• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Bendera Putih, Perang Dan Penghianat

Perang, bukan hanya bicara merebutkan kekuasaan atas wilayah tertentu, atau pertentangan ideologis, tetapi juga perang adalah bagaimana mempertahankan harga diri, mempertahankan apa yang menjadi haknya, dan upayanya menyelamatkan kemanusiaan dari ketertindasan, kekerasan, penjajahan bahkan serangan wabah yang akan mematikan manusia.

by Hamdan Suhaemi
1 Agustus 2021
in Opini
2 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

Oleh : Kyai M. Hamdan Suhaemi

Sayup-sayup kita lihat segelintir orang yang menyerukan agar pemerintah untuk menyerah atas ketidakmampuannya dalam menangani pandemi covid-19 yang telah merenggut banyak korban akibat ganasnya virus tersebut. Mereka memulai membuat simbol bendera putih tanda seruan untuk menyerah. Tindakan pihak oposisi tersebut terkait seruan menyerah kepada pemerintah jelas tindakan tidak bermanfaat, tidak tepat bahkan cenderung agitatif. Sepertinya dengan menyerah persoalan pandemi bisa dituntaskan, padahal akan jauh lebih kacau jika pemerintah meninggalkan tugas utamanya dalam menyelamatkan rakyat dari situasi pandemi virus ini.

Kita, rakyat yang melihat situasi tersebut telah memancing sikap muak atas tindakan mereka, yang sarat kepentingan politis di balik itu. Otak dan nafsu seolah jadi satu dalam upayanya merongrong kekuasaan. Bagi para oposan, pemerintah saat ini adalah telah gagal dalam upayanya membebaskan negeri dari pandemi covid-19. Satu kesimpulan yang terlalu gegabah, dan tendensius. Arahnya jelas menciptakan opini terhadap banyak orang agar mau bersama-sama tidak percaya atas kegigihan pemerintah dalam menangani wabah ini. Tentunya hanya para pecundang yang melakukan tindakan tersebut di saat yang bersamaan, sikap kolektif seluruh anak bangsa sangat diperlukan, untuk kemudian membebaskan diri dari wabah global.

Bendera Putih jika dikibarkan adalah menjadi simbol menyerah saat terjadi perang. Menjadi yang bertolak belakang jika melihat patriotisme bangsa kita yang sudah teruji sekian ratus tahun dalam upaya membebaskan tanah air dari macam rongrongan. Kini pun sikap bangsa ini tentunya sama. Sikap patriotik, sikap nasionalis, sikap heroik ketika wabah pandemi ini mendera seluruh bangsa. Karena satu ittikad, satu kehendak, satu perasaan bersama yang menyatukan untuk bersikap membela. Meski perbedaan suku dan agama adalah tampakan yang terlihat, namun satu rasa, satu cita-cita, satu kehendak begitu mengkristal dalam kebersamaan melawan pandemik ini.

Melihatnya saat ini adalah melihat situasi perang melawan ganasnya virus, dan itu tidak hanya di negeri kita. Tapi virus tersebut telah menyebar di seluruh negeri di dunia. Perang adalah pilihan dan menyerah adalah pengkhianatan. Carl Von Clausewitz mengatakan dalam bukunya On The War “ You can not do this unless you destroy the enemy’s power to resist; for if you don’t render him powerless, he will try to render you powerless in his turn.” Sejauh musuh masih mempunyai kapasitas untuk bertahan, sejauh itu pula kita berusaha menghancurkannya. Tidak ada kata berhenti untuk melakukannya. Itulah satu-satunya cara yang harus dilakukan jika ingin mencapai tujuan yang diinginkan.

Sun Tzu adalah seorang panglima jenderal militer China yang jenius. Hidup dalam periode 544 SM sampai 496 SM, Sun Tzu juga merupakan seorang filsuf yang dikenal melalui bukunya The Art of War, ia pun memberikan pandangannya atas bangsa yang menghadapi situasi perang dengan pandangannya yang tajam, sebagai ahli perang ia bilang ” Jika yakin perang akan menghasilkan kemenangan, Anda harus bertempur, meskipun aturan melarangnya, jika perang tidak akan membawa kejayaan, janganlah bertempur, meski dalam tawaran kekuasaan. ” Sun Tzu pun telah mengingatkan bahwa ” Bergeraklah dengan cepat seperti angin dan berbentuklah seperti kayu. Menyerang seperti Api dan diamlah seperti Gunung.”

Perang, bukan hanya bicara merebutkan kekuasaan atas wilayah tertentu, atau pertentangan ideologis, tetapi juga perang adalah bagaimana mempertahankan harga diri, mempertahankan apa yang menjadi haknya, dan upayanya menyelamatkan kemanusiaan dari ketertindasan, kekerasan, penjajahan bahkan serangan wabah yang akan mematikan manusia. Dari dasar inilah kita sebagai bangsa yang tengah menghadapi wabah virus Corona diperlukan kejelasan sikapnya. Menuntaskan dengan tujuan keselamatan atau menyerah dalam penderitaan.

Bangsa kita adalah kumpulan orang yang memiliki spiritualitas kuat dalam bertahan dan menyerang terhadap potensi-potensi yang akan merugikan jiwa raga dan tanah airnya. Maka hari ini ada sekelompok bangsa ini yang menyerukan bendera putih sebagai desakan menyerah dari perang melawan pandemi covid ini, tentunya harus diragukan prinsip kebangsaannya. Atau jangan-jangan mereka tidak terlahir dari akar ideologis bangsa ini. Mungkin pula mereka terlahir sebagai penghianat yang tengah pura-pura membela negerinya.

Serang, 01/08/21
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten

ShareTweetShare
Previous Post

Terkait Baha’i Menteri Agama RI Sudah Bijak

Next Post

Resensi Kitab Al Fikrah Al Nahdliyyah Karya Ulama Muda Kharismatik, “KH. Imaduddin Utsman Al Bantani”

Related Posts

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

20 Oktober 2026
16

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

16 Oktober 2026
99

Mistifikasi Umar Hafidz vs Nalar KH Imaduddin Utsman: Menuju Pembebasan Epistemik dalam Keagamaan Nusantara

15 Oktober 2026
46

Menolak Dogma Hadramautisme, Mengintegrasikan Sains: Memahami Pencerahan KH Imaduddin Utsman dan Mistifikasi Habib Umar Bin Hafidz

14 Oktober 2026
84

Anak Umar bin Hafidz Mengangkat Kakinya Saat Bertemu Ketua MPR RI Ahmad Muzani

14 Oktober 2026
349

KH Hasyim Asy’ari dan Tuah NU yang Malati: Menghadirkan Sanad Madzhab Ilmu Keislaman Sunni

13 Oktober 2026
71

RMI NU Banten: Penyusunan Pergub dan Penyaluran Bantuan Pesantren Harus Inklusif, Jangan Dimonopoli Satu Kelompok

9 Oktober 2026
63

Tokoh-Tokoh Ba’alwi Tidak Masuk Pengurus PBNU 2026-2031

1 Oktober 2026
257

“Laknat Allah, Malaikat, dan Manusia”: Telaah atas Pemaknaan Hadis dalam Polemik Nasab Ba Alwi

16 September 2026
141

Prof. Ahmad Zahro Bersumpah Habaib Ba’alwi Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW

10 September 2026
147
Next Post

Resensi Kitab Al Fikrah Al Nahdliyyah Karya Ulama Muda Kharismatik, “KH. Imaduddin Utsman Al Bantani”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

by Admin
20 Oktober 2026
16

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Islam UIN Walisongo Semarang dan Pengasuh Pesantren As Shuffah Rembang) Fenomena self-love yang mengisi...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Self-Love Berbasis Kemanusiaan: Meretas Sakralisasi Dogma Muhibbin-Habib dan Menata Rasionalitas Cinta

Achmad Ubaedillah dan Hassan Wirayuda Raih Penghargaan Putra Terbaik Kabupaten Tangerang dalam Hubungan Internasional

Sejarah Hidup KH. Abdul Gani, Miliarder NU dari Banten

Lepas Jalan Sehat Sarungan Hari Santri Nasional 2026 di Pandeglang, Andra Soni Tegaskan Peran Strategis Santri bagi Banten

Biografi Abah KH. Junaidi, Sang Fakih dari Jati

Analisis Kunjungan Umar bin Hafidz Dalam Upaya Membentuk Persepsi Publik Sebagai Sosok yang Dianggap Mulia

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
72.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.8k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25