• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Pustaka Kitab

Kode Memaknai Kitab Kuning

by Admin
5 Mei 2023
in Kitab, Opini, Pesantren, Santri
4 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Pendahuluan

Orang yang hidupnya pernah di pesantren sudah pasti mengenal cara memaknai kitab kuning, ada yang menamainya dengan ngelogat, ada juga menyebutnya dengan istilah nyoret. Istilah tersebut lumrah dikenal di pondok pesantren di seluruh Indonesia. Maka setiap pesantren selalu diidentikan ngaji kitab kuning dan kitab kuning identik dengan santri, dari dulu hingga sekarang.

Pesantren itu lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, membentuk akhlak yang baik, dan istiqomah membimbing ke jalan yang benar. Siapa yang belajar di pesantren, maka itulah yang disebut santri.

Pengertian Pesantren

Baca Juga

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

KH. Abdurahman Wahid, telah menggambarkan pesantren sebagai sub-kultur tersendiri dikarenakan ciri-ciri yang dimiliki pondok pesantren tidak ditemukan di tempat lain. Sehingga lembaga pemerintah perlu untuk mendorong dan bersinergi menyiapkan kesetaraan regulasi, kesetaraan program, dan kesetaraan anggaran, agar pesantren tidak melulu ketinggalan dengan lembaga negara lainnya.

Zamakhsari Dhofier, juga telah menjelaskan bahwa pondok pesantren adalah lembaga sosial pendidikan agama Islam yang bersifat tradisional yang dipergunakan untuk mendidik dan mengajari para santri (orang yang tinggal di pesantren) sampai benar-benar menjadi manusia yang berakhlak mulia.

Dua pengertian pesantren yang dijelaskan di atas, ini dimaksud jadi petunjuk awal, bahwa yang disebut pesantren itu tempat menuntut ilmu, objek yang jadi pusat pembelajaran itu kitab kuning, adapun subjeknya adalah kiai dan santri. Tidaklah disebut pesantren jika bukan kitab kuning yang dikaji.

Kitab Kuning

Lalu kitab kuning itu apa ? Kitab kuning, dalam pendidikan agama Islam, merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam (dirasah al-Islamiyyah) yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren, mulai dari fiqh, aqidah, akhlaq, tata bahasa arab (ilmu nahwu dan ilmu sharaf), hadits, tafsir, ilmu Al-Qur’an, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (mu’amalah).

Kitab Kuning juga dikenal dengan kitab gundul karena memang tidak memiliki harakat seperti fathah, kasrah, dhammah, sukun, dan sebagainya. Oleh sebab itu untuk bisa membaca kitab kuning diperlukan pemahaman atas nahwu dan sharaf, sebagai awal yang dikaji oleh santri.

Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah didefinisikan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.

Sebagai sistem pengetahuan di pesantren, eksistensi kitab kuning sudah ada sejak abad 1-2 Hijriyah yang kemudian berkembang hingga sekarang. Tradisi literasi keislaman ini mampu tetap bertahan sebab ia memiliki khazanah keilmuan yang sangat luas.

Kode Makna

Sudah menjadi tradisi di pesantren yang diajarkan adalah kitab-kitab kuning yang berisi ilmu-ilmu agama Islam, tentang sejarah, tentang nasihat agama, akhlak, pengobatan, rumusan wafaq, falaq dan lain sebagainya, isinya luas dan komprehensif.

Kode dalam memaknai kitab itu dimaksud untuk menjelaskan kedudukan lafadz dan artinya. Berikut ini saya susun kode-kode makna dan kedudukannya lafadz tersebut.

  • Huruf م ditulis di bawah paling depan lafadz, dan dibaca ” utawi ” atau dalam Bahasa Indonesia ” permulaan ” yang dimaksud sebagai مبتداء ( mubtada ), seperti dalam kalimat ” زيد قائم ” lafadz زيد itu dimaknai ” utawi Zaed ” menunjukkan sebagai mubtada.
  • Huruf خ ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai خبر (Khobar) dan dibaca ” iku ” atau adalah.
  • Huruf فا atau ف ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai fail, dan dibaca ” apa, sapa, atau siapa “, sedangkan huruf نفا atau نف itu dimaksud lafadz tersebut kedudukannya sebagai naib fail.
  • Huruf مف ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai مفعول (maf’ul) dibacanya ” ing ” atau kepada. Lalu huruf مع itu ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai مفعول معه dibacanya ” sertane “, serta huruf مل ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai مفعول لأجله dibacanya ” karena arah-arah “.
  • Huruf ن ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai نعت atau صفة lalu dibacanya ” kang ” atau ” yang”. Huruf ص ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai صلة atau shilah, dibacanya ” kang ” atau yang. Huruf با ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai ‘athof bayan dan dibaca ” nyatane “. Huruf حا ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai al-Hal yakni isim mansubat yang dibaca ” hale”.
  • Huruf ش ditulis di bawah lafadz yang kedudukannya sebagai ” syarat ” dan dibacanya ” lamun atau jika “, sedangkan huruf ج menunjukkan jawab dari syarat yang di muka, dibacanya ” mangka “.
  • Huruf ل ditulis di bawah lafadz yang diawali huruf jar atau khafdh, yang mengandung makna ” karena “, atau ” kaduwe “, juga ” kamilik ” sementara jika memaknai dengan huruf إلى menunjukkan makna ” Maring ” atau kepada, tertuju kepada. Huruf tersebut adalah kode untuk huruf jar.

Balik Dhomir

Dalam memaknai kitab kuning tentu rentetan lafadz Arab yang tersusun menjadi Kalam lalu menjadi jumlah hingga menjadi fashal atau bab. Biasanya ada dhomir baik dhomir bariz maupun dhomir mustatir, keduanya bisa munfashil atau muttashil, dhomir tersebut yang nempel di lafadz tertentu yang dimaksud kembali ke lafadz pertama. Orang pesantren biasanya menyebutnya balik dhomir.

Kode balik dhomir ini sebenarnya bebas dengan kode apa saja, yang penting akur antara domir akhir dengan dhomir di awal, sebab ini yang menyulitkan hingga salah paham. Dengan demikian harus ada akurasi dhomir di depan dengan dhomir di belakang, meski jauh-jauhan terkadang jika salah, maka terjadi keliru pahamnya.

Inilah kode dhomir baik yang timbul (bariz) maupun yang tersimpan (mustatir), yaitu.

-١
-١١
-٦
-٦١

  • ٩
  • ٩١
  • ٨
  • ٨١
  • ٢
  • ١٢
  • ٣
  • ١٣

Atau kode-kode lainnya yang bisa dimengerti, yang dimaksud agar balik dhomir bisa benar dan akur.

Penutup

Kode makna yang disesuaikan kedudukan lafadznya itu menjadi petunjuk untuk memahami alur narasi (balaghah) dalam susunan Kalam atau jumlah Kalam di kitab kuning, jika memaknai kitab kuning dengan cara seperti di atas tidak lain untuk memudahkan paham, karena jika diartikan secara terjemah, hasilnya akan berbeda. Bahkan jauh dari apa yang dimaksud oleh mushonif atau muallif kitab tersebut.

Serang, 5 Mei 2023

Oleh: Kiai Hamdan Suhaemi
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten
Idaroh Wustho Jatman Banten
Sekretaris Komisi HAUB MUI Banten
Penasihat DPD Granat Provinsi Banten
Anggota FKUB Provinsi Banten

Tags: baca kitabkiaikitab kuningkode kitabkyaiPesantrensantritalaran kitabulama salafiah
ShareTweetShare
Previous Post

Nasab Ba Alawi Terputus 550 Tahun Bisa Diyakini Dengan Husnudzon?

Next Post

Meneruskan Sanad Mewariskan Nasab

Related Posts

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
87

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
36

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
214

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
221

The Beginning of Baalwisasi-Yamanisasi: Penyelewengan Definisi Habib dan Ahlul Bait

29 April 2026
72

Riziq Syihab Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW Secara Absolut

25 April 2026
180

Daftar Nama Kiai, Tokoh dan Lembaga Yang Telah Gagal Menjawab Tesis Batalnya Nasab Ba’Alwi

22 April 2026
538

Silsilatul Dzahab Bantarsari Vs Silsilatul Halu Baalwi: Praktikkan Adab Yang Anda Ajarkan Selama Ini

21 April 2026
105

Rekonstruksi Persepsi Sosial Komunitas Ba’alwi Terjun Bebas di Lingkup Masyarakat Jawa Tahun 2026

18 April 2026
95

Tedi Isyaratkan Ada Reshuffle Kabinet, Kiai Imad Usul Presiden Copot Nusron Terkait Korupsi Kuota Haji

10 April 2026
116
Next Post

Meneruskan Sanad Mewariskan Nasab

Paling Banyak Dilihat

Sains

Hasil Tes Y-Dna Klan Ba’alwi Hadramaut: Konklusif Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

by Admin
24 Mei 2026
37

Klan Ba’alwi, sebuah komunitas yang berasal dari wilayah Hadramaut, Yaman, secara historis mengklaim garis keturunan paternal (patrilineal) mereka bermuara pada...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Hasil Tes Y-Dna Klan Ba’alwi Hadramaut: Konklusif Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

Cara Sederhana Memahami Pohon Genetik Y-DNA Bani Hasyim

Haji Habib bin Buja’, Pewaqaf di Makkah, Asli Keturunan Negeri Aceh Bukan Ba’Alwi

Isi Pernyataan Sikap Aliansi Umat Peduli Situs Mbah Bonang

Ditemukan Bukti Baru: Kasus Dugaan Perusakan Cagar Budaya Makam Sunan Bonang Dibuka Lagi

Studi Genomik mengenai Asal-usul Etnis Bangsa Arab dan Populasi Dunia Berdasarkan Asam Deoksiribonukleat (DNA)

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
51.9k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25