Pesantren pertama kali ada di Nusantara ini diinisiasi oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim dari Gujarat India di awal abad 15 Masehi, saat itu berfungsi sebagai tempat pengajaran agama IsIam bagi penduduk pribumi. Sang Syaikh itu kemudian dikenal dengan Kakek Bantal, atau masyhur disebut Sunan Gresik, ulama besar yang menyebarkan Islam di Jawa ( Caecilia Mediana, 2025 ).
Ampel, pesantren berikutnya yang jadi tujuan belajar agama, letaknya di Surabaya Jawa Timur. Ampel, satu daerah pinggiran yang menjorok ke laut yang disebut delta, daerah khusus pemberian dari Raja Bre Wijaya V kepada keponakannya, yaitu Syaikh Sayid Ali Rahmatullah dari Champa ( kini Vietnam). Lalu penduduk Ampel memanggilnya Susuhunan Ampel ( orang yang dimuliakan di Ampel).
Dari Ampel, pengajaran ilmu agama Islam semakin meluas dilanjutkan oleh santri-santrinya yang berkiprah dalam pengajaran agama di daerahnya masing-masing, antara lain Giri adalah pelanjut Ampel hingga pengaruhnya meluas seluruh Nusantara, hampir dipastikan para penyebar agama Islam di pelosok Nusantara itu santri Giri yang diasuh oleh Syaikh Sayid Maulana Ainul Yaqin, dan penduduk setempat menyebutnya Susuhunan Giri, sang mursyid agung pewaris ayahnya Syaikh Maulana Ishaq ( Agus Sunyoto, 2021).
Awal abad 16 hingga abad 17 Masehi, transmisi ilmu agama IsIam dilanjutkan oleh cucu murid dari para susuhunan dengan basis pesantren hingga muncul pesantren-pesantren yang meneruskan estapeta pengajaran agama para Wali Songo tersebut, antara lain di Benda Kerep Cirebon, cicitnya Kanjeng Sunan Gunung Jati, hingga membentuk 3 daerah basis pesantren yaitu Buntet, Kempek, dan Babakan Ciwaringin ( Kairin Toha, 2019).
Begitupun di Ponorogo, Jawa Timur menjadi titik tengah pelanjut transmisi ilmu-ilmu agama IsIam yang dimulai abad 18 Masehi yaitu peran Syaikh Muhammad Besari dan menjadi masyhur ketika dilanjutkan oleh puteranya yaitu Syaikh Hasan Besari, seorang ulama besar, guru agungnya Pangeran Mangkubumi, pendiri Kesultanan Yogyakarta ( Mohammad Alwi Shiddiq, 2022 ).
Abad 17,18, hingga abad 19 Masehi dalam tekanan imperialisme kolonialisme, justru pesantren tumbuh subur di tiap pelosok negeri dari Aceh, Sumatera, Banjar Kalimantan, Makassar Sulawesi, dan daerah-daerah Maluku dan Papua, berkat gigihnya pengajaran ilmu agama Islam yang dilakukan oleh Syaikh Dato Ribandang ( santri Sunan Giri) di abad 16 dan diteruskan oleh murid dan cucu-cucu muridnya yang tinggal di belahan Nusantara bagian timur ( Hilman Latief, 2016 ).
Pada abad 19 Masehi, tonggak sejarah kedigdayaan pesantren dimulai dari Darat Semarang, pesantrennya diasuh oleh Syaikh Soleh Darat, Lalu Bangkalan Madura yang diasuh oleh Syaikhona Kholil, Siwalan Panji diasuh oleh Kiai Ya’qub, di desa Keras oleh Kiai Usman, di Purwakarta diasuh oleh Syaikh Baing Yusuf, di Lopang diasuh oleh Syaikh Sahal, dan di beberapa daerah seluruh Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga Papua ( Akhmad Luthfi Aziz, 2018).
Awal abad 20 Masehi, Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadrotusyaikh Hasyim Asy’ari, muassis agung Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, menjadi mercusuar peradaban pesantren di Nusantara, santrinya yang berasal dari seluruh Nusantara, ketika kembali ke kampung halamannya, mereka meneruskan ilmu-ilmu agama yang diperoleh dari Hadrotusyaikh.
Pesantren Lirboyo, yang didirikan oleh Syaikh Abdul Karim Manaf di awal abad 20 telah menjelma menjadi pusatnya peradaban ilmu agama IsIam di Jawa, terutama ketika oleh dua menantunya Kiai Marzuki Dahlan, Kiai Mahrus Ali. Begitu pula pesantren Tambak Beras, yang diasuh oleh Kiai Wahab Chasbullah, dan beberapa pesantren lainnya di Jawa Timur, terutama pesantren Langitan Tuban ( Kadi, 2018 ).
Lalu tumbuh subur pesantren-pesantren besar lainnya di Jawa Tengah seperti di Lasem, yang diasuh Kiai Mas’um, di Sarang diasuh Kiai Zubair, di Watuncongol Magelang diasuh Mbah Dalhar, di Kudus diasuh oleh KH. Raden Asnawi, di Jogja diasuh oleh Kiai Munawir, dan beberapa pesantren di seantero Jawa Tengah lainnya.
Awal abad 20 Masehi di Banten tumbuh subur pesantren pesantren, seperti pesantren Pelamunan Serang, pesantren Al-Khaeriyah Citangkil Cilegon, pesantren Kananga Menes, Pesantren Combong Baros, Pesantren Undar Andir Serang, Pesantren Cibeber Cilegon, pesantren Kadu Peusing Pandeglang, dan di beberapa daerah di Banten ( Ani Anggrayani, 2021 ).
Jadi, pesantren adalah basis pengajaran ilmu-ilmu agama IsIam, kawah candradimuka ulama dan tokoh agama serta pemimpin umat, para cendikiawan muslim. Sekaligus lingkungan yang membentuk karakter muslim yang mukmin dan muhsin. Bilik bilik pondoknya menjadi tempat penggemblengan kemandirian hidup, tata aturannya untuk membentuk adab dan akhlak mulia.
Serang, 11 Oktober 2025
Oleh: Hamdan Suhaemi