Oleh : Hamdan Suhaemi
Tinjauan Akar
Bangsa Indonesia telah melewati semua fase zamannya, sejak pra sejarah hingga era sejarah, sejak awal sebelum masehi hingga milenium ketiga ini, nenek moyang kita telah meninggalkan jejak peradabannya, lengkap dengan falsafah, bahasa, adat istiadat, dan kebudayaannya. Gambaran corak heterogenitas yang dikuatkan oleh kesamaan nasib, kesamaan cita-cita, kesamaan tekad.
Indonesia negeri yang diapit oleh dua benua Asia dan Australia, berada dalam garis khatulistiwa, negeri yang beribu-ribu pulau, penduduk yang bersuku-suku, berbahasa yang berbeda beda, dikaruniai kekayaan alam yang sangat melimpah, keindahan alamnya membuat decak kagum bangsa-bangsa di seluruh dunia, bagai hamparan surga kecil di dunia.
Berbagai nilai inklusivitas, persatuan, serta gotong royong yang terkandung di dalamnya, membentuk sebuah sistem nilai yang hingga kini mampu merefleksikan nilai-nilai luhur bangsa.
Indonesia bukan sekadar nama. Ada kenangan, cinta dan luka di sana. Ada tempat bertualang dan tempat pulang. Ada saya dan kau yang mencoba memperbaiki, dengan cara kita yang sederhana dan tak kenal lelah.
Pancasila itu Philosophische Grondslag
Bung Karno dalam pidatonya yang disampaikan pada 1 Juni 1945 mengatakan bahwa ” philosophische grondslag adalah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi”.
Adapun, filosofi Indonesia tersusun dari asas-asas kultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu sendiri, tidak ada pendatang di Indonesia, melainkan yang ada adalah bangsa Indonesia itu sendiri. Nilai-nilai kenegaraan dan kemasyarakatan yang terkandung dalam Pancasila itu bukan hanya hasil konseptual seseorang saja, melainkan hasil konsensus dari seluruh anak bangsa yang dihasilkan dari nilai-nilai kulturalnya.
Dalil Pancasila
Meski Pancasila dianggap thogut oleh sebagian kecil anak bangsa yang berafiliasi dengan organisasi khilafah, tetap saja di dalam Pancasila ada roh yang menguatkannya, apa itu ? Suatu dalil yang berlandaskan Al-Qur’an. Bahwa di setiap sila Pancasila terdapat prinsip Al-Qur’an. Ada korelasi ayat dan sila -sila dalam Pancasila.
Maka tidak benar, Pancasila harus diganti karena tidak sesuai ajaran Islam. Justru ajaran Islam yang memprinsipi di setiap sila dalam Pancasila. Itu artinya Pancasila dasar negara Republik Indonesia bukan suatu kesalahan, tetapi sebuah konsep agung yang lahir dari pribadi-pribadi mulia para pendiri bangsa dengan tidak meninggalkan ajaran agamanya.
Sila Pertama
Ketuhanan yang maha esa. Ada korelasi dengan ayat Al-Qur’an di bawah ini, yaitu surat al-Ikhlas.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدَ لمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Artinya: Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (QS.al-Ikhlas:1-4).
Sila kedua
Kemanusiaan yang adil dan beradab. Terdapat ayat yang ada hubungannya dalam sila ini, yaitu.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.al-Hujurat:13).
Sila ketiga
Persatuan Indonesia. Pahami ayat di dalam Al-Qur’an yang anjurkan persatuan, yakni.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. (QS Ali Imran:103)
Sila Keempat
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Terdapat ayat Al-Qur’an yang ada korelasi dengan sila ke empat ini.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. “ (QS.al-Imran:159).
Sila Kelima
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam sila ini ada korelasi ayat Al-Qur’an dengan maksud dan tujuan terwujudnya keadilan yang menyeluruh.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, membuatmu berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Q.S al-Maidah, ayat 8 ).
Kesetiaan atas Pancasila
Dari teks-teks ayat di atas tentu balaghahnya jelas, ini yang oleh para ulama kita dulu taslim atas keputusan bersama ( konsensus nasional), karena mengingkarinya adalah tindakan penghianatan. Ajaran Islam sangat melarang keras untuk berkhianat, bahkan memerintahkan taat, melarang membangkang, dan menganjurkan cinta tanah air.
Mari kita pahami ayat di bawah ini.
إِنَّ الَّذِي فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لَرَادُّكَ إِلَى مَعَادٍ
Artinya: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali.” (QS. Al Qashash: 85).
Ayat yang menjadi dalil cinta tanah air menurut ulama yaitu Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat 66.
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم
Artinya: “Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘perangilah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka” (QS. An-Nisa’: 66).
Kita pahami juga penjelasan dari Syaikh Wahbah Al-Zuhaily dalam tafsirnya al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj terkait ayat yang di atas sebagai dalil cinta tanah air, yaitu.
وفي قوله: (أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ) إِيْمَاءٌ إِلىَ حُبِّ الوَطَنِ وتَعَلُّقِ النَّاسِ بِهِ، وَجَعَلَه قَرِيْنَ قَتْلِ النَّفْسِ، وَصُعُوْبَةِ الهِجْرَةِ مِنَ الأوْطَانِ.
Artinya: “Di dalam firman-Nya, terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.” ( al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, Juz 5, hal. 144).
Akhir Kalimat
Korelasi Pancasila dengan beberapa ayat dari al-Quran itu tidak boleh dianggap ringan, hanya sebatas dituduh thogut, tetapi Pancasila adalah perwujudan dari beberapa ayat, hingga setiap sila-nya tidak keluar dari ajaran Islam.
Serang 1 Juni 2025
Ketua FKUB Serang
Idaroh Wustho Jatman Banten
Sekretaris Komisi HAUB MUI Banten