Dalam sebuah kesempatan, Abu Hurairah mengisahkan tentang seorang lelaki yang masuk ke masjid saat Rasulullah ﷺ sedang duduk di salah satu sudut. Dengan penuh semangat, lelaki itu langsung melaksanakan shalat. Setelah selesai, dia mendekat kepada Rasulullah ﷺ dan mengucapkan salam. Namun, respons yang diterima sangat mengejutkan. Rasulullah ﷺ menjawab, “Wa’alaikassalaam. Ulangi lagi shalatmu karena engkau belum melaksanakan shalat (yang sah).”
Mendengar itu, lelaki tersebut merasa bingung, tetapi dia tetap mengikuti arahan Rasulullah ﷺ dan mengulangi shalatnya. Setelah menyelesaikan shalat yang kedua, dia kembali mendekati Rasulullah ﷺ dan mengucapkan salam lagi. Namun, Rasulullah ﷺ kembali bersabda, “Wa’alaikassalaam. Ulangi lagi shalatmu karena engkau belum melaksanakan shalat (yang sah).” Situasi ini berulang beberapa kali hingga akhirnya lelaki itu merasa perlu untuk meminta bimbingan. Dia berkata, “Ajarilah aku, wahai Rasulullah ﷺ.”
Mendengar permintaan tersebut, Rasulullah ﷺ dengan sabar menjelaskan cara shalat yang benar. Beliau bersabda, “Bila engkau hendak melaksanakan shalat, sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke arah kiblat. Lalu, bertakbirlah (takbiratul ihram), bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur’an. Kemudian, rukuklah hingga tumakninah dalam rukuk. Bangkitlah hingga berdiri tegak dengan sempurna. Sujudlah hingga tumakninah dalam sujud. Kemudian, bangkitlah hingga duduk dengan tumakninah. Lakukan semua itu dalam setiap rakaat shalatmu.” (Shahih at Targhib wa at Tarhib, no. 535).
Kisah ini mengajak kita untuk merenungkan banyak hal terkait shalat. Pertama, mari kita lihat bagaimana shalat yang dilakukan oleh lelaki tersebut dianggap belum sah meskipun dia sudah berusaha. Ini bisa jadi cerminan bagi kita semua. Apakah shalat kita sudah dilakukan dengan penuh makna, ataukah hanya sekadar gerakan fisik tanpa pemahaman yang mendalam? Dalam banyak kasus, kita sering kali terjebak dalam rutinitas, melakukan shalat hanya untuk memenuhi kewajiban tanpa merasakan kehadiran Allah dalam setiap gerakan.
Selanjutnya, pentingnya tuma’ninah dalam shalat juga menjadi poin yang tak kalah signifikan. Tuma’ninah adalah keadaan tenang dan tidak terburu-buru dalam setiap gerakan shalat. Ketika kita rukuk dan sujud, itu bukan sekadar gerakan, tetapi merupakan momen untuk merasakan kedekatan dengan Allah. Ketika kita melakukannya dengan hati yang tenang, maka shalat kita akan lebih bermakna dan membawa ketenangan dalam jiwa.
Yang tak kalah penting adalah sikap rendah hati untuk terus mau belajar, seperti sikap yang ditunjukkan oleh lelaki tersebut. Dia tidak merasa malu dan tetap bersemangat untuk meminta pengajaran ketika merasa shalatnya belum benar. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita. Ketika kita merasakan bahwa shalat kita masih kurang, jangan ragu untuk bertanya dan belajar. Keterbukaan untuk belajar adalah kunci untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kita.
Kini, mari kita introspeksi diri. Apakah shalat kita sudah menjadi momen yang berarti, ataukah hanya rutinitas jasmani harian yang kita jalani? Sudahkah kita memberikan perhatian penuh makna pada setiap gerakan shalat yang kita lakukan? Apakah kita siap untuk terus belajar dan memperbaiki diri dalam beribadah?.
Semoga kisah ini memberikan inspirasi dan mendorong kita untuk menjadi lebih baik dalam ibadah. Memperbaiki shalat kita agar menjadi momen yang penuh makna dalam mendekatkan diri kepada Allah, tentunya hal yang sangat kita dambakan.
Oleh: Didin Syahbudin
(Wakil Ketua PW RMINU Banten)