Oleh : Hamdan Suhaemi
Sejarah Karakter
Catatan sejarah perkembangan NU di wilayah Banten masih minim data, sulit didapati meski dari perpustakaan ataupun kantor arsip. Bisa jadi tiap kronologi kesejarahannya cendrung oral ( pitutur) bukan literal ( tulisan), dari kondisi itu banyak yang tidak diketahui bagaimana perkembangan NU di wilayah Banten.
Analisa sementara karena karakter beragamanya Banten itu lugas dan tegas, tidak butuh pengakuan dan pembuktian, apalagi ingin tercatatkan, bisa jadi hal itu memang karakter umum orang Banten yang diwarisi dari para sultannya.
Orang Banten dan Aceh cendrung kaku dan tegas dalam penerapan hukum agama, tidak ingin dicampur adukan dengan urusan lainnya, concern sikap agamis yang ketat ini yang mendasari tidak menyukai organisasi perkumpulan atas nama agama, sebab dianggap menganggu aktivitas spiritualnya yang kebanyakan berbasis tarekat.
Watak Banten itu egalitarian dan pluralistik karena diajarkan oleh watak para leluhurnya seperti itu. Sejak dulu di era Kesultanan Banten sudah terbiasa berinteraksi dengan komunitas warga dunia, baik dari Eropa maupun dari Asia dengan tidak menaruh kecurigaan sedikitpun kepada para pendatang.
Menurut sejarawan Hindia-Belanda J.A van der Chijs dalam Oud Bantam bahwa ada relasi pada kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tidak hanya dengan kesultanan di sekitar Nusantara, tetapi juga dengan Kesultanan Turki Utsmani, Kerajaan Inggris, Perancis, Denmark, dan Kekaisaran Mongol. Sehingga kesultanan ini juga mendapat bantuan perangkat militer seperti senjata api dan meriam.
Muktamar NU 1938
Sumbu awal pertumbuhan NU di Banten itu diawali dari keterlibatan KH. Mas Abdurahman Janake dan KH. Abdul Latief Cibeber dan Kiai lainnya dalam kepengurusan NU di tahun 1928 dan Menes adalah titik awal harakah, sekaligus fajar baru NU di Banten.
Muktamar NU di Menes itu paling unik dan istimewa. Unik karena tradisionalitas dan terbangunnya relasi dengan asisten residen yang mewakili pemerintah Kolonial Belanda, padahal pada 1926 di daerah tersebut telah terjadi pemberontakan SI Merah, itu artinya pihak kolonial masih traumatik. Namun panitia muktamar yang ke 13 ini sanggup meyakinkan pemerintah kolonial, hingga pihak kolonial meminjamkan meriam-meriam dari markas militer Belanda yang ada di kantor assisten residen tersebut.
Istimewanya muktamar NU di Menes itu terbentuknya kristalisasi antara kegigihan, kebersamaan, dan semangat perlawanan. Inspirasi dari dua wanita yang pemberani yang menyeruak di barisan muktamarin, yaitu Nyai Siti Sarah Menes dan Nyai Junaesih dari Pasundan.
Berita Nahdlatoel Oelama No 6 tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941 telah mendeskripsikan situasi dan kondisi muktamar NU yang ke 13 di Menes. Puluhan meriam yang dipinjam itu diberitakan suaranya menggelegar, hingga orang yang dengar suara dentuman tersebut langsung tiarap, dikira perang terjadi. Padahal meriam itu untuk penanda muktamar NU yang ke-13 telah dibuka meski saat itu Rois Akbar Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari berhalangan hadir dan mewakilkan KH. Wahab Chasbullah.
Laskar Hizbulloh
Dalam buku Jawa Haqqu Kyai ( hlm. 176-177 ), Erwin Kusuma menceritakan bahwa asbabu nuzul terbentuknya Laskar Hizbulloh itu adalah atas permintaan PM Jepang Koiso Kuniaki yang diterima oleh Gunseiken di Jakarta.
Permintaan akan serdadu pendamping atau Heiho dari Gunseiken disampaikan oleh Abdul Hamid Ono ke KH. Wahid Hasyim ( Ketua muda Masyumi) melalui ucapan Saiko Sikikan yang bermarkas di Gunseiken.
Serdadu pendamping ini adalah kebutuhan tambahan personil tentara selain tentara Peta dalam menghadapi kekuatan Sekutu pimpinan Amerika Serikat. Kebutuhan cadangan itu akibat semakin terdesaknya Jepang yang mulai menyingkir dari wilayah Pasifik.
Ketika KH. Wahid Hasyim mengkoordinasikan itu semua dengan ayahnya yakni Hadrotusyaikh KH. Hasyim Asy’ari selalu Ketua Besar Masyumi, beliau memilih untuk tidak mengikuti kemauan Jepang, melainkan Hadrotusyaikh ingin menyiapkan para pemuda untuk terdidik militer dengan nama yang beliau usulkan yaitu Laskar Hizbulloh.
Masih tahun yang sama 1944 dan sudah terbentuknya Laskar Hizbulloh, ada seorang santri Tebuireng yang diminta pulang Hadrotusyaikh ke kampung halamannya di Petir Serang, agar sesegera membentuk Laskar Hizbulloh untuk wilayah Banten, santri itu bernama Abdul Kabir.
Mandat dari Ketua Besar Masyumi ( KH. Hasyim Asy’ari) yang juga gurunya itu dilanjutkan untuk membentuk barisan Laskar Hizbulloh di wilayah Banten, dari Pemuda Abdul Kabir itulah dalam waktu cepat membentuk Laskar Hizbulloh wilayah Banten.
Hebatnya Laskar Hizbulloh di berbagai daerah dipimipin oleh Kiai atau putera kiai, tidak terkecuali di wilayah Banten, untuk komandan Laskar Hizbulloh daerah Serang diamanatkan pada KH. Syam’un, sedangkan tingkat karesidenan dipimpin oleh Kiai Abdul Kabir.
NU Banten Pasca Merdeka
Muktamar NU ke-19 di Palembang pada tahun 1952 memiliki catatan sejarah penting. Pada muktamar ini, NU memutuskan untuk keluar dari Masyumi dan menjadi partai politik sendiri. Keputusan ini menjadi tonggak sejarah dalam perkembangan NU.
Delegasi NU Banten yang dipimpin oleh KH. Uwes Abu Bakar dan KH. Amin Jasuta, di muktamar 1952 itu kemudian mufaroqoh, akibat penolakan KH. Amin Jasuta terhadap keputusan muktamar di Palembang yaitu NU keluar dari Masyumi. Tokoh-tokoh di atas menginginkan agar NU tetap ada dalam Masyumi.
NU Banten era transisi dari orde lama dan orde baru tersebut diteruskan oleh KH. Abdul Kabir, pengasuh pesantren di Kubang Petir,
bersama KH. Tubagus Sholeh Makmun, seorang ulama Banten yang juga memiliki peran penting dalam NU sebagai pendiri Pondok Pesantren Al-Qur’an di Lontar, Serang.
Disamping kedua tokoh besar itu ada Kiai masih muda dan enerjik, masyhur namanya karena ia didaulat oleh Presiden Soekarno untuk menggantikan KH. Abdullah Syafi’i Betawi untuk ceramah Nuzulul Quran di Istana Cipanas, karena izin udzur. Kiai muda yang dimaksud adalah KH. Tb. Ma’ani Rusydi.
NU Banten Era Orde Baru
Dekade 1970 hingga 1980-an, Harokah NU di Banten diteruskan oleh perjuangan para kiai antara lain KH. Abdul Kabir Petir, KH. Tb. Ma’ani Rusydi Menes, KH. Amin Koper, KH. Syanwani Sampang, KH. Lujaen Pelamunan, KH. Tb. Hasuri Thoir, KH. Bahren Pejaten, KH. Dimyathi Cidahu, KH. Bustomi Cisantri, KH. Sanja Kadukaweng, KH. Tb. Anis Fuad Kaloran, KH. Halimi Keronjo, KH. Muhammad Thowil Jawilan, H. Abdul Ghani Kresek dan kiai-kiai lainnya yang termasuk muharrik NU di seluruh Banten.
Pada kurun 1990 hingga 2000, NU Banten diteruskan oleh para kiai seperti KH. Baejuri Rangkasbitung, KH. Fuad Halimi Kaduronyok, KH. Amin Sobri Padrincang, KH. Salman Alfarisi Jawilan, KH. Markawi Sidayu, KH. Suhaemi Bolang, KH. Dimyathi Salahaur, KH. Amin Syatibi Pondok Aren, KH. Suhaemi ( Ki Eces), KH. Tb. Abdul Hakim, KH. Humaedi Endol, KH. Mufti Asnawi Cakung, KH. Marsyad Singarajan, KH. Nabhani Pasar Dukuh, KH. Afifi Domas, KH. Muhtadi Cidahu dan beberapa Kiai lainnya yang termasuk muharrik NU di seluruh daerah Banten.
NU Banten Era Milenial
Seiring zaman yang dinamis, begitu pun pasca Banten menjadi provinsi yang ke 30, hingga sekarang memasuki era millenium ketiga, tentu tantangannya jauh lebih complicated. Seperti halnya perubahan mindset bangsa yang tidak lagi statis tetapi dinamis, tidak lagi menunggu bola tetapi menjemput bola, tidak lagi individual tetapi kolektif kolegial, tidak lagi one man show tetapi kebersamaan, tidak lagi otoritatif tetapi deliberatif, tidak lagi sendiri sendiri tapi koheren.
NU Banten dibawah kepemimpinan KH. Hafis Gunawan, KH. Syatibi Hambali, KH. Husnul Aqib, H. Ahmad Nuri mulai meneguhkan sikapnya membawa NU sebagai organisasi kemasyarakatan yang disenangi umat, peduli umat, membawa kemajuan, istiqomah menjaga aqidah Islam ahli sunnah wal Jamaah, dan konsisten pada konsensus Pancasila dan NKRI.
Serang 17 Agustus 2025