• Tentang Kami
    • Pengurus
  • Kontak
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel
No Result
View All Result
RMI PWNU Banten
No Result
View All Result
Home Opini

Mengenal Tokoh Utama Akar Geneologis NU Banten

by Admin
22 Agustus 2025
in Opini
3 min read
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kehadiran NU sesungguhnya membendung arus pemikiran politik keagaamaan dan politik dunia Islam kala itu. Pada tahun 1924 di Arab Saudi sedang terjadi arus pembaharuan. oleh Syarif Husein, Raja Hijaz (Makkah) yang berpaham Sunni ditaklukan oleh Abdul Aziz bin Saud yang beraliran Wahabi. Pembaharuan ala Wahabi ini kemudian berekspansi kenusantara, dan pada akhirnya bersentuhan dengan pemahaman islam yang berkembang mengakar di Nusantara yaitu pemahaman islam sunni Asyariah-Maturidiyah dalam aqidah, bidang fiqh mengakomodir 4 mazhab mut’abar, dan terakhir bertasauf menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaidi.

Pemahaman ala Wahabi di Indoensia disambut oleh kelompok yang mendaulat dirinya sebagai kaum modernis. Dari itu kelompok ini menuduh dan mencibier kelompok santri sebagai kelompok Islam tradisionalis sealigus ortodok, bahkan Deliar Nur menyebut kaum tradisionalis identik dengan tahlil, tahayul dan kuburan.

Dari gencarnya serangan terhadap tradisi keislaman tradisional tersebut, santri-santri Syeikh Nawawi al-Bantani yang diemong langsung oleh Syeikh Nawawi kala di Mekah, dan Kembali ke Nusantara, mereka menghimpun dalam halaqah besar segenap santri alumni tersebut untuk membahas hal urgent diantaranya bermusyawarah bagaimana mengokohkan tradisi kitab kuning (klasik) khususnya, dan kitab – kitab ahlus sunnah wal jamaah pada umumnya. Disamping tradisi keislaman yang berbaur dengan budaya local yang tak bertentangan dengan ushuluddin.

Pada saat itu dari Banten turut hadir antara lain kiyai mas Abdurrahman yang mewakili jamaah Mat ‘laul Anwar. KH. Mas Abdurrahman adalah putra kiyai Mas Djamal al – Djanakawi yang lahir pada tahun 1868 M di kampung Janaka, tepatnya di lereng Gunung Haseupan Pandeglang Banten. Ayahnya K. Mas Djamal al – Djanakawi adalah keturunan Mas Jong dan Agus Ju yang pergi meninggalkan istana menuju lereng gunung Haseupan dalam rangka bergerilya menyusun kekuatan melawan penjajah Belanda.

Kiyai Mas Abdurrahman pernah berguru kepada KH. Sahib di kampung Kadu pinang, KH. Ma ‘mun Serang, Syeikh Asnawi Caringin, syeikh Nawawi al – Bantani dan Syeikh Ahmad Khatib al – Minangkabawi. Ia kembali dari Makkah pada tahun 1910 M. Kiyai Mas Abdurrahman adalah teman seangkatan Syeikh Hasyim Asy’ ari Tebu ireng Jawa Timur, sesama murid syeikh Nawawi Albantani.

Baca Juga

Mendiagnosa NU

Kiai Imad Menerima Titipan Mushaf Al-Qur’an Era Kekaisaran Utsmaniyah dari Gus Hakam Tambakberas

Peluk Sayang Untuk Gus Yahya dan Nahdliyin Kultural: Muktamar 35 Jombang

Istana dan Bisyarah: Dinamika Kepemimpinan K.H. Miftahul Akhyar dan Gus Yahya Jelang Muktamar Ke-35

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

Musyawarah tersebut memutuskan diantaranya sebagai berikut, membentuk dan mendirikan Jami’ ah Nahdlatul Ulama (NU), dan bagi yang sudah memiliki nama lembaga ditambahkan linahdlotil ulama, atau Jami ‘ah Nahdlatul Ulama, seperti Jauharotun Naqiyah di Cibeber, al – khaeriyah Citangkil, dan Nurul Falah di Petir.
Pembentukan NU dan penambahan Nama Math’ ul Anwar linahdlotil ulama dipertanggungjawabkan kepada HB (hoofd Bistir/pengurus Besar) Mat’laul Anwar di Menes.

Di antara ulama Mat ‘laul Anwar saat itu adalah KH. Saiman (Sulaiman) Cibinglu Menes, KH. Ma’ mun Labuan, KH. Muniran Munjul, KH. Abbas Cibaliung, KH. Habri bin KH. Abdurrahman Bahrul Ulum, KH. Ali Husen Mandalawangi, KH. Rd. Sugiri Mandalawangi, KH. Med dan KH Ghozali Petir, dan KH. Halimi Ciherang.

Pada muktamar NU di Malang ke 12 tahun 1937, KH. E. Muhammad Yasin yang diteruskan menantunya, KH. Tb. M. Rusydi bin KH. Tb. Arsyad di tunjuk untuk menyelenggarakan muktamar NU ke 13 tahun 1938 di Menes.

Pada saat NU melaksanakan muktamar di Palembang pada tahun 1952 tiga tokoh ulama Banten yang hadir KH. Amin Djasuta serang, KH. Ayip Muhammad Dzuhri(menantu KH. Tb Ahmad Khotib), dan KH. Uwes Abu Bakar yang saat itu juga menjabat ketua NU Banten.

Salah satu keputusan muktamar Palembang diantaranya NU menyatakan keluar dari Masyumi. Semua utusan Banten menerima dan menyetujuinya kecuali KH. Amin Jasuta yang menolak dan akhirnya ia pindah ke Jami ‘atul Wasliyah yang berpusat di Kota Medan.

Namun, pada perkembangannya KH. Uwes Abu bakar menghapus Linahdlotil Ulama, meskipun demikian para ulama Menes setelah Bahrul Ulum yaitu KH. M. Abdul Latief Nanggorak Menes dan Alumni Al-Azhar KH. Zunaedi bin KH. E. Muhammad Yasin tetap meneruskan Mat ‘laul Anwar linahdlotil Ulama dengan dukungan para ulama dan kiyai tidak kurang dari 80 %.

Sejak saat itu, KH. Uyeh Balukiya Syuja’ I melanjutkan Mat ‘laul Anwar terlepas dari NU. Sedangkan KH. Abdul Latief dan KH. M. Junaedi bin KH. E. Muhammad Yasin melanjutkan Mat’laul Anwar linahdlotil Ulama dengan mengangkat Rais’ Am KH. Tb. Abdul Mu’thi dan KH. Ihya (perintis kemerdekaan yang pernah dibuang ke Digul bersama KH. Tb. Ahmad Khotib).

Para ulama inilah yang terus menyambungkan dan menghubungkan dengan jejaring ulama dan sanad keilmuan aswaja serta menjaga silaturahmi dengan ulama – ulama santri syeikh Nawawi Albantani dan penerusnya khusus di Banten, seperti Abuya Dimyati.
(sumber referensi Masterpiece Islam Nusantara sanad dan Jejaring Ulama – Santri 1830 – 1945).

Oleh: Akhmad Basuni
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah GP. Ansor Prov. Banten

ShareTweetShare
Previous Post

NU Banten, Sejarah dan Geliat Pertumbuhannya

Next Post

Gelar Bahtsul Masail Nasab Ba Alwi LBM PCNU Batam Tidak Standar Ulama LBM

Related Posts

Mendiagnosa NU

4 September 2026
15

Kiai Imad Menerima Titipan Mushaf Al-Qur’an Era Kekaisaran Utsmaniyah dari Gus Hakam Tambakberas

29 Agustus 2026
144

Peluk Sayang Untuk Gus Yahya dan Nahdliyin Kultural: Muktamar 35 Jombang

28 Agustus 2026
307

Istana dan Bisyarah: Dinamika Kepemimpinan K.H. Miftahul Akhyar dan Gus Yahya Jelang Muktamar Ke-35

25 Agustus 2026
52

Maa Adrakamal Ulama: Menjaga Kualitas “Nisbat” Kiai dan Pengurus di Tengah Zaman Fitnah[1]

19 Agustus 2026
81

GUS KIKIN MONCER, PROF NAZAR TERJEGAL GERAKAN PENGARUS-UTAMAAN SANAD LOKAL

17 Agustus 2026
101

Problem Linguistik Gelar Habib dan Tawaran Solusinya

13 Agustus 2026
128

Tantangan Muktamar NU ke-35: Masukan dan Harapan Untuk Ketua PWNU dan PCNU

12 Agustus 2026
53

Kitab Kiai Imad, Qami’ al-Masawi, Jawab Tuntas Kitab Mbah Ryan Kudus Yang Bela Ba’alwi, Al-Khulashah al-Nafisah

2 Agustus 2026
387

Kesadaran Merata Pribumi atas Eksistensi Habaib di Indonesia

2 Agustus 2026
92
Next Post

Gelar Bahtsul Masail Nasab Ba Alwi LBM PCNU Batam Tidak Standar Ulama LBM

Paling Banyak Dilihat

KH Imaduddin al Bantani

RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

by Admin
4 September 2026
337

Rumail Abbas, membuat gebrakan baru. Kali ini ia bersedia berdusta untuk membela pemalsu nasab Nabi yaitu kaum Ba’alwi. Tidak tanggung-tanggung,...

Read more
Load More
  • All
  • Berita
  • Opini
  • Pustaka
  • Santri
  • Ulama
  • Pesantren

RUMAIL KEMBALI BERDUSTA: TIDAK TAKUT BEDOSA BERBOHONG ATAS NAMA KETURUNAN NABI MUHAMMAD SAW YANG ASLI

Mendiagnosa NU

Studi Genetik di Irak Ungkap Hasil Mengejutkan Terkait Klaim Silsilah Keturunan Nabi

Pesantren Nahdlatul Ulum Banten menjawab Pesantren Al-Anwar Sarang Tentang Tes Y-DNA Terkait Batalnya Nasab Habaib Ba’alwi

Tiga Juta Liter Air Mineral Disumbangkan PWI-LS Untuk Muktamar NU ke-35

Kiai Imad Menerima Titipan Mushaf Al-Qur’an Era Kekaisaran Utsmaniyah dari Gus Hakam Tambakberas

Load More

Baca Juga

Nasab Ba Alawi Tidak Masuk Akal

by Admin
20 Juli 2023
71.8k

Menjawab Ludfi Rochman Tentang Terputusnya Nasab Habib

by Admin
9 April 2023
52.2k

Seputar Penelitian Ilmiah KH. Imaduddin Utsman Tentang Nasab Habib (1)

by Admin
26 April 2023
37.6k

  • Opini
  • Berita
  • Pustaka
  • Ulama
  • Santri
  • Pesantren
Follow Us

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Opini
  • Ulama
    • Fiqih
      • KH Imaduddin al Bantani
    • Karomah
    • Kisah
  • Biografi
  • Pesantren
    • Santri
      • Hikmah
      • Syair
      • Humor
    • Pustaka
      • Kitab
      • Karya Sastra
      • Manuskrip
      • Download
  • Web RMI
    • RMI PBNU
    • RMI PWNU DKI
    • RMI PWNU Banten
    • RMI PWNU Jatim
    • RMI PWNU Sumsel

©2021 RMI PWNU Banten | rminubanten.or.id.

Welcome Back!

OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

OR

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

Depo 25 Bonus 25