. Makanya saya pribadi tidak mau membahas. Saya kira kekurangtepatan Kyai Ikhya ada pada delivery komunikasi publiknya saja. Kalau pun dua pendapat itu sama-sama bersikukuh, ada jalan komprominya yaitu itu peristiwa filosofis kesadaran (bukan peristiwa materiil), begini begini dan begitu. Seingat saya, di Bangbang Wetan, Mbah Nun juga pernah berceramah berpendapat mirip Kyai Ikhya tentang Nabi Adam.” Seseorang memberi respon, “Itu di ayat ketika malaikat protes kepada Allah saat Nabi Adam dijadikan khalifah di bumi, ayat itu kan  menyiratkan berarti sudah ada manusia sebelum Nabi Adam.” Saya mengamini dan berkata, “Tapi ya itu, ndak pentinglah itu, gak berguna, wong sama-sama ndak bisa membuktikan realitasnya gimana, ngga akan ada ujungnya,” menutup percakapan tentang Nabi Adam dan Kyai Ikhya.

Barangkali pendapat Nabi Adam punya orang tua atau tidak punya orang tua penting diusut dan dipastikan bagi sebagian orang. Saya menghormati itu. Tetapi bagi saya tidak penting karena saya tidak menemukan urgensinya, manfaatnya dan bagaimana cara pembuktian kepastian realitasnya. Perjalanan saya pribadi pada akhirnya menginsafkan curiosity saya yang meledak-ledak pada banyak hal di kehidupan ini bahwa tidak semua hal harus kita pastikan kebenaran realitasnya dan tidak semua hal harus kita pahami detail mekanismenya. Saya pada akhirnya mengerti dan kembali ke doa Rasulullah Saw: Allahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqan thayyiba, wa ‘amalan mutaqabbala. Bahwa ada 2 (dua) kategori ilmu: yang manfaat dan yang tidak manfaat. Ilmu yang diminta ke Allah adalah ilmu yang bermanfaat saja. Orientasinya adalah kebermanfaatan. Apa manfaatnya.

Kadang, pada banyak hal, yang terbaik bagi manusia hanya harus merelakan saja sesuatu tidak kita pahami dan membiarkannya tetap menjadi misteri lalu sekedar menikmatinya saja. Manusia tidak harus mengerti segalanya. Namun apabila tetap berteguh hati bahwa Nabi Adam as punya orang tua dan bersedia menghabiskan waktu dalam perdebatannya, pertanyaan ini patut direnungi: apakah pencapaian kebudayaan manusia saat ini tepat untuk membicarakan dan menginvestigasinya? Apa manfaat konkritnya saat ini?

Yang saya pahami untuk diri saya sendiri bahwa saya harus seoptimal mungkin berupaya mengetahui kapan harus mendorong dan kapan harus menahan diri betapapun yakinnya kita tentang kebenaran sesuatu sebab “Menjadi benar terlalu cepat sama saja dengan salah” (Kaisar Hadrian). Wallahualam bisshawab.

[1] Download buku tersebut di link ini https://rminubanten.or.id/kh-imaduddin-utsman-al-bantani-luncurkan-buku-fakta-historis-usman-bin-yahya-menurut-sumber-primer/

[2] Detail nama tidak dipublikasikan guna memitigas hal-hal tertentu yang berpotensi tidak baik

[3] KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer, Nahdlatul Ulum, 2026, h. 24

[4] Pelajari lebih dalam di Kesaksian Ulama Yaman Tentang Peran Ba’alwi dalam Pemalsuan Sejarah Hadramaut https://www.nahdlatul-ulum.com/kesaksian-ulama-yaman-tentang-peran-baalwi-dalam-pemalsuan-sejarah-hadramaut/

[5] Komunis Yaman dan Mispersepsi Umat Islam Indonesia https://www.dw.com/id/komunitas-arab-yaman-di-indonesia-dan-potret-buram-negara-yaman-di-timur-tengah/a-45763161

[6] L.W.C. van den Berg, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, (1886), INIS, Jakarta, 1989 h. 116 dalam Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer, KH. Imaduddin Utsman Al Bantani, Nahdlatul Ulum, 2026, h. 8.

[7] ibid, h. 117, dalam Fakta Historis h. 8

[8] Kesaksian Ulama Yaman Tentang Peran Ba’alwi dalam Pemalsuan Sejarah Hadramaut https://www.nahdlatul-ulum.com/kesaksian-ulama-yaman-tentang-peran-baalwi-dalam-pemalsuan-sejarah-hadramaut/

[9] Creator Nasab https://disway.id/catatan-harian-dahlan/722110/creator-nasab (29 Agustus 2023)

ShareTweetShare
Previous Post

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

Related Posts

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
48

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
110

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
23

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
67

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
118

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
52

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
236

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
232

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
80

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
621

Paling Banyak Dilihat

Opini

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

by Admin
3 Juni 2026
11

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Prolog Tulisan ini hadir setelah penulis rampung membaca buku “Fakta...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

KH Syam’un: Jenderal Ulama dan Tokoh NU

KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Luncurkan Buku “Fakta Historis Usman bin Yahya Menurut Sumber Primer”

Buku “Y-DNA Nabi Muhammad SAW” Hadirkan Pendekatan Genetika dalam Kajian Nasab Islam Modern

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.1k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25