• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home KH Imaduddin al Bantani

Kedustaan Kitab Al Raddul Mufhim Karya Ba’alwi Dalam Menjawab Murad Syukri Suwaidan

by Admin
15 Agustus 2024
in KH Imaduddin al Bantani, Kitab, Manuskrip, Pesantren, Santri, Sejarah, Tokoh, Ulama
6 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Syekh Murad Syukri Suwaidan menggugat nasab Ba Alwi dan mengatakan bahwa nasab Ba’alwi sebagai nasab yang batil, karena tidak disebut dalam kitab Umdat al-Tolib karya Ibnu Inabah (w. 828 H.). Syekh Murad Syukri Suwaidan, Ia adalah ulama madhab Hambali di Kementerian Wakaf Negara Yordania. Ia banyak menulis kitab dalam ilmu fikih. Di antara kitabnya adalah “Raf’ul Haraj Wa al-Asor An al-Muslimin Fi Hadzihi al-A’sor”. Ia juga menulis sebuah kitab yang membatalkan nasab Ba Alwi dengan judul “Al-Ithaf Fi Ibtal Nasabi al-Hashimiy Li Bani Alwi Wa al-Saqqaf”.

Ibnu Inabah hidup satu masa dengan Syekh Abdurrahman al-Sagaf, seharusnya, Ibnu Inabah sudah mencatat Ubaidillah sebagai anak Ahmad dalam kitabnya itu, jika ia yakin bahwa Abdurrahman al-Sagaf keturunan Nabi Muhammad SAW. Ketika Ibnu Inabah tidak mencatatnya, ini adalah bukti bahwa Ubaidillah, leluhur Abdurrahman, bukan keturunan Nabi.

Setidaknya, ada dua kitab ditulis oleh Ba Alwi dan pendukungnya untuk menjawab gugatan Syekh Murad: pertama kitab “Al-Radd al-Mufhim al-Mubin” yang ditulis oleh Hasan bin Ali al-Sagaf. Yang kedua, adalah kitab “Al-Summ al-Za’af” karya Abi Laith al-Idrisi al-Kattani.

Dalam kesempatan ini akan penulis tunjukan kedustaan ilmiyah yang dilakukan Hasan al Saqaf dalam menjawab Murad Syukri, di antaranya:

Baca Juga

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

  1. Hasan al-Sagaf mengatakan Ibnu Inabah punya kitab lain berjudul “Bahrul Ansab”, ia disebut juga “Umdat al-Talib al-Kubro”, di sana ia menyebut nasab Abdurrahman al-Sagaf sampai Ali bin Abi Talib (h. 9). Penulis menjawab, tidak ada nama Abdurrahman al-Saqaf disebut dalam kitab “Bahr al-Ansab” atau “Umdat al-Talib al-Kubro” karya Ibnu Inabah. Kalau ada, mana bukti materilnya? Mana kitabnya? Halaman berapa? Dicetak dari manuskrip mana? Manuskripnya ditulis tahun berapa? Siapa yang mneyalinnya? Selama ini manuskrip itu disimpan di perpustakaan mana? TIDAK ADA. Semua itu kedustaan semata.
  2. Hasan al-saqaf mengatakan, Ibnu Inabah mengarang satu kitab khusus yang menerangkan nasab Ba Alwi, bernama “Risalat fi Ushuli Syajarat al Sadat Ba’alwi” sebagaimana disebut dalam kitab “Al-A’lam” karya Al-Zirikli (w. 1976 M.) (h. 9 & 13). Penulis menjawab, Ibnu Inabah tidak mempunyai kitab yang membahas khusus keluarga Ba Alwi. Kitab Ibnu Inabah dalam nasab itu selain kitab “Umdat al-Talib” adalah: Kitab “Umdat al-Talib al-Kubro”, kitab “Umdat al-Talib al-Wusto”, kitab “Al-Fusus al-Fakhriyah”, kitab “Al-Tuhfat al-Jamaliyah” dan “Tuhfat al-Talib”. Tidak ada kitab Ibnu Inabah yang ditulis khusus untuk Ba Alwi. Lalu bagaimana tentang Al-Zirikli, yang telah menyebut di dalam kitabnya “Al-A’lam” tahun 1976 M. bahwa Ibnu Inabah mengarang kitab khusus untuk Ba Alwi? jelas itu hanya mengutip dari sumber yang salah. Dari mana penulis bisa mengetahui bahwa Al-Zirikli mengutip dari sumber yang salah, Lihat sendiri dalam kitabnya “Al-A’lam” itu, ia mengatakan, jika kitab Ibnu Inabah yang berisi keluarga Ba Alwi itu terdapat di sebuah perpustakaan di Tarim. Apa artinya? Artinya, ia mendapatkan berita dari orang Tarim bahwa ada manuskrip karya Ibnu Inabah di Tarim yang khusus menulis tentang keluarga Ba Alwi. lalu ditulis oleh Al-Zirikli dalam kitabnya. Mengenai benar atau tidak berita itu, itu hal lain. Yang jelas, kalau manuskrip itu ada, Alwi bin Tahir akan menyebutkannya dalam kitabnya Uqud al Almas. Nyatanya tidak.
  3. Hasan al Saqaf mengatakan bahwa Ibnu Inabah mengarang kitab Umdat al Thalib ini pada saat usianya masih 25 tahun. Ia lahir pada tahun 748 H. dan menulis kitab itu pada tahun 773 H. jadi wajar nasab Ba’alwi tidak disebutkan karena ia belum luas pengetahuannya tentang nasab. kemudian setelah bertambah pengetahuannya tentang nasab ia menulis kitab tentang keluarga Ba’alwi (h.13). Penulis menjawab ucapan Hasan al Saqaf itu tidak sesuai kenyataan yang terdapat dalam manuskrip kitab Umdat al Thalib sendiri . Dalam manuskrip kitab tersebut, Al Ha’iri sebagai penyalin menyebutkan bahwa ia menyalin kitab itu pada tahun 893 H. di salin dari tulisan tangan Ibnu Inabah sendiri yang menulisnya pada tahun 812 H. Jadi, ketika menulis kitab Umdat tersebut, Ibnu Inabah sudah berumur 64 tahun (Umdat al Talib, h. 12).
  4. Hasan al Saqqaf mengatakan bahwa kitab Ibnu inabah itu bukan Al-Quran yang tidak mungkin salah. Jika pun benar Ibnu Inabah tidak menyebutkan nasab Ba’alwi dan tidak menulis kitab khusus tentang nasab Ba’alwi, maka yang demikian itu tidak membuat madarat nasab Ba’alwi karena kitab Ibnu Inabah itu bukan Al-Qur’an (h. 14). Penulis menjawab, memang benar kitab Ibnu Inabah itu bukan Al-Qur’an. Ia adalah kitab nasab yang mencatat nasab para keturunan Nabi Muhammad SAW. ketika Ahmad bin Isa disebutkan dalam kitab itu, dan Ubed tidak disebut, tentu penyebutan Ubed dalam kitab setelahnya sangat memberi madarat untuk nasab Ba’alwi, bahwa memang nasab itu palsu. Jadi tidak seperti yang dikatakan Hasan al Saqaf yang katanya walau tidak disebut itu tidak madarat apa-apa.
  5. Hasan al Saqaf mengatakan, kenapa nasab Baalwi tidak disebut dalam kitab “Tharfat al Ashab” karya Raja Umar bin Rasul (w. 648 H.)? karena keluarga Ba’alwi mendukung keluarga Al Rasyid yang bermusuhan dengan keluarga Al Rasul, buktinya salah seorang keluarga Ba’alwi yaitu Ali bin Jadid diusir ke India (h.18). Penulis menjawab, Ali bin Jadid bukan keluarga Abdurrahman Assegaf atau Faqih Muqoddam. Ia adalah berasal dari keluarga Aba Alwi yang disebut dalam kitab Al Suluk. ia orang lain, tidak ada kaitannya dengan keluarga Abdurrahman Assegaf, lalu diakui sebagai bagian keluarga Abdurrahman Assegaf, dan kemudian keluarga Abdurrahman Assegaf menggunakan nama “Ba’alwi” setelah mereka mengakui Jadid, leluhur Ali bin Jadid, sebagai adik Alwi bin Ubed. Dan kemudian keluarga Jadid disebut keturunananya terputus di akhir abad 7 Hijriah. Jika masih ngaku-ngaku Jadid sebagai adik alwi atau kakaknya, mana kitab yang semasa dengan Al Suluk atau yang sebelumnya yang menjelaskan dengan qot’I bahwa Jadid dan Alwi adalah bersaudara? TIDAK ADA.
  6. Hasan Al Saqaf mengatakan nama Bashri bin Abdullah bin Ahmad bin Isa telah disebutkan dalam kitab “Al Athoya al Saniyah” dan kitab “Nuzhat al ‘Uyun” keduanya karya Abbas bin Ali bin Rasul (w. 778 H.) (h.18). penulis menjawab, Bashri bukan keluarga Abdurrahman Assegaf (Ba’alwi), tidak ada satu kitabpun dari sebelum Al Suluk yang menjelaskan itu. Bashri bukan saudara Alwi, bukan pula saudara Jadid. Kalau punya dalil, mana dalilnya? Ia hanya tokoh yang di aku-aku saja sebagai keluarga Ba’alwi.
  7. Untuk menjawab klaim bahwa nasab Ba’alwi tidak disebut dalam literature ulama sebelum abad ke-9 H, Hasan al Saqaf menyebut bahwa ulama-ulama abad ke-lima telah menyebutkannya di antaranya bahwa Ahmad bin Isa sudah disebut kitab Tarikh Bagdad abad ke 5 H. karya Al Khatib al Bagdadi (w. 463 H.) (h. 26.) penulis menjawab, nama Ahmad bin Isa tidak ada masalah. Ia telah terbukti disebut dalam kitab Tahdzib al Ansab karya al Ubaidili (w. 437 H.). tetapi nama Ubed yang konon disebut sebagai anak Ahmad, itulah yang tidak terbukti. Nama Ubed sama sekali tidak ada yang menyebut di abad 4-9 H. terlepas dari itu, apa yang disebut Hasan al Saqaf bahwa nama Ahmad bin Isa disebut dalam kitab Tarikh Bagdad itu salah orang. Yang dimaksud dalam kitab tersebut bukan Ahmad bin Isa bin Muhammad al Naqib, tetapi Ahmad bin Isa bin Zaed. Sebagaimana penulis telah teliti dalam buku penulis “Membongkar Skandal Ilmiyah Nasab dan Sejarah Ba’alwi” (lihat buku membongkar h. 12).
  8. Hasan al Saqaf pula mengatakan bahwa nasab Ba’alwi telah disebut dalam kitab Tahdzib al Ansab karya Al Ubaidili (w.437 H.) (h. 27). Penulis menjawab bahwa klaim tersebut dusta, yang disebut dalam kitab Tahdzib al Ansab adalah Ahmad bin Isa dan putranya Muhammad, sedangkan Ubed tidak disebut dalam kitab tersebut. Hasan al Saqaf juga menyebutkan bahwa nasab Ba’alwi telah disebut dalam kitab Al Majdi karya Al Umari (w. 490 H.) (h. 27). Penulis menjawab, klaim itu juga dusta, kitab Al Majdi tidak menyebut Ubed sebagai anak Ahmad.
  9. Hasan al Saqaf juga menyebutkan bahwa nasab Ba’alwi telah disebut dalam kitab Tabaqat Fuqaha al Yaman karya Ibnu Samurah (w. 586 H.) (h. 27). Penulis menjawab, klaim itu juga dusta, kitab Tabaqat Fuqaha al Yaman sama sekali tidak menyebutkan satupun ulama dari keluarga Ba’alwi termasuk Muhammad Sahib Mirbat (w. 556 H.) yang katanya ulama besar. Jika memang Muhammad Sahib Mirbat, atau kakeknya yaitu Ali Kholi Qosam, keduanya benar-benar ulama besar, seharusnya ia disebut oleh kitab Ibnu Samrah tersebut karena hidup satu masa. Tapi kenapa tidak disebut? Karena memang sosoknya fiktif. Jangankan sebagai ulama, sebagai sosok historis saja tidak terbukti.
  10. Hasan al Saqaf juga menyebut bahwa nasab Ba’alwi telah disebut oleh kitab “Gun-yat al Thalib” dan “Bahr al Ansab Fi Ma li al Sibtaini min al Alqab” keduanya karya Al Azwarqani (616 H.) (h.27). Penulis menjawab, klaim itu juga tidak terbukti, mana kitab Gunyat karya Al Azwarqani itu? mana juga kitabnya yang bernama Bahr al Ansab? Di mana manuksripnya? Diperpustakaan apa disimpan? Siapa yang menyalin? Tahun berapa disalin? Tidak ada. Yang manuskripnya jelas ada adalah kitab Al Azwarqani yang bernama Al Fakhri. Manuskrip itu terdapat di perpustakaan Maktabah Masjid Al-A’dzam al ‘Amah no 1846. Penyalinnya jelas yaitu Al Hasan al ’Ajlani; tahun penyalinannya jelas disebut yaitu bulan Sya’ban tahun 862 H. dan di kitab itu tidak ada nama Ubaid disebut sebagai anak Ahmad bin Isa.
  11. Hasan al saqaf mengatakan bahwa nasab Ba’alwi telah disebut dalam kitab “Al Silsil al Al Muhadzab wa Al Manhal al Ahla” karya Muhammad bin Abu Bakar bin Umar bin Muhammad Abbad (w. 801 H.) (h. 27). Penulis menjawab, tidak ada di dalam kitab tersebut disebut nasab Ba’alwi, dalam kitab itu menyebut kisah tentang 41 ulama besar, namun tidak ada satupun nama keluarga Ba’alwi disebutkan.
  12. Hasan al Saqaf mengatakan bahwa nasab Ba’alwi telah disebut dalam kitab “Sihah al Akhbar” karya Muhammad Sirajuddin al Makhzumi al Iraqi (w.885 H.) (h.28). Penulis menjawab, tidak ada kitab itu menyebut nasab Ba’alwi, kitab tersebut menyebut bahwa Isa bin Muhammad mempunyai anak bernama Al Abah yang mempunyai keturunan di Bagdad. Dan disebut pula dengan ibarat “’ala ma yuqal” (katanya) punya keturunan di Yaman. hanya disebut Yaman, tidak disebut Ba’alwi, itupun hanya katanya, menunjukan sangat lemahnya informasi itu. menurut penulis, informasi itu terkait keluarga Jadid yang disebut kitab Al Suluk, namun nampaknya Muhammad Sirajuddin tidak meyakini berita al Suluk itu (sihah al Akhbar h.52).

Demikianlah jawaban dari Hasan al Saqaf untuk Syaikh Murad Syukri ketika nasab Ba’alwi dibatalkan. Jawaban yang banyak mengandung kedustaan. Yaitu, ketika menyebutkan bahwa nasab-nasab Ba’alwi telah disebut dalam kitab-kitab abad ke lima sampai kedelapan, setelah diverifikasi ternyata semuanya dusta. Tidak ada dalam kitab-kitab itu nasab Ba’alwi disebutkan. Kenapa Hasan al Saqaf berani melkakukannya? Itu adalah pertanyaan penting. Apakah begitu penting nasab Ba’alwi disebutkan dalam kitab-kitab itu hingga harus berbohong? jika tidak penting, kenapa harus berbohong? Penulis banyak pertanyaan bahkan kritikan dari banyak pihak tentang seringnya penulis mengatakan bahwa penulis Ba’alwi sering berdusta, apakah itu tidak berlebihan, kata mereka? Penulis bingung mau menjawab apa, apakah ada definisi lain dari “berkata tidak sesuai kenyataan” selain “dusta”?

Penulis: Imaduddin Utsman Al-Bantani

ShareTweetShare
Previous Post

Anak Bangsa Menagih Janji Muassis NU dan Tanggung Jawab NU

Next Post

Dua Cucu Mbah Khalil Adu Argumen: Banten menjadi Wasit (Nasab Ba’Alwi Tidak Tertolong)

Related Posts

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
22

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

17 April 2026
114

Meluruskan Sejarah Amaliah Tahlil: Ditradisikan oleh Walisongo Sunan Ampel, Namun Diduga Sejarah Dibelokkan oleh Oknum?

16 April 2026
206

Kedustaan-kedustaan Klaim Di Media Terkait Riziq Syihab

10 April 2026
123

Sosok Gus Aziz Jazuli, Alumni Tarim yang Berani Angkat Isu Nasab: “Ilmu Itu untuk Menguji Kebenaran”

9 April 2026
81

Sinopsis Kitab: AL-FATḤ AL-MUNĪR FĪ SYARḤ MANẒŪMAH AL-TAFSĪR

8 April 2026
66

Rizieq Syihab Mengaku Keturunan Si Pitung, Data Sezaman: Si Pitung Mencuri Setrika Baju

7 April 2026
259

Sinopsis Kitab Manāhij at-Tajdīd fī Naqd ar-Riwāyah fī al-Ḥadīth wa at-Tafsīr wa at-Tārīkh wa al-Ansāb Karya Syaikh Imaduddin Ustman al-Bantani

5 April 2026
79

Dari Perjalanan Menuju Ilmu, Menyerap Wasiat Seorang Guru (Sinopsis Kitab Al-Aqwal al-Munirah karya K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani)

5 April 2026
44

Kisah Sahabat yang Shalatnya Harus Diulang Berkali-kali atas Perintah Rasulallah ﷺ

26 Maret 2026
69
Next Post

Dua Cucu Mbah Khalil Adu Argumen: Banten menjadi Wasit (Nasab Ba’Alwi Tidak Tertolong)

Paling Banyak Dilihat

KH Imaduddin al Bantani

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

by Admin
22 April 2026
22

Diskursus batalnya nasab Ba’alwi di ruang public adalah salah satu diskursus yang menarik selama kemerdekaan Indonesia sejak tahun 1945. Tidak...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

Step Forward? Perintah Allah Swt & Rasulullah Saw: Refleksi Menuju 4 Tahun Polemik Nasab Habib & Baalwisasi-Yamanisasi

Geger: Manuskrip-manuskrip Sunan Ampel Dari Abad 15 dan 16 Masehi Ditemukan di Bantarsari Cilacap

Menjaga Marwah Sejarah: Fakta Autentik Trah Sunan Ampel dan Keadilan untuk Leluhur di Winongan yang Menjadi Korban

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
70.8k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.3k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25