Oleh: Hamdan Suhaemi
Sekalipun dikatakan cerdas memahami kitabnya bahkan mampu menarasikan dengan lugas dan mudah dicerna, tetapi jika ada pernyataan yang tidak tepat disampaikan di ruang publik harusnya disadari, mengingat bicara agama paling sensitif. Tidak semua luas pemikirannya, begtu pula pengetahuannya, jika sudah bicara agama pasti direspon emosional.
Elia Myron punya hak bicara apa saja tentang Kekristenan, bahkan berhak mewartakan kepada siapapun, tetapi menyinggung, menyenggol atau membicarakan keyakinan luar dirinya tentu akan memancing yang punya keyakinan tersebut untuk meresponnya. Sekali lagi jika yang disulut itu soal keyakinan, akan menimbulkan kegaduhan dan bisa jadi konflik agama yang meluas.
Pernyataan Elia Myron dan Pendeta Esra ketika membahas Yohanes 15:26 di salah satu diskusinya bahwa kita muslim dianggap memperkosa injil agar mengakui roh kebenaran itu maksudnya Nabi Muhammad. Faktanya orang Islam termasuk saya tidak pernah mengais-ngais atau memperkosa paham roh kebenaran itu adalah Nabi Muhamad, kenapa kami menolak tuduhan itu, karena umat Islam tidak pernah pegang pegang Injil atau Taurat, apalagi memaksa paham roh kebenaran dalam Yohanes 15:26 tersebut.
Kalau yang dimaksud Syaikh Ahmad Deedat atau Zakir Naik melakukan apa yang dituduhkan tersebut ketika bicara roh kebenaran itu Nabi Muhammad, tentunya jangan menuduh semua muslim. Kita muslim tidak pernah bicara soal keyakinan orang lain, karena muslim diajarkan ” Lakum diinukum wa liya din ” artinya harus menghargai keyakinan orang lain.
Ucapan “memperkosa” Injil dari mulut Elia Myron ini bagi saya adalah potensi konflik dan menggangu kerukunan umat beragama. Secara teologis tidak akan pernah dalam satu titik temu, jangan kan beda agama dalam satu agama saja sudah ikhtilaf, karena bicara agama bicara paham, bicara keyakinan.
Saran saya bicara saja soal keyakinan Elia Myron sendiri, tidak perlu menyinggung keyakinan orang lain, lebih lebih Islam yang diyakini sebagian besar bangsa ini. Bicara Muhammad S.a.w dalam perspektif Kristen pasti akan berbeda dengan perspektif Islam. Maka untuk tidak terjadi pontensi kemarahan umat IsIam, sebaiknya tidak perlu membahas keyakinan di luar agama yang diyakini Elia Myron tersebut.
Sekali lagi saran saya jaga kerukunan umat, dengan tidak menyinggung nyinggung keyakinan orang lain, karena kita muslim tidak pernah menggangu keyakinan Elia Myron ini. Kalau mau, ajak podcast mubaligh muslim untuk menjelaskan soal Nabi Muhammad S.a.w, jangan seperti katak dalam tempurung. Ngoceh tapi takut didiskusikan.
Lihat Lukas 6:20-23 pada pasal 5-7 Khotbah di Bukit ” Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang “.
Karena itu Elia Myron harusnya menjadi garam dunia, memberi warna pemahaman dan manfaat atas jemaatnya sendiri dan tidak perlu membahas teologi Islam karena bukan wilayah keyakinan dan pengetahuannya.
Serang 2 Juni 2025