• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Pesantren

Menengok Sejarah Pesantren di Nusantara

by Admin
13 Oktober 2025
in Pesantren, Sejarah
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Pesantren pertama kali ada di Nusantara ini diinisiasi oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim dari Gujarat India di awal abad 15 Masehi, saat itu berfungsi sebagai tempat pengajaran agama IsIam bagi penduduk pribumi. Sang Syaikh itu kemudian dikenal dengan Kakek Bantal, atau masyhur disebut Sunan Gresik, ulama besar yang menyebarkan Islam di Jawa ( Caecilia Mediana, 2025 ).

Ampel, pesantren berikutnya yang jadi tujuan belajar agama, letaknya di Surabaya Jawa Timur. Ampel, satu daerah pinggiran yang menjorok ke laut yang disebut delta, daerah khusus pemberian dari Raja Bre Wijaya V kepada keponakannya, yaitu Syaikh Sayid Ali Rahmatullah dari Champa ( kini Vietnam). Lalu penduduk Ampel memanggilnya Susuhunan Ampel ( orang yang dimuliakan di Ampel).

Dari Ampel, pengajaran ilmu agama Islam semakin meluas dilanjutkan oleh santri-santrinya yang berkiprah dalam pengajaran agama di daerahnya masing-masing, antara lain Giri adalah pelanjut Ampel hingga pengaruhnya meluas seluruh Nusantara, hampir dipastikan para penyebar agama Islam di pelosok Nusantara itu santri Giri yang diasuh oleh Syaikh Sayid Maulana Ainul Yaqin, dan penduduk setempat menyebutnya Susuhunan Giri, sang mursyid agung pewaris ayahnya Syaikh Maulana Ishaq ( Agus Sunyoto, 2021).

Awal abad 16 hingga abad 17 Masehi, transmisi ilmu agama IsIam dilanjutkan oleh cucu murid dari para susuhunan dengan basis pesantren hingga muncul pesantren-pesantren yang meneruskan estapeta pengajaran agama para Wali Songo tersebut, antara lain di Benda Kerep Cirebon, cicitnya Kanjeng Sunan Gunung Jati, hingga membentuk 3 daerah basis pesantren yaitu Buntet, Kempek, dan Babakan Ciwaringin ( Kairin Toha, 2019).

Baca Juga

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

Rizieq Syihab Mengaku Keturunan Si Pitung, Data Sezaman: Si Pitung Mencuri Setrika Baju

Begitupun di Ponorogo, Jawa Timur menjadi titik tengah pelanjut transmisi ilmu-ilmu agama IsIam yang dimulai abad 18 Masehi yaitu peran Syaikh Muhammad Besari dan menjadi masyhur ketika dilanjutkan oleh puteranya yaitu Syaikh Hasan Besari, seorang ulama besar, guru agungnya Pangeran Mangkubumi, pendiri Kesultanan Yogyakarta ( Mohammad Alwi Shiddiq, 2022 ).

Abad 17,18, hingga abad 19 Masehi dalam tekanan imperialisme kolonialisme, justru pesantren tumbuh subur di tiap pelosok negeri dari Aceh, Sumatera, Banjar Kalimantan, Makassar Sulawesi, dan daerah-daerah Maluku dan Papua, berkat gigihnya pengajaran ilmu agama Islam yang dilakukan oleh Syaikh Dato Ribandang ( santri Sunan Giri) di abad 16 dan diteruskan oleh murid dan cucu-cucu muridnya yang tinggal di belahan Nusantara bagian timur ( Hilman Latief, 2016 ).

Pada abad 19 Masehi, tonggak sejarah kedigdayaan pesantren dimulai dari Darat Semarang, pesantrennya diasuh oleh Syaikh Soleh Darat, Lalu Bangkalan Madura yang diasuh oleh Syaikhona Kholil, Siwalan Panji diasuh oleh Kiai Ya’qub, di desa Keras oleh Kiai Usman, di Purwakarta diasuh oleh Syaikh Baing Yusuf, di Lopang diasuh oleh Syaikh Sahal, dan di beberapa daerah seluruh Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga Papua ( Akhmad Luthfi Aziz, 2018).

Awal abad 20 Masehi, Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadrotusyaikh Hasyim Asy’ari, muassis agung Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, menjadi mercusuar peradaban pesantren di Nusantara, santrinya yang berasal dari seluruh Nusantara, ketika kembali ke kampung halamannya, mereka meneruskan ilmu-ilmu agama yang diperoleh dari Hadrotusyaikh.

Pesantren Lirboyo, yang didirikan oleh Syaikh Abdul Karim Manaf di awal abad 20 telah menjelma menjadi pusatnya peradaban ilmu agama IsIam di Jawa, terutama ketika oleh dua menantunya Kiai Marzuki Dahlan, Kiai Mahrus Ali. Begitu pula pesantren Tambak Beras, yang diasuh oleh Kiai Wahab Chasbullah, dan beberapa pesantren lainnya di Jawa Timur, terutama pesantren Langitan Tuban ( Kadi, 2018 ).

Lalu tumbuh subur pesantren-pesantren besar lainnya di Jawa Tengah seperti di Lasem, yang diasuh Kiai Mas’um, di Sarang diasuh Kiai Zubair, di Watuncongol Magelang diasuh Mbah Dalhar, di Kudus diasuh oleh KH. Raden Asnawi, di Jogja diasuh oleh Kiai Munawir, dan beberapa pesantren di seantero Jawa Tengah lainnya.

Awal abad 20 Masehi di Banten tumbuh subur pesantren pesantren, seperti pesantren Pelamunan Serang, pesantren Al-Khaeriyah Citangkil Cilegon, pesantren Kananga Menes, Pesantren Combong Baros, Pesantren Undar Andir Serang, Pesantren Cibeber Cilegon, pesantren Kadu Peusing Pandeglang, dan di beberapa daerah di Banten ( Ani Anggrayani, 2021 ).

Jadi, pesantren adalah basis pengajaran ilmu-ilmu agama IsIam, kawah candradimuka ulama dan tokoh agama serta pemimpin umat, para cendikiawan muslim. Sekaligus lingkungan yang membentuk karakter muslim yang mukmin dan muhsin. Bilik bilik pondoknya menjadi tempat penggemblengan kemandirian hidup, tata aturannya untuk membentuk adab dan akhlak mulia.

Serang, 11 Oktober 2025
Oleh: Hamdan Suhaemi

ShareTweetShare
Previous Post

Trias Politica John Locke, Palu Godam Absolutisme Raja

Next Post

Tirakat Fenomenologi Martin Heidegger, Sang Pelihat Dari Messkirch

Related Posts

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

17 April 2026
79

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

16 April 2026
166

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

10 April 2026
99

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

9 April 2026
61

Rizieq Syihab Mengaku Keturunan Si Pitung, Data Sezaman: Si Pitung Mencuri Setrika Baju

7 April 2026
243

Melawan Hegemoni Ba’alwi: Menuju Dekolonisasi Mental Pesantren

25 Maret 2026
66

Logika Mantiqi Tentang Batalnya Nasab Ba’alwi: Ustadz Nuruddin dan Santri Pondok Sarang Harusnya Sudah Faham

15 Februari 2026
253

Bantah Riziq Syihab, Dr. KH Abbas Bili Yahsyi: Habib Ba ‘Alwi Bukan Penyebar Islam di Indonesia

5 Februari 2026
121

Sebelas Kemungkinan Mengapa DNA Bani Hasyim Ada Yang Berhaplogrup Bukan J1

22 Januari 2026
214

Isra Mi’raj di Pesantren Sidadung: Spirit Santri Putri Menjemput Cahaya dan Amanah Peradaban

19 Januari 2026
70
Next Post

Tirakat Fenomenologi Martin Heidegger, Sang Pelihat Dari Messkirch

Paling Banyak Dilihat

Opini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

by Admin
18 April 2026
0

Oleh: Rifky J. Baswara Terbongkarnya kepalsuan nasab Ba’alwi melahirkan perubahan struktur social di tengah masyarakat Jawa. Kaum Ba’alwi yang dulu...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.8k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25