• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Mistik Terbang Gede

by Admin
13 Desember 2023
in Opini, Peristiwa, Pesantren
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter


Oleh: Hamdan Suhaemi

Pendahuluan

Kebanyakan orang Banten modern tidak mengenal seni Terbang Gede, dianggap sudah punah, padahal masih eksis di tengah masyarakat, meski tidak merata. Terbang Gede satu diantara seni budaya Banten yang agak beda. Ada makna falsafah dan ada pula kekuatan mistik di dalam lantunan ritme sholawatan yang mengiringi suara alat Terbang Gede (semacam rebana) tersebut ketika dimainkan.

Terbang Gede ini tidak jauh-jauh dari akarnya yaitu pengamalan tarekat yang berkembang di Banten menjadi umumnya spiritualitas masyarakat Banten sejak 1552 Masehi, dengan ditandai pengaruh Maulana Hasanuddin putera Sunan Gunung Jati yang mengembangkan tarekat Syadziliyah, Qodriyah Naqsyabandiyah, dan Rifaiyah di Banten berbarengan dengan pembangunan fisik kesultanan Banten, mulai dari masjid, keraton, parit, benteng dan tata kota.

Sejarah Terbang Gede

Pertunjukan Terbang Gede yang bernafaskan keislaman mulai hadir pada masa pemerintahan Kesultanan Banten era Sultan Ageng Abdul Mufakhir Mahmudin Abdul Kadir (1596-1651). Saat itu di depan halaman istana Surosowan bagian tengah ada tempat bernama pawadahan tempat tampilnya pertunjukan seni di Kesultanan Banten, dengan dekorasi bunga-bunga ampel mas berukiran wayang.

Perkembangan tarekat menjadi sangat pesat saat kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa 1651-1682. Seluruh ajaran tarekat ini berkembang di Banten hingga sekarang, karena itu Banten lebih disebut “Daerah Ngeramat”. Sekali lagi Banten ini bukan negeri jawara, tetapi negeri yang peradabannya tercahayani ilmu pengetahuan dan agama sejak dulu hingga kini.

Dalam memainkan alat musik Terbang Gede pastinya diiringi syair-syair sholawat untuk Baginda Nabi SAW, bahkan sebagai cara bersukur dan mengingat kepada Tuhan, sekaligus juga sebagai rasa kecintaan dan menghamba pada Tuhannya. Alat-alat musik Terbang Gede itu jumlahnya 5, ada yang ukuran besar, kemudian yang lainnya ukuran standar dan 1 yang kecil. Menunjukkan maksud yang gede itu adalah hanya 1 yang ukuran besar, dan simbol sholat berjamaah saat Maghrib tiba, ukuran 2, 3 dan 4 itu ukurannya Zuhur, Ashar dan Isya. Sementara ukuran yang terakhir adalah paling kecil hanya 1, itu menunjukkan sholat subuh.

Mistik Terbang Gede

Lagu yang mengiringi itu dominan sholawatan dan ada yang inti yaitu sholawat Banten yang sudah ada akulturasi bacaan sholawat dengan unsur-unsur pitutur Ke-Banten-an. Ada yang liriknya Kinanti, ada pula yang Asmaradana. Kalau Kinanti isinya dan langgamnya menimbulkan rasa sedih, perihatin sekaligus senang. Sedangkan Asmaradana isinya dan langgamnya tentang cinta, rindu, kasih sayang.

Menurut data Arsip Nasional berkode BR 625; 536, dulu lagu dalam mengiringi Terbang Gede itu berbahasa Jawa Banten kuno, yaitu.

“Asawang-sawang mareken tunggale,
sutra petok bedil rangkep,
kakalih rata anara gugug,
minggih ing pawadahan tatabuhan rarasati, pinules abang dayung lawan kemudi”.

Artinya: Berhadap-hadapan tiangnya, benderanya dari sutra putih, dua buah senapan rangkang, dan lantaka berbaris, ditempatkan di pawidean, bebunyian menyenangkan hati, sebagai penolak bala, dayung dan kemudi.

“Pawada yen pinuntang pradapapan tiang yung ampal rakami wawayang ukiran pinules pinara mas pinanjer dalu gadage abrit tamburing anu nyara bubul warna kuning”.

Artinya: Tempat pawidean dihiasi dengan prada, tiangnya dihiasi dengan bunga-bunga ampel mas, berukir gambar wayang, dipoles dengan pinara emas, dipancangkan pada dalugdag merah dan tambirang baru, dari bambu kuning.

Baca Juga

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

Ada jenis-jenis Terbang Gede, antara lain batokterbang, benjangan,terbang besar, terbang gembrung, terbang genjring, terbang ketimpring, terbang mumuludan,terbang sholawat. Semua bisa dimainkan dan masuk dalam sebutan Terbang Gede.

Kini, Terbang Gede cukup berkembang di beberapa kecamatan di Provinsi Banten, antara lain wilayah yang masih aktif sampai saat ini diantaranya sebagai berikut:

Eksistensi Terbang Gede hingga kini ada di Mandalawangi, di Kecamatan Cimanuk, Cipeucang, Menes, Cisaat, Labuan, Jiput, Pagelaran, Saketi. Adapun di Kota Serang juga eksis seperti di Kecamatan Serang, Taktakan, Kasemen, Walantaka, Curug

Lalu adakah di wilayah Kab. Serang, ada antara lain di Kecamatan Ciruas, Cikesal, Keragilan, Waringin Kurung, sementara di Kota Cilegon, kesenian Terbang Gede ada di kecamatan Cibeber, Jombang mesjid, Ciwandan dan Merak. Sementara untuk wilayah kabupaten Tengerang baik Tangerang kota dan Tangsel jumlahnya sudah mulai menurun diakibatkan pengaruh urbanisasi.

Kalimat Akhir

Terbang Gede adalah alat seni sekaligus budaya khas Banten yang diciptakan sejak Kanjeng Sultan Abul Mafakhir Abdul Qodir Kenari. Isinya berupa lagu-lagu Kinanti dan Asmaradana. Kehebatan Terbang Gede ini kalau dikenali ada guratan mistik yang begitu memikat.

Serang 13 Desember 2023

ShareTweetShare
Previous Post

Ba Alwi Dan Rohingya, Kebajikan Nusantara Yang Disalahgunakan Para Imigran

Next Post

12 Pertanyaan Untuk RA Tidak Akan Bisa Dijawab

Related Posts

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
44

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
89

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
80

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
166

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
34

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
89

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
135

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
66

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
285

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
248
Next Post

12 Pertanyaan Untuk RA Tidak Akan Bisa Dijawab

Paling Banyak Dilihat

Opini

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

by Admin
18 Juni 2026
44

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang) Pemilihan judul pengantar ini, saya merasakan memikul...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25