• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Nyai Saunah, Janda Kembang, Agen Residen Banten Th. 1958

Adalah KH. TB. Achmad Khatib yang diawal kemerdekaan Indonesia 1945 diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Residen Banten, punya ketajaman firasat dan kepekaan atas kondisi negara saat pergolakan DI/TII, sang residen pun telah memanggil perempuan cantik, Bunga Desa kampung Onjong, Ragas Masigit Carenang, meski statusnya janda muda. Perempuan ini bernama Nyai Saunah yang masih famili dengan KH. Fayumi Thowil, ulama besar yang tinggal di Astana Agung Carenang Serang putera dari KH. Arsyad Thowil, pahlawan Geger Cilegon 1888 M.

by Hamdan Suhaemi
7 Agustus 2021
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

Oleh: Kyai M. Hamdan Suhaemi

Umumnya terjadi pergolakan sosial dan perang itu selalu dipicu oleh benturan ideologis, disamping kehendak berkuasa dari individu untuk kemudian menghendaki kekuasaan mutlak digenggamnya. Kekuatan untuk berkuasa selalu menjadi dasar bagi para pemuja kekuasaan, sebagai sikap menghadirkan dirinya sebagai wakil Tuhan di bumi, meskipun harus dengan cara perang, dan mengorbankan nyawa manusia.

Ideologi tentu menjadi pijakan awal dalam kecenderungannya berkuasa, memaksa, bahkan menjajah manusia lainnya. Hampir semua ide dasar penjajahan itu pun berasal dari ideologi. Tesis terkait ini bahwa prinsip gospel, globe dan glory telah banyak menjiwai para penakluk dunia, seperti Marcopolo, Tom Pires, Vasco da Gamma, Amerigo Vespuci, Maghelain, Alfonso d’alburqueque dan Christoper Columbus. Generasi pertama murni penakluk wilayah. Kemudian disusul generasi saudagar importir dan eksportir yang tergabung dalam Kamar Dagang Belanda seperti VOC dan Kamar Dagang Inggris seperti EIC.

Menjauh dari pembicaraan tentang ide dasar penjajahan, tentu maksud tulisan ini adalah mau mengurai kesejarahan tokoh perempuan pejuang yang tidak tecatat dalam buku sejarah manapun, sebab perannya penghubung dalam upaya melawan pemberontakan DI/TII di wilayah Banten bagian Timur (Serang Timur dan Utara), pemberontakan DI/ TII itu terjadi didasari suatu keinginan diterapkannya hukum Islam atas negeri Indonesia ini, yang kebetulan negeri ini ditakdirkan Tuhan sebagai negeri yang majmuk, baik majmuk agamanya, adat istiadatnya, Budaya dan bahasanya.

Gerakan DI/TII di wilayah hukum Jawa Barat, dan Karesidenan Banten di era 1948-1962 menjadi jejak sejarah yang sangat kontras, Mohammad Natsir menyebut pemberontakan itu imbas dari keputusan Perjanjian Renville 17 Januari 1948, yang mengharuskan tentara Indonesia meninggalkan daerah-daerah yang dikuasai tentara Belanda secara de facto. Kartosoewirjo, seorang murid H.O.S. Cokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam (SI) yang punya milisi bersenjata menolak perjanjian tersebut. Baru kemudian pada 7 Agustus 1949 Darul Islam baru diproklamasikan secara resmi di Cisampak, Tasikmalaya. Bunyi proklamasinya “Kami umat Islam Indonesia menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia. Maka hukum yang berlaku atas Negara Islam Indonesia adalah hukum Islam”.

Selama 13 tahun, Kartosoewirjo bersama keluarga dan pengikutnya bergerilya di hutan melawan pemerintah Indonesia. Tanggal 4 Juni 1962, dia tertangkap bersama sejumlah pengawalnya di sebuah lembah antara Gunung Sangkar dan Gunung Geber, sekitar Bandung Selatan. sebelum dieksekusi mati pada 5 September 1962, Kartosoewirjo mengeluarkan wasiat. Salah satunya dia meyakini bahwa suatu waktu cita-citya negara Islam bakal terlaksana walaupun lawan menentangnya.

Berkaca pada era 1958 dimana situasi Banten Selatan dan Timur yang menjadi basis pergerakan orang-orang DI/TII tidak serta merta negara dan bangsa Indonesia tidak merasakan kondisi normal pasca keluarnya NICA dan setelah pengakuan kedaulatan atas Republik Indonesia, hasil keputusan Konferensi Meja Bundar ( KMB ) di Den Haag Belanda. Gejolak dalam negeri masih sering ditemukan di wilayah-wilayah terpencil dan terkucil yang sering dijadikan sebagai basis gerilya.

Dalam bentangan situasi tegang yang dipicu oleh massifikasi indoktrinasi Darul Islam atau doktrin tegaknya syariat Islam di hampir semua rakyat kecil yang awam atas itu. Dengan cara sembunyi-sembunyi itu terus terjadi dari 1948 hingga 1962, dan di tahun 1962 menjadi penanda berakhirnya DI/TII ketika Soekarmaji Marijan Kartosoewirjo dihukum tembak di tangan regu tembak TNI Kodam Siliwangi.

Pada masa dimana indoktrinasi Darul Islam yang digalakkan oleh kader dan simpatisan DI/TII di hampir wilayah terpencil di Jawa Barat dan wilayah terpencil karesidenan Banten sedikitnya tercapai. Banyak penduduk kampung yang ikut bergabung dalam gerakan DI/TII tersebut. Tidak kurang tokoh agama pun sering terkecoh oleh kampanye masif anggota dan simpatisan DI/ TII.

Adalah KH. TB. Achmad Khatib yang diawal kemerdekaan Indonesia 1945 diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Residen Banten, punya ketajaman firasat dan kepekaan atas kondisi negara saat pergolakan DI/TII, sang residen pun telah memanggil perempuan cantik, Bunga Desa kampung Onjong, Ragas Masigit Carenang, meski statusnya janda muda. Perempuan ini bernama Nyai Saunah yang masih famili dengan KH. Fayumi Thowil, ulama besar yang tinggal di Astana Agung Carenang Serang putera dari KH. Arsyad Thowil, pahlawan Geger Cilegon 1888 M.

Nyai Saunah ini adalah tipikal perempuan yang cantik, cerdas, gesit, dan lincah hingga KH. TB Achmad Khatib begitu percayanya untuk menugaskan kepadanya melawan dan memberantas gerombolan DI/TII di wilayah Serang Utara dan Timur.

Perempuan pemberani ini oleh KH. TB Achmad Khatib diberi seekor kuda jantan, yang tenar diberi nama Si Kobok, merujuk pada warna putih dan hitamnya kuda tersebut. Dengan fungsi alat transportasi yang cepat dalam memberikan informasi yang akurat terkait pergerakan DI/TII di wilayahnya. Dalam upaya pengiriman berita rahasia ( informasi intelejen ) dari Onjong ke Banten Lama di kediaman Kiai Achmad Khatib hampir selalu mengendarai kuda pemberian sang residen Banten tersebut.

Kemampuan inteljennya Nyai Saunah ini rupanya difungsikan oleh Kiai Tb. Achmad Khatib dalam upaya meredam dan memberangus pergerakan DI TII yang di tahun 1949 telah memproklamirkan berdirinya negara Islam atau darul Islam.

Jasanya cukup besar dalam upaya memberangus DI/TI yang dinyatakan sudah bertindak bughot atau memberontak terhadap negara Kesatuan Republik Indonesia. Jiwa patriot dan nasionalisme-nya tertanam kuat. Suatu yang aneh dan jarang ditemukan di perempuan lainnya dan ketika perempuan cantik bernama Nyai Saunah memiliki kapasitas akan itu.

Keikutsertaan dirinya dalam medan peperangan, dengan kontra atas pengakuan darul Islam yang dilakukan oleh anggota dan pimpinan DI/TII saat itu. Menarik perhatian kita bahwa perempuan yang hidup di kampung terpojok ini justru tampil sebagai manusia menyejarah.

Setelah usai dan memasuki masa normal di tahun 1960-an, Nyai Saunah menghembuskan nafas terakhirnya dan dimakamkan di kampung Onjong, Ragas Masigit Carenang dengan status janda kembang yang parasnya sangat cantik.

Serang 6-8-21
Wakil Ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Referensi :

  • Mimpi Darul Islam yang Tak Padam oleh P. Liberti Mapappa
  • Wawancara dengan Abah Saram, di Rumah Miftahudin, pukul 21.00 s.d 22.30 WIB

Tags: Nyai SaunahResiden BantenRMI Banten
ShareTweetShare
Previous Post

Resensi Kitab Al Fikrah Al Nahdliyyah Karya Ulama Muda Kharismatik, “KH. Imaduddin Utsman Al Bantani”

Next Post

Konsep Pendidikan Syekh Nawawi Al-Bantani

Related Posts

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

18 Juni 2026
46

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

3 Juni 2026
92

Menguji Statement “Jangan Generalisir Klan Habib Baalwi, Setiap Suku Ada Yang Baik dan Buruk”

31 Mei 2026
82

Menapak Tilas Hubungan Asli NU dan Rabithah Alawiyah

29 Mei 2026
167

Gema Takbir Iduladha di Pesantren Nahdlatul Ulum Kresek Banten Berlangsung Khidmat

28 Mei 2026
34

Implikasi Pernyataan Gus Yahya: “NU Tidak Boleh Ingkar Nasab Baalwi”

28 Mei 2026
91

Dr. Saleh Basyari: Tesis Kiai Imad Persempit Ruang Simtuddurar, Taufiq Assegaf, Majlis Salawat Syekh bin Abdul Qadir dan Lutfi bin Yahya

14 Mei 2026
137

Kandidat Doktor dari Inggris: Kiai Imad dan Presiden Prabowo Seperti Einstein dan Roosevelt

14 Mei 2026
67

Kisah Ali bin Abdurrahman al-Habsyi Kwitang Mendapat Bintang Salib Dari Penjajah Belanda

4 Mei 2026
287

Syekh Nawawai Tsani Dari Banten di Abad Modern

1 Mei 2026
248
Next Post

Konsep Pendidikan Syekh Nawawi Al-Bantani

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paling Banyak Dilihat

Opini

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

by Admin
18 Juni 2026
46

Oleh: Ubaidillah Tamam Munji (Dosen Filsafat Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang) Pemilihan judul pengantar ini, saya merasakan memikul...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

Metode Eliminasi dan Epistemologi Nasab: Pengantar dan Apresiasi atas Gagasan Dr. Sugeng Sugiharto

كتاب الروض الجلي في نسب بني علوي المنسوب للإمام مرتضى الزبيدي كتاب منحول مزيف

Kitab “Al-Raudh Al-Jali fi Nasab Bani Alawi” yang Dinasabkan kepada Imam Murtadha Al-Zabidi adalah Kitab Palsu dan Manhul

كتاب أبناء الإمام في مصر والشام الحسن والحسين كتاب مزور منحول

Kitab “Abna’ al-Imam fi Misr wa asy-Syam al-Hasan wal-Husain” adalah Kitab Palsu dan Manhul

Framework Melihat Imigran Yaman dan Amalan Habib Baalwi, Tudingan Operasi Intelijen hingga Kyai Ikhya dan Nabi Adam: Kelompok Kyai Imad Outlier!

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.2k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.4k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25