Sebelum Socrates membuat perubahan paradigma pemikiran dan kepercayaan bangsa Yunani, dari peradabannya percaya banyak dewa dengan dewa utama yang diagungkan adalah Zeus, bangsa ini sudah maju. Tradisi filsafat alamnya turut menciptakan kemajuan tersebut.
Sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, peradaban Yunani Kuno mulai menggeliat di bidang ilmu. Beberapa wilayahnya muncul tokoh-tokoh yang menyebarkan gagasan. Dimulai oleh Thales di kota Miletus, kemudian muncul Pythagoras dari Samos, Alcmaeon dari Croton, Parmenides dari Elea, serta Heraclitus dari Ephesus. Detail ajaran mereka bervariasi, namun semangat intinya sama, mencoba memahami dunia lewat rasio ( C. Guthrie dalam A History of Greek Philosophy, Volume I: The Earlier Presocratics).
Jonathan Barnes dalam bukunya Early Greek Philosophy (2001, hlm. 40-47) menulis riwayat filsuf nomaden bernama Xenophanes yang diketahui berasal dari Colophon, Ionia, di Asia Kecil. Dikatakan di dalam salah satu fragmen puisinya sendiri bahwa ia meninggalkan kota asalnya pada usia 25 tahun. Ia meninggalkan kota tersebut setelah Kolophon direbut bangsa Persia pada tahun 545 SM. Dengan demikian ia lahir sekirar tahun 570 SM. Kemudian dikatakannya pula bahwa ketika ia menulis puisi tersebut, ia telah berusia 67 tahun. Diketahui Xenophanes berusia di atas 100 tahun, Karena itu, tahun kematiannya diperkirakan sekitar tahun 480 SM.
Setelah meninggalkan kota Kolophon, ia melakukan perjalanan ke banyak tempat. Ada beberapa sumber kuno menyebutkan ia pernah menetap di kota Messina dan Katania di pulau Sisilia. Selain itu, ia juga pernah singgah di Malta, Pharos, dan Syrakusa. Akhirnya ia tiba di Elea, Italia Selatan, dan menetap di sana. Diketahui bahwa Xenofanes mengarang suatu syair ketika kota Elea didirikan pada tahun 540 SM.
Richard Mc Kirahan dalam tulisan tentang “Presocratic Philosophy” dalam In The Blackwell Guide to Ancient Philosophy (2003, hlm. 5-26) mengutip pandangan Xenophanes dalam fragmennya bahwa ia mengatakan ” Dewa-dewi tidak menyatakan segala sesuatu kepada manusia sejak awalnya, tetapi setelah waktu berlalu, manusia menemukan banyak hal dengan cara mencarinya sendiri ” (fragmen : 18).
Lebih lanjut Xenophanes pun menegaskan bahwa ” Tidak ada manusia yang pernah melihat ataupun mengetahui kebenaran tentang dewa-dewi serta semua hal yang kukatakan. Karena jika ada orang yang berkata mengetahui semuanya, maka sebenarnya ia tidaklah tahu, melainkan hanya mempercayai tentang segala sesuatu ” (fragmen : 34).
Albert A. Avey dalam bukunya Handbook in the History of Philosophy (1954, hlm. 13) mendeskripsikan pemikirannya Xenophanes yang telah menyimpulkan bahwa antropomorfisme terhadap dewa-dewi tidaklah tepat sebab ia telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat dan melihat pelbagai kepercayaan mereka. Karena itu, Xenophanes menjadi yakin bahwa semua itu bukanlah konsep dewa-dewi yang tepat. Ia menyatakan bahwa sebenarnya hanya ada “Satu yang meliputi Semua”. Maksudnya di sini serupa dengan konsep “Tuhan” namun tidak sama dengan monoteisme sebab ia juga menyebutnya dalam bentuk jamak.
Memetik pemikiran Xenophanes ini kita memahami bahwa keluar dari keadaan yang mapan dalam tradisi Yunani kuno dengan segala konsekuensinya tidaklah mudah, Xenophanes tipikal filsuf Yunani pra Socrates yang banyak memberi kontribusi perubahan paradigmatik bangsa Yunani, dengan keberaniannya mereorientasi kepercayaan dogmatik atas dewa-dewa bangsa Yunani dengan menyuguhkan konsepsi satu Tuhan untuk semua.
Xenophanes, menjadi pilihan ikonik dari keberaniannya dalam membuka bias-bias kepalsuan tuhan-tuhan bangsa Yunani yang sejak lama dipercaya dan telah mengakar. Filsafat ketuhanannya yang menerobos masuk di wilayah kejumudan politeisme dengan krangka argumentasi yang logis dan epistemologis.
Kemang, 29 September 2025
Oleh: Hamdan Suhaemi