• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home KH Imaduddin al Bantani

Menanggapi Ustad Taufik Segaf

by Admin
12 Januari 2024
in KH Imaduddin al Bantani, Kitab, Manuskrip, Pustaka, Tokoh, Ulama
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

كتاب الشجرة الطيبة في اثبات نسب بني قتادة تأليف: عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي القادري

Itsbat Nasab Bani Qatadah dan Raja Yordan

Klan Ba’alawi Melamar Putri Kiai, Ditolak Keluarga Jauh Dengan Alasan Kafa’ah: Nikah Tetap Sah?

Lama penulis menanti jawaban Ustad Taufik Segaf tentang dua belas pertanyaan penulis, namun ia tak kunjung datang. konsekwensinya, bila dua belas pertanyaan dan narasi ilmiah yang penulis kirimkan bahwa Ba Alwi bukan keturunan Nabi tidak bisa dijawab dan dibantah, maka mereka seharusnya merasa malu untuk mengaku di hadapan publik bahwa mereka adalah keturunan Nabi Muhammad Saw. Kini telah tersebar dan telah banyak diyakini masyarakat luas, bahwa Ba Alwi bukanlah keturunan Baginda Nabi Muhammad Saw. Kajian kitab nasab dan sejarah menyimpulkan bahwa pengakuan mereka sebagai keturunan Nabi adalah pengakuan yang baru muncul di tengah perjalanan keluarga mereka. Hasil test DNA menyebutkan bahwa keluarga mereka berhaplogroup “G”, yaitu klasifikasi bahwa mereka bukan orang Arab apalagi keturunan Nabi.

Nasab bukanlah rukun iman, dimana sebuah proposisi (pernyataan) harus diyakini apa adanya sebagaimana ia diperkenalkan; nasab adalah sebuah silogisme yang tidak bisa berdiri dari ruang hampa. Ia memerlukan premis pendahuluan dari masa lalu, sehingga sebuah pengakuan nasab hari ini kemudian bisa disidangkan di tengah meja ilmiiah sesuai kesahihan premis masa lalunya.

Ketika duabelas pertanyaan penulis tidak mampu dijawab, Sebuah video Youtube diunggah. Dalam video itu, tampak Ustad Taufik Segaf duduk di sebuah bangku dalam sebuah pertemuan, entah acara pengajian atau lainnya, lalu seseorang yang tidak tampak dalam video bertanya:

“Ustad, bagaimana kita menanggapi isu yang terkait tersebarnya terputusnya nasab sadah bani Alawi ini, di mana kita sebagai pecinta, kita merasa sakit hati, bahkan ada ulama yang membenarkan ucapan ini..”

Belum selesai ia bertanya, Taufik memotong “Siapa ulamanya? Sekelas apa ulamanya?.. ya itu kan…itu aja yah pertanyaanya?”

lalu penanya itu melanjutkan

“Sama yang kedua, ustad, bagaimana hukumnya sumpah atas nama Allah, atau kitab alquran, akan tetapi ia juga memberikan konsekwensi seperti apabila ucapan dia salah ia akan mati, dan apabila ucapan orang itu benar apakah bisa disebutkan ucapan orang ini benar?”

Lalu Ustad Taufik Menjawab

“Ulama itu siapa, sekelas siapa, kita nih kadang-kadang mengatakan ulama, ulama yang mana? Sekarang saya mau Tanya, kalau ada orang mengatakan Imam Syafi’i berkata “A”, lalu ia mengatakan Imam Syafi’I keliru, ulama? Misalnya, Imam Nawawi itu keliru, yang bener itu begini, penemuan saya begini, itu ulama? Ya gak. Ahli nasab mengatakan nasab Ba Alawi itu tersambung, kemudian ada orang pakai sorban mengatakan gak tersambung, ulama? Males. Paham ya. Itu bukan ulama. Itu ulam fil ma, dia bukan ulama, ada apa diladeni. Masa ulama, udah jelas, jadi kalau orang itu, kalau ngomong, dilihat siapa yang ngomong, apa omongannya, siapa yang diomongin, anda bisa tahu itu…. ini ada orang di pasar mengkritik professor, paham ya, omongannya ngelantur..”

Jawaban Ustad Taufik itu masih panjang, tetapi yang laik untuk penulis tanggapi, sepertinya, hanya sampai di sana. Karena, narasi di atas ada kaitannya dengan keterputusan nasab Ba Alwi. Jawaban lainnya agaknya tidak terlalu perlu ditanggapi, karena hanya narasi apologetic yang tidak pantas dijawab orang-orang berilmu.

Sebenarnya, jawaban Taufik yang penulis kutip itupun tidak memenuhi standar jawaban ilmiah, tetapi itu kesempatan bagus yang bisa penulis ambil untuk mengatakan kepada masyarakat bahwa terputusnya nasab Ba Alwi itu memang merupakan sebuah kebenaran yang tidak dapat dibantah, terbukti dari ketuanya saja, ketika ditanya tentang tanggapan atau jawaban terhadapan tesis bahwa Ba Alawi bukanlah keturunan Nabi Muhammad Saw., hanya mampu menjawab dengan jawaban seperti di atas: tidak ada dalil apapun; tidak ada pendapat ulama yang disebutkan; tidak ada bantahan dari dua belas pertanyaan dan narasi penulis, kecuali mengelak dan memframing, bahwa yang berpendapat itu bukanlah ulama, ia hanya orang-orang di pasar.

Ia mengatakan: yang membatalkan nasab Ba Alwi bukan ulama, padahal dalam surat penulis, selain penulis sematkan nama lengkap penulis, penulis pula tambahkan bahwa penulis adalah pengasuh pondok pesantren, Ketua Komisi Fatwa MUI Provinsi Banten, dan pengurus LBM PBNU. Masa pengasuh pondok pesantren bukan ulama; Ketua Komisi fatwa bukan ulama; pengurus LBM PBNU bukan ulama. Apakah ulama itu, menurut Taufik Segaf, harus dari marga Ba Alwi atau ia yang mau mengakui Ba Alwi sebagai keturunan Nabi saja?

Kata Taufik, yang membatalkan nasab Ba Alwi hanya sekelas orang-orang di pasar. Ia belum tahu, atau pura-pura tidak tahu, bahwa kiai-kiai di tempatnya berada, Pasuruan, telah mengundang penulis untuk berceramah di sana, dan setelah ceramah, para kiai sepuh di Pasuruan mengundang penulis untuk mampir ke rumahnya, ke pesantrennya, sekedar untuk mengatakan bahwa mereka mendukung penulis, setuju dengan tesis penulis, dan agar penulis melanjutkan sosialisasi batalnya nasab Ba Alwi. Apakah kiai-kiai itu, menurut Taufik, hanya orang-orang di pasar?

Ketika tersebar berita bahwa penulis tengah berada di Pasuruan, lalu ulama-ulama dari daerah lain menghubungi agar penulis-pun bersedia mampir ke rumahnya, ke pesantrennya: di Magetan, Probolinggo dan kiai- kiai di Jember. Apakah mereka bukan ulama dan hanya orang-orang pasar?

Banyak ulama-ulama yang telah menghubungi penulis, agar jika penulis berada di daerahnya, penulis bersedia mampir ke rumahnya, ke pesantrennya, dan kebanyakan dari undangan silaturahmi itu, belum dapat penulis penuhi karena keterbatasan waktu.

Beberapa PCNU di pulau Jawa bahkan telah mengundang penulis. Mereka mengumpulkan pengurus mulai dari jajaran syuriah, tanfidziah, MWC sampai ke pengurus ranting untuk berdiskusi dengan penulis. Sebagian dengan mengadakan acara umum, sebagian lagi acara tertutup. Sebagian sengaja dipublikasi, sebagian lagi tidak. Apakah mereka bukan ulama dan hanya orang-orang pasar?.

Dari luar Pulau Jawa, banyak kiai-kiai, tuan guru, yang datang ke pesantren penulis, menyatakan dukungan dan keterharuan, bahkan dari mereka, ada yang hanya sekedar membacakan puisi di hadapan penulis yang telah dipersiapkannya dari rumah. Seperti puisi dari Sumatra, dari Jawa Timur ada yang membuat sy’air dalam tembang-tembang Bahasa Arab. Sebagian dari mereka lagi, menghubungi penulis dengan alat telekomunikasi: dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Sebagian lagi meminta waktu untuk diadakan acara ceramah dan seminar penulis di pulau-pulau itu. Apakah mereka bukan ulama?

Semua narasi berkesan riya dan sum’ah itu, dengan berat penulis sampaikan, untuk menjawab pertanyaan Ustad Taufik Segaf “siapa ulama itu?”

Matahari memang masih sama, tapi waktu telah berubah. Bangsa Indonesia telah cerdas. Ini yang harus diperhatikan. Tidak ada lagi jalan keluar, selain mengindonesia dengan seindonesia-indonesianya. Melucuti nama yang bukan ngindonesia; melupakan pengakuan palsu nasab mulia. Tataplah masa depan dengan persiapan pengetahuan dan prestasi yang membanggakan, bukan dengan hal lain yang mencederai kemanusiaan. Tanah air ini kaya raya; subur dan makmur. Tanahnya dapat memberi kenyang semua yang ada di atasnya; airnya dapat menghilangkan dahaga putra-putrinya. Syukurilah anak negeri ini mau berbagi. Cintai dan banggakan ia. Jangan lagi sebut nama negeri jauh yang dapat membuat putra-putri negeri ini cemburu. Karena negeri inilah yang memberimu segala-galanyanya. Bukan negeri miskin di sana yang mengusir putra-putrinya karena tidak mampu memberinya sepotong roti dan sesuap nasi.

Indonesia ini tanah pusaka; tercipta dengan takdir makanan yang melimpah; putra-putrinya cerdas, sopan dan berbudaya; Borobudur dan Prambanan adalah bukti bahwa Bangsa ini adalah bangsa berperadaban besar dan kebudayaan yang tinggi. Ia hanya sejajar dengan Yunani dengan koleseumnya; Mesir dengan piramidanya; China dengan temboknya; dan Turki dengan Gobeklinya.

Penulis: Imaduddin Utsman al-Bantani

Tags: ba alawiba alawi rungkadBa Alwibahar bin smithbin yahyabudaya nusantraDzuriyyahDzuriyyah Nabihabaibhabibhaluhanif alatasHRSisnad palsuKeturunan Nabiketurunan palsuKeturunan RasulullahKRT. FAQIH WIRAHADININGRATmakammakam palsumanuskripNasabnasab palsunasab rungkadpemalsuan nasabpemalsuan silsilahpembelokan sejarahpembongkaran makamRasulRasulullah SAWrekomendasi kepada negararumail abbasrungkadsanad ilmusejarah keratonSilsilah Habibsilsilah nasabsitus budayasumodiningrattest DNAthoha bin yahyaUbaidUbaidillahulamautsman bin yahya
ShareTweetShare
Previous Post

Keturunan Nabi Muhammad SAW Yang Asli Di Yaman Membatalkan Nasab Ba Alawi

Next Post

Pilpres Dan Pilar Kebangsaan Yang Harus Dipahami

Related Posts

Kesaksian Kromosom (Y-DNA) Terhadap Validitas Nasab Tradisional Asyraf Al-Musawi Al-Husaini di Karbala

8 Oktober 2026
134

Kitab Al-Syajarah Al-Thayyibah, Kitab Terbaru Karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani

24 September 2026
265

كتاب الشجرة الطيبة في اثبات نسب بني قتادة تأليف: عماد الدين عثمان البنتني الجاوي الشافعي القادري

21 September 2026
221

Itsbat Nasab Bani Qatadah dan Raja Yordan

14 September 2026
377

Klan Ba’alawi Melamar Putri Kiai, Ditolak Keluarga Jauh Dengan Alasan Kafa’ah: Nikah Tetap Sah?

14 September 2026
155

Menyelaraskan Genetika dan Kitab Suci: Jejak DNA Neanderthal dan Denisovan Pada Manusia Modern

7 September 2026
531

RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

4 September 2026
964

Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

2 September 2026
481

Kiai Imad Mendoakan NU di Hadapan Makam Mbah Wahab Hasbullah

29 Agustus 2026
158

جواب عماد الدين عثمان البنتني عن كتاب الخلاصة النفيسة لابن حرجو الجاوي

1 Agustus 2026
513
Next Post

Pilpres Dan Pilar Kebangsaan Yang Harus Dipahami

Paling Banyak Dilihat

Berita

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

by Admin
25 Oktober 2026
9

Penulis: Rifky Zulkarnaen J. Baswara Mukadimah Tulisan ini penulis tujukan khususnya kepada para pejabat  yang memiliki sedikit waktu untuk melakukan...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Fatalitas Haul Nama Kota Klan Habib Baalwi

Fakta Sejarah Lahirnya Hari Santri Nasional

Dari Upacara hingga Panggung Tiga Bahasa, Hari Santri di Baitul Muqoddas Berlangsung Meriah

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25