Jika aliran idealisme dalam filsafat punya bapak, maka bapaknya adalah Plato dan materialisme punya bapak, maka bapaknya adalah Aristoteles, dua aliran besar filsafat yang membentang di peradaban dunia, dari keduanya itu banyak anak alirannya yang semua itu bermuara pada samudera kebenaran, filsafat sejatinya menemukan kebenaran sekaligus jadi tujuan akhirnya.
Anak aliran besar itu mengalir di Barat dan Timur, dari sejak Plotinus hingga Hegel, dari sejak Nikomachea hingga Marx. Filsafat lalu menjadi penyokong perubahan di setiap zamannya, nalarnya adalah nalar epistemologis dan ontologis.
Empirisme salah satu anak dari dua aliran besar tersebut, yang tumbuh kembang di peradaban Anglo Saxon, mulai dari Inggris hingga pengaruhnya meluas di daratan Eropa. Tokoh penting empirisme itu salah satunya John Locke. Buah pikirannya adalah trias politica, menjadi babak baru pola negara modern yang demokratis dengan dominan mengambil nilai humanisme sebagai soko gurunya.
John Locke (1632–1704) adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran politik dan filsafat modern. Lahir di Wrington, Somerset, Inggris, ia tumbuh di masa pergolakan politik dan sosial di Eropa. John Locke dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan trias politica, sebuah konsep yang menjadi dasar dari sistem pemerintahan modern, di mana kekuasaan negara dibagi menjadi tiga cabang: eksekutif, legislatif, dan yudikatif ( Portal Hukum, 2024 ).
Meskipun istilah ini lebih sering dikaitkan dengan Montesquieu dan tokoh sezamannya Diderot, Voltaire, Jaques Rousseau justru gagasan John Locke menjadi landasan filosofis awal bagi pengembangan teori pemisahan kekuasaan tersebut dan teori inilah diktum John Locke mengamputasi sistem kekuasaan absolut raja-raja Eropa, terutama efek domino pecahnya revolusi Perancis dan di beberapa belahan negara seantero Eropa dan Amerika.
Dalam bukunya, John Locke menolak ide divine right of kings (hak ilahi raja) yang saat itu menjadi landasan monarki absolut. Sebaliknya, ia mempromosikan gagasan bahwa kekuasaan negara berasal dari rakyat dan harus digunakan untuk melindungi hak-hak dasar manusia, yaitu hak atas hidup, kebebasan, dan properti.
Untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, menurut John Locke bahwa pemerintahan harus dibagi ke dalam beberapa cabang yang saling mengawasi dan menyeimbangkan. Dalam teorinya, ia mengidentifikasi dua cabang utama, yaitu legislatif dan eksekutif. Legislatif bertugas membuat hukum, sedangkan eksekutif menjalankan hukum yang telah disahkan. Locke juga mengakui adanya cabang ketiga yang disebut federatif, yang bertugas menangani urusan luar negeri.
Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Hingga Capra ( 2000, hlm. 175. ) bahwa filsafat Locke dapat dikatakan antimetafisika. Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes. Ia juga menolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengalaman; jadi, induksi. Bahkan Locke menolak juga akal (reason). Ia hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan cara penarikan dengan metode induksi.
Ted Honderich dalam bukunya The Oxford Companion to Philosophy ( 1995 ) menjelaskan bahwa tulisan-tulisan John Locke tidak hanya berhubungan dengan filsafat, tetapi juga tentang pendidikan, ekonomi, teologi, dan medis. Karya-karya John Locke yang terpenting adalah 1. Essay Concerning Human Understanding, 2. Letters of Toleration), dan 3. Two Treatises of Government.
Salah satu pemikiran Locke yang paling berpengaruh di dalam sejarah filsafat adalah mengenai proses manusia mendapatkan pengetahuan. Ia berupaya menjelaskan bagaimana proses manusia mendapatkan pengetahuannya.
Harun Hadiwijono dalam bukunya Sari Sejarah Filsafat Barat 2 ( Jogjakarta, 1983, hlm. 36 ) menilai filsafat John Locke sebagai peletak dasar empirisme. Pandangan yang hanya diterima oleh satu indra manusia saja. Misalnya, warna diterima oleh mata, bunyi diterima oleh telinga, pandangan yang diterima oleh beberapa indra, misalnya saja ruang dan gerak. Pandangan yang dihasilkan oleh refleksi kesadaran manusia, misalnya ingatan, pandangan yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan dan refleksi. Misalnya, rasa tertarik, rasa heran, dan waktu.
Serang 12 Oktober 2025
Oleh: Hamdan Suhaemi