• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Santri Hikmah

Masih Relevankah Diskusi Kebangsaan Di Era Polemik Nasab

by Admin
8 Juli 2024
in Hikmah, Opini, Peristiwa, Pesantren, Tokoh
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Ahmad Suhadi

Teori pengenalan suatu ide gagasan masih relevankah ketika diskursus nasab sedang berlangsung?

Pertanyaan di atas tentu saling keterkaitan sesuai kemampuan dan kapasitas para penggerak untuk disampaikan kepada publik. Memang beberapa tahun ke belakang yang sering disorot terjadinya gunjang-ganjing hingga hampir terjadi polarisasi sesama anak bangsa adalah dari prilaku sekelompok orang dan individu tertentu yang notabene merupakan imigran Yaman yang mengklaim dirinya sebagai cucu Nabi Muhammad SAW.

Pengakuan sebagai cucu Nabi tidak berbanding lurus dengan akhlak dan prilaku sebagai bentuk pola dakwah yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak dalam membangun kerukunan. Namun sebaliknya ajaran yang disampaikan para oknum habib sebagai bentuk memecah belah umat Islam di Indonesia karena syarat dakwah yang bermuatan politik. Walaupun tidak semua habib dalam dakwahnya bermuatan caci-maki tapi yang baik dalam berdakwah terkesan ada pembiaran sehingga oknum habib yang senang caci-maki makin menjadi-jadi arogansinya.

Indonesia sebagai negara besar yang memiliki kekayaan alam dan suku bangsa serta bahasa yang beraneka warna, menjadi potensi terjadi perpecahan, bisa juga berpotensi majunya peradaban dan kemajuan jika dikelola secara baik dengan management konplik yang tepat dan terukur.

Menyoal polemik nasab akhir-akhir ini yang menyedot perhatian publik, sehingga apapun pemberitaan baik politik, kriminal, sosial keagamaan hingga serba-serbi infotainment, rasanya kurang menarik untuk disimak dan menjadi bahasan diruang media.

Media FB, WhatsApp, IG dan YouTube kesehariannya selalu menayangkan berita tentang kasus nasab klan Ba’Alwi, yang saat ini mungkin sudah rungkad karena bantahan yang mereka lakukan hanya praming dan ancaman semata-mata. Apalagi klaim sepihak yang dilakukan habib telah dibongkar habis oleh penelitian Kyai Imadudin Utsman al-Bantani dan kawan-kawan, yang diperkuat dengan ilmu pilologi, ilmu sejarah, ilmu genetik melalui pendekatan studi kasus. Tak bisa kita pungkiri dengan diskursus nasab ini pasti mendapat reaksi keras dari klan Ba’Alwi sendiri maupun dari para pendukungnya. Walaupun sampai saat ini Robithoh Alawiyah atau yang mewakilinya belum mampu membuat bantahan atas penelitian Kyai Imadudin Utsman tersebut.

Baca Juga

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

Mengenai diskusi-diskusi publik terkait konsesi tambang, kampanye toleransi, dan lain-lain, rasanya kurang menarik untuk dibahas. Kurang menariknya diskusi konsesi tambang, kasus kriminal, dan lain-lain semuanya sudah terserap dan bersenyawa oleh gerakan pemikiran, sekaligus aksi mencaounter munculnya kelompok-kelompok intoleran, yang selama ini bukan rahasia umum. Bahwa para aktor pembuat kerusuhan di negeri ini adalah orang-orang yang menisbatkan dirinya mengklaim sebagai cucu Nabi Muhammad SAW.

Misalnya saja Rizik Shihab dan Bahar Smith, mereka adalah aktor pelaku ramainya opini publik atas gunjang-ganjingnya negeri di era saat ini. Terlebih lagi mereka berdua adalah representasi para pembangkang dalam dakwah mengenalkan Islam yang ramah, malahan ajaran yang mereka gaungkan adalah mengajak untuk membenci pemerintah, mencaci maki NU dan kyai NU, menghina orang yang tidak sependapat dengannya.

Dengan penghinaan terhadap Gusdur yang dikatakan “Gusdur Buta Mata Buta Hati” juga penghinaan terhadap presiden RI yang sah yaitu Jokowi Dodo yang disebutnya “Presiden banci, Jokowi Jokodok” bahkan penghinaan tesebut menyasar kepada Kiai Ma’ruf Amin, dibilangnya “Mar’uf Amin Ba….i”.

Sikap dan ucapan mereka yang membuat muak masyarakat waras, dan adanya semangat membangun karakter bangsa yang beradab. Rasanya ucapan dan sikap para habib untuk tidak diikuti menjadi perlawanan seluruh anak bangsa yang masih sehat dan waras.

Dengan munculnya Kiai Imadudin dalam meneliti nasab habib Ba’Alwi, adalah sebagai pemantik gerakan moral sekaligus gerakan kebangsaan, agar bangsa dan negara lebih punya harga diri dimata dunia Islam khususnya, dan sebagai pembangkit gerakan peradaban di masa depan.

Kita sudah maklumi bersama, setiap ide gagasan untuk pembangunan baik yang dilakukan pemerintah, maupun gerakan pemikiran ormas Keagamaan seperti NU, Muhammadiyah atau stakeholder lainnya yang menjadi penghambat, tak lain adalah dari kelompok habib klan Ba’Alwi, karena mereka tidak bisa membedakan mana kritik dan mana caci-maki.

Kita tidak perlu risau dan aneh, kalau mereka para pengacau selalu membuat narasi preming playvictim, dan bahkan mereka mampu membuat bias sesuatu yang sudah pasti dan matang. Definisi selalu dibuat oleh mereka sendiri, dan sangat wajar jika menurut mereka benar padahal salah, menurut mereka batil padahal hak, menurut mereka haq padahal bathil. Itulah Dajjal! yang mana semua nabi pasti mengingatkan bahayanya dajjal, karena Dajjal mengajak kepada kepalsuan.

ShareTweetShare
Previous Post

Kartun Doraemon: Imaginasi Klan Ba’Alwi Saat Ini

Next Post

Syaikh Yusuf An-Nabhani Mengitsbat Ba’Alwi Berbasis Subjektifitas Tanpa Data Dan Dalil

Related Posts

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

17 Agustus 2026
36

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

13 Agustus 2026
60

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

12 Agustus 2026
43

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

2 Agustus 2026
318

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

2 Agustus 2026
70

PASCA THESIS, Menyelamatkan Akal Sehat: Mengapa Agama Tidak Boleh Dijadikan Alat Pembodohan

20 Juli 2026
87

K.H. Imaduddin Utsman Al-Bantani Haramkan Putri Indonesia Dinikahkan dengan Laki-Laki Habaib

16 Juli 2026
170

Syekh Muhammad Syarif Al-Shawwaf, Nasab Palsu Membela Nasab Palsu

16 Juli 2026
297

Elegi Garis Nasab: Antara yang Hakiki dan yang Imitasi (Y DNA Nabi Ibrahim Versi Rumail Abbas)

6 Juli 2026
193

Emha Ainun Najib: Nasab dan Harga Diri Bangsa dan Kesadaran Bernegara

29 Juni 2026
147
Next Post

Syaikh Yusuf An-Nabhani Mengitsbat Ba'Alwi Berbasis Subjektifitas Tanpa Data Dan Dalil

Paling Banyak Dilihat

Opini

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

by Admin
17 Agustus 2026
36

​Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 memperlihatkan pergeseran peta kekuatan yang amat dinamis. Di balik layar, pertarungan tidak...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

Salah Satu Ulama Khos Banten, K.H. Junaidi bin Tsamar Meninggal Dunia

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.7k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.1k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.6k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25