• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Kedudukan Ijma’ Dibawah Hadits Dan Hujjah Yang Qoth’i

by Admin
28 Maret 2023
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

Ajaran Islam itu didasarkan pada al-Quran dan Hadits, semua jumhur ulama sepakat akan hal itu. Namun untuk menyatukan hadits yang tercecer dari banyak perawi dan penerima matan hadits tentu agak sulit, akibat banyak penghafal wahyu, penerima hadits wafat di medan peperangan pasca wafatnya Rasulullah SAW dilatarbelakangi itulah para sahabat utama baik yang dikenal dengan khulafaur rasyidin, ahli al-haramain, ahli al-mishrain dan al-syaikhoni telah melakukan ijma’ yaitu kesepakatan terkait keqothi’an al-Quran dan Hadits sebagai sumber ajaran Islam.

Pengertian Ijma’

Mari kita merujuk pengertian Ijma’ menurut Syaikh Abdul Qadir Audah yang tertulis dalam kitabnya at-Tasyri’ al-Jana’i al-Islami.

الاجماع هو اتفاق جميع المجتهدين من المسلمين في عصر من العصور بعد وفاة الرسول صلى الله عليه و سلم على حكم شرعي

Artinya: Ijma’ itu kesepakatan semua mujtahid dari umat Islam dalam suatu masa tertentu setelah wafatnya Rasulullah S.a.w yang berkaitan dengan hukum syariat.

Dalam kitab al-Ta’rifat, Syaikh Syarif Ali al-Jurjani menjelaskan pengertian Ijma’.

الاجماع هو اتفاق المجتهدين من أمة محمد عليه الصلاة و السلام في عصر على أمر ديني

Artinya: Ijma’ adalah kesepakatan para Mujtahid dari umat Nabi Muhammad SAW dalam suatu masa tertentu tentang perkara agama.

Sementara Syaikh Zakaria al-Anshori al-Syafii dalam kitabnya Ghoyatu al-Wushuli, menjelaskan pengertian Ijma’, yaitu.

الاجماع وهو اتفاق مجتهدي الأمة بالقول أو الفعل أو التقرير بعد وفاة محمد صلى الله عليه وسلم في عصر على اي أمر كان من ديني و دنيوي و عقلي و لغوي

Artinya: Ijma’ itu kesepakatan para mujtahid umat pada ucapan, perbuatan dan taqrir setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW di masa tertentu, kesepakatan atas perkara agama, dunia, pemikiran dan pandangan.

Ijma’ itu Hujjah

Kenapa ijma’ jadi hujjah (dalil agama), bukankah itu tidak dari Allah S.w.t dan Rosulnya, bahkan itu datang dari sahabatnya, suatu kesepakatan dari beberapa sahabat yang terkategori mujtahid, karena tidak semua sahabat Nabi adalah mujtahid. Kesepakatan dalam memastikan keqothi’an al-Quran dan Hadits sebagai dasarnya Islam, sebagai sumber hukum Islam, juga sebagai pandangan hidup manusia.

Kebanyakan ulama menguatkan ke-hujjah-an Ijma’ dengan dasarnya Qur’an surat an-Nisa ayat 115, yaitu.

وَمَنۡ يُّشَاقِقِ الرَّسُوۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَـهُ الۡهُدٰى وَ يَـتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيۡلِ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ نُوَلِّهٖ مَا تَوَلّٰى وَنُصۡلِهٖ جَهَـنَّمَ‌ ؕ وَسَآءَتۡ مَصِيۡرًا

Artinya : Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali ( Q.S. an-Nisa : 115 ).

Ke-hujjah-an Ijma’ juga didasarkan pada hadits Kanjeng Nabi Muhammad SAW yaitu;

إن الله لا يجمع أمتي على ضلالة ، ويد الله مع الجماعة ومن شذ شذ إلى النار

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mempersatukan ummat-Ku (Ummat Muhammad) di atas kesesatan, Allah senantiasa melindungi kelompok mayoritas dan barang siapa memisahkan diri (dari umat mayoritas) maka ia akan terpisah jatuh ke neraka. ( Hadits riwayat Imam At-Tirmidzi ).

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu-Dzarr Al-Ghifari bahwa Rasulullah telah bersabda:

اثنان خيـر من واحد وثلاث خيـر من اثنين وأربعة خيـر من ثلاثة فعليكم بالجماعة فإن الله عز وجل لن يجمع أمتي إلا على هدى

Artinya: Dua orang akan lebih selamat dari jika orang itu sendirian, jumlah tiga orang itu lebih baik daripada dua orang dan juga jumlah empat orang itu lebih baik dari tiga orang, jadi tetaplah bersatu dengan al-Jama’ah, karena Allah tidak akan menyatukan ummatku kecuali di atas petunjuk dan juga kebenaran (HR Imam Ahmad).

Dalil-dalil qothi’ di atas untuk menguatkan posisi ijma’ sebagai hujjah (dalil), karena permasalahan umat pasca wafatnya Rosulullah semakin membutuhkan tafshil dari ayat Qur’an dan hadits Rosulullah. Meski demikian tidak semua sahabat memiliki kemampuan untuk menjelaskan apa-apa yang Rosulullah telah ajarkan, karena itu hanya bagi yang berkemampuan ijtihad.

Para Mujtahid dalam Ijma’

Berikutnya adalah ahli al-Haramain (sahabat Nabi yang ada di Mekkah dan Madinah), kelompok sahabat yang punya kemampuan ijtihadi ini yang dianggap kuat dalam menjelaskan ajaran Islam, sebab kehidupan mereka begitu dekat dan mereka para penghafal Qur’an dan perawi hadits.

Merujuk pada kajian Ushul Fiqh, bahwa ijma’ yang paling kuat itu adalah ahli Madinah, sahabat yang punya kemampuan ijtihadi dari warga Madinah atau ahli al-Madinah jauh lebih tsiqoh (dipercaya) karena kehidupan mereka lebih dekat dengan Rasulullah.

Lalu ada dua sahabat Nabi yang paling terpercaya, yaitu Sayyidina Abi Bakar al-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab, keduanya dikenal sebagai al-Syaikhoini. Dua sahabat utama Nabi, dengan kemampuan ijtihadinya menetapkan secara jelas, terperinci apa-apa yang Nabi telah ajarkan. Inilah yang kemudian kita sebut ijma’ itu.

Kemudian, ada juga kesepakatan Ahli al-Mishrain, ini adalah sahabat-sahabat Nabi yang tinggal di 2 kota yaitu Kuffah dan Bashrah yang juga memiliki kemampuan ijtihadi dalam menjelaskan ajaran Islam secara tafshil (terperinci).

Beberapa kesepakatan atau ittifaq para sahabat Nabi inilah yang kemudian dikenal dengan ijma’. Kenapa bisa jadi hujjah, kenapa bisa jadi sumber hukum Islam setelah al-Quran dan Hadits, itu karena mereka sahabat Nabi memiliki kemampuan ijtihadi yang komprehensif dan bijaksana dalam kesepakatan. Artinya ketika menyepakati sesuatu yang sudah jelas, mereka para sahabat yang memiliki kemampuan ijtihadi tersebut cukup diam (sukuti) maka ijma’ yang berlandaskan diamnya atas sesuatu yang sudah jelas maka menurut madzhab Hanafi dan Maliki itu disebut ijma’ sukuti.

Berbeda halnya dengan madzhab Syafi’i dan Hambali, bahwa ijma’ yang digunakan sebagai hujjah cukup ijma’ shorih ( kesepakatan atas apa yang sudah jelas dan tidak perlu dibahas lagi ), ijma’ shorih ini yang bisa digunakan sebagai hujjah atau dalil dalam beragama. Karena hasil ijtihadi dan tanggung jawab dunia akhiratlah yang memposisikan Ijma’ sebagai hujjah. Intinya ijma’ dasar ketiga ketika di Al-Qur’an dan hadits sebagai rujukan awal dan kedua dalam menjawab persoalan-persoalan di kemudian hari Li kulli azminah wal amkinah.

Oleh : Hamdan Suhaemi
Serang, 2-3-2023
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten
Sekretaris Komisi HAUB MUI Banten

Tags: dzonnihaditshujjahhukum islamijmalandasan syariatqiyasqoth'iquransumber hukum islam
ShareTweetShare
Previous Post

Apa Itu Sunnah, Sumber Kedua Dalam Syari’at Islam

Next Post

Keistimewaan Sang Qutub Khotmu al-Auliyai al-Kitmani, Sayyid Ahmad at-Tijani

Related Posts

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
45

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
120

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
53

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
86

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
386

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
76

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
66

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
264

“Laknat Allah, Malaikat, dan Manusia”: Telaah atas Pemaknaan Hadis dalam Polemik Nasab Ba Alwi

16 September 2026
145

Prof. Ahmad Zahro Bersumpah Habaib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

10 September 2026
153
Next Post

Keistimewaan Sang Qutub Khotmu al-Auliyai al-Kitmani, Sayyid Ahmad at-Tijani

Paling Banyak Dilihat

Berita

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

by Admin
23 Oktober 2026
48

Tangerang—Rangkaian peringatan hari santri di Kecamatan Kresek Kabupaten Tangerang berlangsung dua hari yaitu pada hari Rabu dan Kamis 21-22 Oktober...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Rangkaian hari santri MWC-NU Kresek: Ada Kirab Bendera Merah Putih Sepanjang 1000 Meter

INI DAFTAR PARA SADAH DAN ASYRAF DI YAMAN: KESAKSIAN KITAB MUNTAQALAH AL-THALIBIYAH ABAD KE-5 HIJRIYAH DAN TES Y-DNA 2026

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Banten

Lepas Jalan Sehat Sarungan Hari Santri Nasional 2026 di Pandeglang, Andra Soni Tegaskan Peran Strategis Santri bagi Banten

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.3k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25